INOVASI dan CIS Timor membantu orang tua dan sekolah lebih memahami siswa berkebutuhan khusus

Oleh: May Nggiri, nenek dari Marvel Ngili Ateng, salah satu anak berkebutuhan khusus di Desa Rindi

Pada bulan September 2018, INOVASI memulai 27 program rintisan dalam kemitraan dengan 18 organisasi mitra. Kemitraan ini adalah bagian penting dari pendekatan INOVASI untuk memperluas dan memperkuat keterlibatan dengan sektor pendidikan non-pemerintah Indonesia. Salah satu organisasi mitra INOVASI adalah CIS Timor, yang berupaya memperkuat kapasitas sekolah dan pendidikan inklusif di Sumba Timur, sebuah kabupaten mitra INOVASI di provinsi Nusa Tenggara Timur. Bekerja dengan sembilan sekolah di Kecamatan Rindi, program rintisan CIS Timor berfokus pada pelatihan dalam pendidikan inklusif, keterlibatan masyarakat inklusif, dan koalisi untuk perubahan. Cerita kali ini dituliskan oleh May Nggiri, nenek dari Marvel Ngili Ateng, salah satu anak berkebutuhan khusus di Desa Rindi, Sumba Timur.

Saya telah merawat Marvel, cucu saya sejak dia masih bayi. Dia sekarang berusia 10 tahun dengan kondisi Tuna Ganda (Tuna Wicara dan Tuna Rungu). Kami tinggal di desa Rindi, dan saya sangat senang bahwa kami dapat bergabung dengan program rintisan CIS Timor ini untuk belajar lebih banyak tentang cara mengasuh anak dan membantu pembelajaran anak-anak berkebutuhan khusus. Ini sangat relevan bagi saya.

Bagi saya, perubahan yang saya rasakan adalah Marvel sekarang dapat belajar di SDM Prai Yawang walaupun di kelas awal di usia 10 tahun. Marvel dulu dikenal sebagai anak nakal yang suka mengambil barang-barang karena dia selalu berpikir bahwa semuanya adalah mainan. Tetapi sekarang tidak lagi. Marvel lebih patuh dan mengerti. Sudah bisa bekerja di rumah dalam membantu saya dan saudara-saudaranya.

Dulu, Marvel hanya dikenal dengan panggilan “kambiu” (bisu) oleh semua orang yang mengenalnya. Setiap hari Marvel hanya bermain dan berjalan di sekitar kompleks perumahan. Karena kondisinya yang tidak dapat berbicara dan tidak dapat mendengar, Marvel tidak bersekolah seperti teman-temannya yang lain. Keraguan orang tua untuk mengirim Marvel ke sekolah dan keadaan sekolah yang sulit untuk menerima peserta didik seperti Marvel menjadi alasan Marvel tidak bersekolah.

INOVASI dan CIS Timor dengan program rintisan yang dilakukan di sekolah dan desa, membuka peluang bagi Marvel agar dapat menikmati pendidikan di sekolah. Kini sekolah dan guru telah terbuka menerima anak berkebutuhan khusus, dan orang tua diberi motivasi dan pemahaman yang baik tentang kondisi Marvel. Orang tua juga diberi pemahaman bagaimana merawat dan mendukung pembelajaran untuk Marvel sehingga sekarang Marvel telah bersekolah menggunakan seragam seperti teman-temannya.

Sekarang Marvel rajin bersekolah. Marvel setiap pagi siap berangkat sekolah tanpa disuruh dan ketika pergi ke sekolah Marvel selalu menyapa dengan mencium tangan orang-orang di rumah. Di sekolah, guru kelas mengakui bahwa Marvel adalah anak yang pandai menulis dan menggambar, satu-satunya kesulitannya adalah tidak dapat berbicara. Dan ini adalah alasan utama untuk perubahan yang dia dapatkan ketika berkegiatan dengan CIS Timor.

Agar Marvel bisa terus bersekolah, ia perlu belajar berbicara dengan bahasa isyarat dengan benar sehingga nantinya ia dapat melanjutkan sekolah di sekolah reguler.

INOVASI dan CIS Timor membantu orang tua dan sekolah lebih memahami siswa berkebutuhan khusus