INOVASI dan CIS Timor membantu guru merancang kelas yang sesuai untuk beragam kebutuhan siswa

Oleh: Kudji Koreh, S.Pd, Kepala Sekolah SD Negeri Kamalawatar

Pada bulan September 2018, INOVASI memulai 27 program rintisan dalam kemitraan dengan 18 organisasi mitra. Kemitraan ini adalah bagian penting dari pendekatan INOVASI untuk memperluas dan memperkuat keterlibatan dengan sektor pendidikan non-pemerintah Indonesia. Salah satu organisasi mitra INOVASI adalah CIS Timor, yang berupaya memperkuat kapasitas sekolah dan pendidikan inklusif di Sumba Timur, sebuah kabupaten mitra INOVASI di provinsi Nusa Tenggara Timur. Bekerja dengan sembilan sekolah di Kecamatan Rindi, program rintisan CIS Timor berfokus pada pelatihan dalam pendidikan inklusif, keterlibatan masyarakat inklusif, dan koalisi untuk perubahan. Cerita kali ini dituliskan oleh Kudji Koreh, seorang kepala sekolah dari SD Negeri Kamalawatar di Sumba Timur.

Saya masih ingat ketika CIS Timor mengunjungi sekolah saya, SDN Kamalawatar, pada Oktober 2018. Mereka memperkenalkan program rintisan pendidikan inklusif baru dan mengatakan bahwa sekolah kami adalah salah satu sekolah mitra yang terpilih. Saya sangat bersemangat, dan segera mengambil bagian dalam sosialisasi awal dan peluncuran program di tingkat kabupaten.

Setelah peluncuran program rintisan, banyak kegiatan dan diskusi diadakan dengan CIS Timor. Saya menghadiri pelatihan kesadaran awal (awareness) di mana kami diperkenalkan dengan wawasan baru tentang apa sebenarnya pendidikan inklusif—yaitu pendidikan untuk semua. Untuk pelatihan pedagogi, saya mengirim guru di kelas satu, dua dan tiga dari sekolah saya untuk ikut serta.

Saya benar-benar merasa bahwa pola pikir saya telah berubah sejak berpartisipasi dalam program rintisan ini. Saya memiliki pemahaman yang lebih kuat tentang apa itu pendidikan inklusif. Saya belum benar-benar membahasnya sebelum adanya program rintisan ini. Meskipun saya dan guru saya memandang pendidikan sebagai hak anak, kami tidak benar-benar berpikir bahwa anak-anak berkebutuhan khusus dapat dengan mudah pergi ke sekolah umum. Di sekolah kami, tidak ada anak-anak dengan cacat fisik, tetapi tentu saja ada yang mengalami tantangan belajar dan keterlambatan. Sekarang, berkat sesi dengan CIS Timor, kami memahami bahwa sekolah umum memang terbuka untuk anak-anak dengan kondisi apa pun.

Karena program rintisan telah berjalan, saya telah memperhatikan pertukaran ide dan informasi antara guru dan telah mengamati perubahan dalam metode dan teknik pengajaran mereka. Mereka juga tahu cara menggunakan media pembelajaran di kelas dengan lebih baik, ketika menyangkut pendidikan inklusif. Ini termasuk rencana pembelajaran yang dapat dikembangkan untuk mengakomodasi beragam kebutuhan setiap anak. Ada juga rencana pembelajaran khusus yang dapat digunakan guru untuk anak-anak berkebutuhan khusus, yang disebut Rencana Pembelajaran Individu.

Di kelas satu di sekolah saya, di mana anak-anak masih kesulitan mengenali huruf, metode pengajaran baru sangat membantu mereka. Salah satu metode pembelajarannya adalah bermain dengan kartu huruf, dan siswa dengan kesulitan belajar diberi bimbingan khusus oleh guru. Perlahan, mereka sekarang menjadi lebih familiar dengan huruf dan bahkan sudah mulai membaca dan menulis beberapa kata dengan benar. Ada satu siswa yang terus-menerus mengganggu teman-temannya dan memiliki banyak energi di kelas. Guru memberikan pekerjaan rumah tambahan untuknya sehingga dia tidak punya waktu luang untuk mengganggu kelas.

Hal yang sama dilakukan di kelas dua dan tiga. Anak-anak sekarang hampir semuanya dapat membaca dan berhitung, meskipun ada beberapa yang masih mengalami kesulitan dan diberi bimbingan khusus.

Berkat program rintisan ini, para guru di sekolah saya menggunakan pengetahuan baru mereka dan merancang kelas yang lebih sesuai untuk beragam kebutuhan siswa. Mereka lebih mampu membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Guru telah dilengkapi dengan berbagai metode dan alat pengajaran, mereka dapat lebih fleksibel di ruang kelas, dan anak-anak menikmati suasana yang semarak.

Sebagai kepala sekolah, saya sekarang selalu menyarankan para guru untuk menciptakan suasana kelas yang ramah anak. Guru tidak bisa melakukan gaya ceramah. Dengan pembelajaran aktif, siswa lebih bahagia, dan pelajaran lebih mudah dipahami.

Fakta bahwa siswa sekarang dapat membaca harus dianggap sebagai bukti nyata dari perubahan positif. Kami sekarang telah beralih dari pembelajaran monoton menjadi pembelajaran aktif dan menyenangkan. Guru tidak dapat memiliki pola pikir yang salah, karena mereka akan menggunakan strategi pengajaran yang buruk. Pola pikir inklusif akan lebih baik bagi siswa dalam jangka panjang.

Ke depan, saya dapat melihat bahwa kita harus terus meningkatkan beberapa elemen pengajaran, seperti rencana pembelajaran individu. Penting bagi guru saya untuk memodifikasi pelajaran agar sesuai dengan siswa. Kami belum terbiasa melakukan ini, jadi butuh waktu untuk menjadi lebih baik. Kami akan terus berusaha.

INOVASI dan CIS Timor membantu guru merancang kelas yang sesuai untuk beragam kebutuhan siswa