INOVASI ajak media lokal kenali isu pendidikan di NTB

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi salah satu dari provinsi di Indonesia yang harus mengejar ketertinggalan dalam penguatan kapasitas tenaga pendidik dan rendahnya kemampuan literasi serta numerasi di antara para siswa.

Penelitian ACDP (Education Sector Analytical Capacity and Development Partnership) Indonesia di tahun 2016 mengungkap tingginya angka guru yang tidak terlatih di Sumba. Kondisi ini diperburuk dengan tidak meratanya distribusi guru PNS dan guru yang memiliki kualifikasi S1.

Media, sebagai salah satu pilar demokrasi memiliki peran signifikan dalam membangun kesadaran masyarakat dan pemerintah untuk mendorong kemajuan pendidikan di Indonesia. Oleh sebab itu, penguasaan terhadap isu pendidikan menjadi sangat penting dikuasai oleh awak media. Berbekal motivasi ini, program INOVASI di Provinsi NTB menggelar media gathering atau lokakarya keterlibatan media.

Acara yang berlangsung pada 6-7 Juni 2018 di Senggigi, Lombok Barat, ini dihadiri oleh perwakilan media lokal, humas, dan staf Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Kominfotik). Mereka merupakan perwakilan dari enam kabupaten mitra Program INOVASI di Provinsi NTB, yaitu Kabupaten Lombok Utara, Lombok Tengah, Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, dan Bima. Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan program INOVASI di Provinsi NTB secara umum, tentang pendekatan solusi lokal untuk permasalahan lokal (PDIA), dan program rintisan di setiap kabupaten mitra.

“Biasanya INOVASI hanya mengadakan kegiatan dengan pihak-pihak yang berkaitan langsung dengan pendidikan, seperti kepala sekolah, guru dan pengawas. Kali ini media turut diundang sebagai pihak yang potensial menyebarkan informasi program yang sedang dan akan dilakukan,” ungkap H. Aidy Furqan, S.Pd, M.Pd, Kepala Bidang Ketenagakerjaan Dinas Pendidikan & Kebudayaan Provinsi NTB, dalam sambutannya.

Aidy berharap, media dapat menguasai isu pendidikan sebagai bahan pemberitaan yang nantinya tidak hanya bersifat informatif, tapi juga kritis. Berbekal pemahaman terhadap isu, media dapat memberikan analisis logis untuk mendukung pengembangan kapasitas guru dan mutu pendidikan di Provinsi NTB. Demikian pula halnya dengan Kominfo dan humas yang memiliki pengaruh besar dalam membangun opini publik dan mendorong kepedulian masyarakat di dunia pendidikan.

Kepala Dinas Kominfotik Provinsi NTB, Tri Budiprayitno dalam sambutannya mengatakan bahwa saat ini Provinsi NTB sudah memiliki Kampung Media sebagai salah satu program unggulan. Bahkan Kampung Media memiliki kolom khusus pendidikan yang bisa dimanfaatkan rekan jurnalis untuk mengabarkan berita positif guna mendukung kemajuan mutu pendidikan siswa.

“Media diharapkan dapat memberitakan apa yang pantas untuk diberitakan. Harus lebih teliti dan mencermati bahan pemberitaan agar lebih bijak di dunia maya dan damai di dunia nyata,” pesan Tri, mengajak peserta media untuk lebih mengangkat berita-berita inovatif guru dan praktik baik di sekolah yang layak diapresiasi.

Hari pertama media gathering berfokus pada perkenalan antara peserta dan program INOVASI. Di hari kedua, materi kegiatan diisi dengan hal-hal praktis yang menginspirasi peserta untuk lebih memahami konteks pendidikan, baik tingkat provinsi maupun kabupaten.

Pada hari kedua, Kepala Kampung Media Achmad Fairuzz Abadi, SH hadir memaparkan lebih detail wadah jurnalisme warga, Kampung Media, dan pentingnya media untuk mencerdaskan bangsa melalui penyebaran informasi. Dalam presentasinya, Fairuzz memperkenalkan “Kampung Inovasi”, kolom khusus untuk isu pendidikan di Kampung Media.

“Kampung Inovasi merupakan ruang untuk siapa saja yang bisa memberitakan beragam cerita baik dari sekolah, guru, dan masyarakat guna mendorong tersebarnya praktik baik di bidang pendidikan, khususnya untuk bidang literasi dan numerasi. Ini merupakan bentuk konkret kontribusi Dinas Kominfotik dalam bidang pendidikan dan mendukung penyelenggaraan program INOVASI di NTB,” jelas Fairuzz.

Di rangkaian akhir sesi media gathering, para peserta diajak untuk bersama-sama menyusun rencana lanjutan. Secara garis besar, baik pihak media, fasilitator daerah bidang komunikasi, humas, maupun Kominfo sadar bahwa masing-masing memiliki tugas moral untuk ambil bagian dalam advokasi pendidikan. Di antaranya melalui penyebaran berita terkait INOVASI dan isu pendidikan di masing-masing kabupaten asal.

Beragamnya masalah dan solusi dalam program INOVASI memudahkan rekan jurnalis untuk mengeksplorasi tema-tema berbeda yang unik. Misalnya, bagaimana praktik baik dan inovasi pembelajaran para guru lulusan program INOVASI tersebut berhasil direplikasi dan diterapkan juga di sekolah-sekolah lain.

Berita-berita baik ini dalam perjalanannya dapat mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan anggaran di bidang pendidikan. Dengan dana ini, para guru bisa mendapatkan kesempatan pengembangan kapasitas melalui berbagai pelatihan. Misalnya, pelatihan literasi komunikasi, agar guru dapat menulis dengan baik, serta pengadaan buku dan perpustakaan.

Tidak hanya awak media yang aktif dalam acara ini. Para perwakilan kabupaten, dari humas dan Kominfotik, juga ikut andil menggulirkan ide-ide advokatif mereka di tingkat pemerintahan. Apalagi saat mengingat bahwa hampir seluruh kabupaten sudah memiliki website.

Merangkum kegiatan dua hari tersebut, para peserta berkomitmen untuk membentuk komunitas “Kesatuan Jurnalis untuk Pendidikan”, yang disingkat KEJUTAN. Berdasarkan kesepakatan bersama, komunitas jurnalis pendidikan ini diketuai oleh Wahid dari Suara Lombok.

Program INOVASI berharap bahwa ke depannya, para fasilitator daerah bidang komunikasi, jurnalis, perwakilan humas, dan Kominfo dari setiap kabupaten mitra dapat menjadi pengawal yang baik dalam penyebaran informasi terkait program INOVASI dan pendidikan, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.

INOVASI ajak media lokal kenali isu pendidikan di NTB