INOVASI mengadakan lokakarya Gerakan Literasi Sekolah di Peso, Bulungan

Hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) yang dilakukan oleh Kemendikbud RI menunjukkan nilai rata-rata literasi membaca untuk Kalimantan Utara adalah dua poin di bawah rata-rata nasional (RPSA Kaltara 2017). Temuan ini juga diperkuat Survei Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia yang dilakukan INOVASI. Survei ini menemukan bahwa hanya 14,59 persen siswa kelas 1 SD yang mampu membaca dan 60,94 persen di kelas 2. Bahkan dari anak yang bisa membaca ini, tidak semua yang bisa memahami bacaan secara implisit mampu mengintegrasikan informasi dari beberapa informasi dan mencari informasi eksplisit dari bacaan.

Untuk menggalakkan minat baca, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bulungan dan INOVASI menggelar lokakarya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) pada Selasa, 30 Januari 2018 di Peso, Bulungan, Kalimantan Utara. Lokakarya GLS ini diikuti 29 peserta dari tiga SD yang berada di Peso.

Gerakan Literasi Nasional (GLN) adalah sebuah gerakan yang diluncurkan Menteri Pendidikan Indonesia pada tahun 2016 sebagai implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Pada dasarnya, gerakan ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antara pemeran kunci dalam sistem Pendidikan Indonesia, dan memperluas keikutsertaan publik dalam membudayakan gerakan literasi di skala nasional.

Peso merupakan kecamatan terluar di Kabupaten Bulungan yang terletak di hulu Sungai Kayan. Daerah ini merupakan wilayah terakhir yang memiliki akses listrik dan sinyal telepon selular. Butuh tiga jam perjalanan lewat sungai dari Tanjung Selor, Ibu Kota Kaltara, untuk bisa menjangkau Peso. Sejak tahun 2017, INOVASI mendukung Disdikbud Bulungan mempromosikan GLS sampai ke pelosok desa. Kegiatan rintisan INOVASI akan mendukung hal ini.

Kepala SDN 001 Peso, La’an Laing mengaku mendapatkan ide-ide baru setelah mengikuti lokakarya ini. Ia baru mengetahui cara melibatkan orangtua untuk membangun budaya baca. Ia  mengatakan, selama ini sekolah cenderung sendirian dalam menjalankan program. Kini ia menyatakan siap dan berkomitmen menjalankan GLS.

Hal senada juga diungkapkan oleh Roslina Ngau, guru kelas 2 SDN 001 Peso. Sebagai guru kelas awal, ia kerap kewalahan menghadapi siswa yang baru mengenal bunyi, huruf dan kata. Menurutnya, anak-anak kurang tertarik belajar membaca di dalam kelas. “Saya baru tahu kalau anak-anak bisa diajak membaca buku cerita bersama-sama di halaman sekolah. Saya mau mencoba cara itu,” katanya.

INOVASI mengadakan lokakarya Gerakan Literasi Sekolah di Peso, Bulungan