INOVASI dan CIS Timor membantu guru meningkatkan cara mengajar di kelas

Oleh: Muhammad, S.Pd., Guru di SD Inpres Tapil

Pada bulan September 2018, INOVASI memulai 27 program rintisan dalam kemitraan dengan 18 organisasi mitra. Kemitraan ini adalah bagian penting dari pendekatan INOVASI untuk memperluas dan memperkuat keterlibatan dengan sektor pendidikan non-pemerintah Indonesia. Salah satu organisasi mitra INOVASI adalah CIS Timor, yang berupaya memperkuat kapasitas sekolah dan pendidikan inklusif di Sumba Timur, sebuah kabupaten mitra INOVASI di provinsi Nusa Tenggara Timur. Bekerja dengan sembilan sekolah di Kecamatan Rindi, program rintisan CIS Timor berfokus pada pelatihan dalam pendidikan inklusif, keterlibatan masyarakat inklusif, dan koalisi untuk perubahan. Cerita kali ini dituliskan oleh Muhammad, guru kelas empat di SD Inpres Tapil di Sumba Timur.

Sebagai guru kelas empat, seharusnya saya tidak berpartisipasi dalam program rintisan ini, karena sasarannya adalah guru kelas satu sampai tiga. Tetapi, karena guru kelas satu tidak dapat hadir karena dia sedang cuti hamil, saya dikirim oleh kepala sekolah untuk menggantikannya. Saya sangat senang berkesempatan untuk bergabung dengan program rintisan pendidikan inklusif ini. CIS Timor sering datang ke sekolah saya untuk menjalankan kegiatan dan diskusi, dan saya telah berpartisipasi dalam semua sesi.

Saya bisa mengatakan bahwa pengetahuan saya sudah mulai berubah dan membaik. Pendidikan inklusif adalah topik baru bagi saya – jarang mendengar tentang masalah ini, apalagi bekerja pada praktik pendidikan inklusif. Meski berawal dari ketidaktahuan, lama kelamaan saya mulai memahami bahwa ada cara baru untuk memahami pendidikan dan secara perlahan, sikap saya berubah. Sejak dulu, karena belajar dari pengalaman di mana guru kami dulu mengajar dengan keras, maka selama ini saya juga mengajar dengan pola yang sama. Prinsip yang saya pakai selama ini adalah “di ujung rotan ada emas”. Saya sering sekali marah pada anak-anak yang nakal dan saya anggap bodoh. Saya sering tidak sabar menghadapi para siswa. Setelah mengikuti pelatihan saya sadar, ada yang keliru dalam cara saya mengajar selama ini. Setelah mengikuti training pedagogi, saya menyesuaikan cara mengajar dengan kebutuhan siswa.

Saya mencoba untuk membuat rencana pembelajaran individu (RPI), meski cukup kesulitan. Dengan RPI dan pengisian beberapa format asesmen gaya belajar, saya lebih mengenal kebutuhan tiap siswa. Untuk siswa yang tampak bosan, saya memberi mereka tugas tambahan untuk dilakukan di rumah. Para siswa sekarang mengalami kemajuan. Ada juga yang lama dalam berhitung, tapi jawabannya benar. Saya sangat senang.

Perubahan yang paling penting bagi saya adalah pemahaman saya sendiri. Dulu saya berpikir bahwa jika siswa takut pada guru, maka akan membuat siswa ingin belajar lebih keras. Saya salah. Anak-anak lebih bahagia jika gurunya lebih aktif dan ramah. Saya dapat melihat siswa saya sendiri memperhatikan perbedaan dalam pengajaran saya.

Satu tantangan untuk terus bekerja adalah membuat orang tua membantu anak-anak mereka belajar di rumah. Kebanyakan orang tua dari anak-anak berkebutuhan khusus tidak berpendidikan, dan mereka kekurangan bahan bacaan di rumah. Ini berarti sekolah adalah satu-satunya tempat di mana siswa dapat belajar dengan baik. Kami harus terus memperbaiki masalah ini.

INOVASI dan CIS Timor membantu guru meningkatkan cara mengajar di kelas