INOVASI ajak guru di Dompu jadi lebih BAIK

Keterampilan mengajar berkualitas tinggi adalah suatu keharusan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di kelas. Selain itu, penting bagi guru untuk dapat mengidentifikasi dan menjawab kebutuhan belajar siswa. Di INOVASI, guru sering diminta untuk merefleksikan apa yang membuat pendidik yang baik. Apakah cukup hanya memberikan sebuah pelajaran? Apa lagi yang diperlukan untuk memastikan bahwa siswa belajar? Di Dompu, salah satu dari enam kabupaten mitra INOVASI di NTB, para guru dan kepala sekolah telah terlibat dalam sebuah uji coba yang bertujuan untuk mengembangkan kapasitas dan kualitas pengajaran dan pembelajaran mereka. Dengan menggunakan pendekatan ‘solusi lokal untuk masalah-masalah lokal’, program rintisan Guru BAIK (Belajar, Aspiratif, Inklusif, dan Kontekstual) sekarang sedang berjalan, mendukung para guru untuk mengembangkan dan menguji solusi untuk masalah pembelajaran yang mereka hadapi di kelas.

Pada tanggal 14 Juli 2018, INOVASI mengawali rangkaian implementasi program rintisan Guru BAIK di Kabupaten Dompu melalui kegiatan Lokakarya Guru BAIK komponen pertama di SDN 3 Pajo dengan mengundang 40 orang tenaga pendidik. Kegiatan difasilitasi oleh sumber daya lokal yang telah terseleksi dan terlatih untuk memfasilitasi beragam kegiatan lokakarya tingkat kabupaten yang disebut dengan fasilitator daerah (fasda) yang juga merupakan para guru, kepala sekolah, dan pengawas pendidikan.

Beragam sesi digelar dengan komprehensif yang meliputi sesi pola pikir berkembang, eksplorasi masalah, identifikasi kesulitan belajar, pembelajaran inklusif dan rencana tindak lanjut. Para peserta juga diajak untuk dapat merencanakan pembelajaran dengan melibatkan siswa dan terbuka dalam proses di kelas. Tak hanya itu, karena masing-masing anak adalah unik dan memiliki kemampuan yang berbeda-beda, para peserta harus dapat merancang rencana pembelajaran yang bersifat inklusif. Kunci terakhir yang tidak kalah penting adalah kontekstual di mana guru harus dapat mengkoneksikan pembelajaran dengan hal-hal nyata di sekitar.

Program rintisan Guru BAIK yang didanai oleh pemerintah daerah (APBD) ini bertujuan untuk mengubah metode pembelajaran, penggunaan media pembelajaran, dan pengelolaan kelas yang lebih baik demi meningkatnya mutu pembelajaran siswa dalam bidang literasi dan numerasi. Pada tahun 2017, Guru BAIK dilaksanakan oleh INOVASI di enam kabupaten mitra NTB. Dukungan berkelanjutan dari alokasi anggaran pemerintah daerah untuk menjalankan program rintisan di tahun 2018 ini adalah refleksi positif dari perluasan dan keberlanjutan dari program rintisan ini.

Keberlanjutan program rintisan dan perluasan sekolah imbas akan diambil alih dan dilanjutkan oleh Dinas Dikpora saat program INOVASI berakhir. Pemerintah Kabupaten berkomitmen dan berharap bahwa program yang berfokus pada peningkatan mutu pendidikan tingkat awal ini dapat memastikan tidak ada lagi siswa SD kelas empat yang sulit membaca dan berhitung.

“Program ini diharapkan berkelanjutan sehingga bisa melibatkan seluruh sekolah maupun guru yang ada di Kabupten Dompu,” ungkap salah satu peserta lokakarya, Hamid, Kepala Sekolah SDN 07 Pajo.

Hamid turut menambahkan bahwa monitoring dan evaluasi terhadap implementasi program melalui beragam lokakarya ke depan harus dilaksanakan untuk memastikan proses ini menjadi jalan menuju bebas buta literasi dan numerasi di Kabupaten Dompu tahun 2022.

Pada Lokakarya Guru BAIK komponen kedua pada tanggal 5 Agustus, peserta diajak menggali permasalahan yang dihadapi siswa, terutama di kelas awal. Ditemukan beberapa hambatan seperti siswa kelas satu belum mampu mengenal huruf secara baik, menyebut kosa kata, menulis lambang bilangan, dan siswa kelas dua belum kesulitan dalam menyebut bilangan ratusan.

Tidak hanya menemukan masalah, para peserta juga menggali faktor penyebab. Diidentifikasi bahwa akar permasalahannya timbul dari guru yang mengajar dengan cara ceramah, metode pengajaran kurang bervariasi atau masih konvensional, guru tidak menguasai metode pembelajaran, dan guru tidak menggunakan metode dan media pembelajaran yang tepat.

“Guru sering menggunakan metode yang salah, menerapkan materi yang terlalu sulit untuk siswa, misalnya, guru sering menggunakan angka-angka yang terlalu tinggi untuk siswa kelas awal,” ungkap Guru SDN 2 Pajo, A. Bakar.

Berangkat dari akar permasalahan, para peserta diajak menggali solusi mulai dari yang bersifat umum sampai pada solusi khusus atas hambatan tertentu. Solusi yang disepakati bersama adalah penggunaan metode pembelajaran yang sederhana, kontekstual, dan mudah dipahami siswa. Menariknya, para peserta menyampaikan ide-ide kreatif seperti penggunaan batu kerikil dan lidi sebagai media hitung.

Beberapa solusi atas kesulitan belajar siswa didiskusikan dalam kegiatan tersebut, di antaranya dengan menggunakan media gambar huruf untuk mengatasi kesulitan mengenal huruf, menggunakan media kotak bilangan untuk mengatasi kesulitan dalam berhitung, dan gagasan lain yang tentunya berbasis lokal.

“Saya berharap agar program ini dapat berkesinambungan karena mampu menstimulasi ide baru dari guru untuk mengembangkan metode pembelajaran yang tepat,” ungkap Ruslan, SPd, pengawas pendidikan dari Kantor Unit Pelaksanaan Teknis Daerah (KPUTD) Kecamatan Pajo.

Baca selengkapnya tentang program rintisan Guru BAIK di tahun 2017 di NTB di sini.

INOVASI ajak guru di Dompu jadi lebih BAIK