Jurnalis dan pemangku kepentingan media mendiskusikan pentingnya meningkatkan kualitas pendidikan di Waingapu

Setelah penandatanganan MoU dengan Nusa Tenggara Timur pada bulan November 2017, Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) telah memulai pelaksanaan program di empat kabupaten di Pulau Sumba – termasuk Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan rintisan, INOVASI menempatkan berbagi pengalaman dan pembahasan sebagai inti kegiatan program. Pemangku kepentingan media lokal memainkan peran kunci dalam membantu menyebarkan praktik dan pembelajaran pendidikan yang menjanjikan yang dilakukan oleh guru di tingkat kelas.

Pada tanggal 20-21 Februari 2018, para jurnalis dan staf hubungan masyarakat dari seluruh kabupaten di Pulau Sumba dan media tingkat provinsi dan pemerintah di Kupang, berkumpul di Lokakarya Keterlibatan Media INOVASI. Diadakan di Hotel Padadita di Waingapu, Sumba Timur, lokakarya ini bertujuan untuk memperkuat hubungan dengan perwakilan media lokal dan pemerintah. Selain itu, peserta lokakarya diperkenalkan secara lebih mendalam mengenai pendekatan INOVASI yang khas yaitu ‘Problem Driven Iterative Adaptation’ (PDIA) dan mengetahui lebih banyak tentang kegiatan dan program rintisan INOVASI di tahun 2018.

Lokakarya ini dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Sumba Timur, Yusuf Waluwanja, serta Manajer Komunikasi INOVASI Stephanie Carter.

“Dari penelitian yang dilakukan oleh program INOVASI di seluruh kabupaten kita, ada banyak hal yang berkontribusi terhadap rendahnya hasil dan kualitas pendidikan, termasuk anak-anak yang tinggal di daerah pedesaan dan terpencil, dan anak-anak yang tidak dapat berbahasa Indonesia dengan baik,” kata Yusuf Waluwanja.

Dia juga menggaris bawahi pentingnya peran orang tua dalam mendukung perbaikan kualitas pendidikan dan hasil belajar siswa.

“Pendidikan bukan hanya urusan guru dan pemerintah saja, tapi orang tua harus berperan aktif dalam mendukung anak mereka untuk belajar dengan baik. Mereka harus mempersiapkan anak-anak di rumah dan membantu mereka belajar.

“Keberadaan program [INOVASI] sangat mendukung pendidikan siswa di Sumba, termasuk Sumba Timur. Kami akan bekerja dan mencari isu-isu kunci yang mempengaruhi pendidikan, terutama bagi guru dan siswa, ” tambahnya.

Selama lokakarya, para pemangku kepentingan media mengeksplorasi bagaimana pendekatan PDIA diterapkan pada kegiatan rintisan di lapangan, dan juga mendengar kesaksian langsung dari salah satu Fasilitator Daerah Sumba Timur INOVASI. Konsep kunci seputar pembelajaran aktif dan praktik mengajar di kelas yang efektif juga diperkenalkan. Manajer Daerah INOVASI yang berbasis di Sumba, Bapak Hironimus Sugi, menggarisbawahi rencana dan program rintisan INOVASI di tahun 2018, serta berbicara tentang pentingnya perlindungan anak dalam pelaporan.

Di akhir lokakarya, sebuah komunitas pelatihan pendidikan media baru dibentuk, dengan dua wartawan menjadi sukarelawan sebagai pemimpin kelompok. Kelompok baru ini akan berencana bertemu dalam beberapa bulan mendatang, dan akan berhubungan erat dengan Staf Komunikasi INOVASI di Sumba.

Seorang jurnalis dan salah satu pemimpin baru komunitas latihan, Dion Umba Ana Lodu mengatakan, “Ada praktik bagus dan model pembelajaran aktif yang dapat dibagi untuk memotivasi guru dan siswa, untuk mengembangkan pendidikan yang lebih baik.”

Pada tahun 2018, program rintisan bagian pertama akan berfokus pada transisi penggunaan bahasa ibu ke Bahasa Indonesia di kelas (Sumba Timur), pengembangan sekolah secara keseluruhan (Sumba Tengah), program rintisan Guru BAIK (Sumba Barat Daya), dan manajemen sekolah yang lebih baik (Sumba Barat).

Program rintisan bagian pertama di Pulau Sumba akan berlangsung sampai Juli 2018 di keempat kabupaten tersebut.

Jurnalis dan pemangku kepentingan media mendiskusikan pentingnya meningkatkan kualitas pendidikan di Waingapu