Guru kelas awal di Sumba Barat Daya membuat media pembelajaran yang inovatif

Melalui program INOVASI, pemerintah Australia dan Indonesia bermitra untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa di bidang literasi dan numerasi di sekolah-sekolah dan kelas-kelas di seluruh Indonesia. Melalui percontohan pertama dari program ini, yaitu Guru BAIK, guru-guru di Nusa Tenggara Timur telah dilengkapi dengan cara baru untuk memecahkan permasalahan pengajaran di tingkat lokal.

“Gunakan yang ada, jangan mengada-ada, jangan menunggu semua ada” adalah moto untuk pelatihan Guru BAIK (Belajar, Aspiratif, Inklusif, dan Kontekstual) di Sumba Barat Daya. Sebanyak 36 guru SD kelas awal yang mengikuti pelatihan meneriakkan moto tersebut secara antusias. Di Sumba Barat Daya, program rintisan Guru BAIK membantu guru-guru menemukan cara baru untuk memecahkan permasalahan pengajaran di kelas.

Motto tersebut dianggap sangat serius oleh para peserta. Setelah melakukan eksplorasi masalah dan membuat prioritas masalah sesuai dengan pendekatan PDIA (Problem Driven Iterative Adaptation) yang diterapkan INOVASI pada pelatihan tersebut, para guru akhirnya menentukan bahwa salah satu masalah terbesar mereka adalah kurangnya kemampuan mereka membuat sendiri dan menggunakan media yang tepat sesuai subjek atau mata pelajaran.

Media pembelajaran merupakan komponen yang tidak bisa dipisahkan dari pembelajaran aktif yang saat ini dikenalkan oleh INOVASI ke guru-guru di Sumba Barat Daya. Media pembelajaran akan mampu membuat siswa lebih terlibat dalam pembelajaran, memotivasi dan membuat siswa antusias terhadap mata pelajaran, dan menjadi jembatan bagi siswa untuk lebih mudah mengetahui konsep-konsep atau pengetahuan yang diajarkan.

Selain itu, dalam pembelajaran aktif, siswa dilibatkan sejak dini untuk bisa bekerjasama dalam tim. Mereka dilatih untuk berdiskusi dengan baik dan mampu memberikan ide-ide gagasan dalam kerja kelompok.   Untuk bisa bekerja kelompok, perlu ada media-media atau bahan yang bisa dikerjakan bersama-sama, sebagai bahan diskusi dan untuk mengaktifkan saraf motorik mereka.

Selama proses eksplorasi masalah, para guru merasa belum mampu membuat media pembelajaran sendiri. Mereka belum memiliki ide-ide untuk menggunakan bahan-bahan di sekitar mereka sebagai media pembelajaran. Mereka juga masih terlalu terpaku dengan buku paket, padahal buku paket yang disuguhkan untuk kelas awal memiliki tingkat kesulitan yang besar terutama bagi anak didik yang belum bisa membaca di daerah tersebut.

Pengajaran yang mereka lakukan masih banyak bersifat konvensional, tanpa melibatkan siswa dalam pembelajaran. Guru berceramah dan memberi tugas berdasarkan buku paket. Bahkan terungkap selama eksplorasi tersebut, beberapa guru mengakui bahwa mereka sendiri kurang mengetahui secara mendalam konsep – konsep yang diajarkan. Hal ini membuat mereka kesulitan membuat sendiri media yang dibutuhkan sesuai konsep yang ingin diajarkan dan menghindari membahas konsep-konsep tidak mereke pahami.

Rahmi, Fasilitator Daerah program INOVASI untuk Guru BAIK, mengenalkan pada semua peserta bahwa hampir segala sesuatu bisa menjadi media pembelajaran.

“Media pembelajaran bisa berasal dari mana saja. Tidak harus dibeli. Tidak harus baru. Bisa dari bahan bekas dan bisa apa saja yang ada di sekitar kita,” katanya.

Menggunakan teknik peta pikiran, para peserta menghasilkan ide media pembelajaran dari lingkungan sekitar. Ide tersebut ditulis pada sebuah kertas plano. Tulisan besar “Sumber Belajar” di tengah dan dari sana muncul cabang-cabangnya seperti lingkungan sekolah, tenaga ahli, barang bekas, sumber daya alam, dan lain-lain. Para peserta sendiri juga membuat peta pikiran dengan membuat cabang-cabang dari lingkungan sekolah. Mereka menulis toilet, taman, peralatan, UKS, perpustakaan dan lain-lain yang bisa menjadi sumber media pembelajaran.

Agar mereka mengerti bahwa segala sesuatu bisa jadi media pembelajaran, Rahmi meminta beberapa orang mewakili kelompok maju ke depan untuk mengemukakan ide apa yang bisa dilakukan dengan sebuah selendang. Mereka masing-masing menjawab bisa jadi syal, bisa jadi selimut, bisa jadi penutup kepala, dan lain-lain. Mereka mulai mengerti bahwa prinsip yang sama bisa diaplikasikan dalam membuat media pembelajaran.

Lebih lanjut Rahmi bertanya kembali, apa yang bisa dilakukan dengan sebuah batang kayu untuk bisa menjadi media pembelajaran? Ada yang mengatakan bisa sebagai penunjuk untuk tulisan di papan tulis, sebagai pengganti kapur menulis di pasir dan lain-lain.  Ada juga yang bilang bisa jadi objek pembelajaran mengenai ciri batang tumbuhan. Bangku bisa untuk belajar tentang konsep geometri persegi panjang, ubin untuk bujur sangkar, koin untuk konsep lingkaran dan lain sebagainya. Mereka diajak mengeksplorasi berbagai media yang dibuat oleh Rahmi.

“Sesi ini sangat penting untuk membuat guru mengubah paradigmanya dalam mengajar. Mereka bisa menggunakan apapun untuk jadi media pembelajaran. Selama ini mereka masih menggunakan cara ceramah. Mereka juga akhirnya memahami bahwa pembelajaran itu tidak harus di dalam kelas dan bisa memakai apa saja sebagai sumber belajar yang kontekstual,” ujar Rahmi.

Menurut Ariyadi, salah satu Fasilitator Daerah program INOVASI, masih banyak tantangan dalam mengubah paradigma guru di lapangan.

“Para pengawas perlu dengan baik mengetahui pembelajaran aktif. Mereka faktor yang amat penting dalam membina para guru,” ujarnya.

Hal yang dituntut dari guru setelah menerima pelatihan mengenai media semacam itu adalah guru jadi kreatif dan benar-benar belajar untuk memahami konsep-konsep dalam subjek yang diajarkan.

“Guru harus belajar dulu banyak-banyak apa yang akan diajarkan. Supaya guru benar-benar memahaminya, kalau dirinya sendiri tidak memahami, bagaimana mungkin akan muncul kreativitas membuat atau menggunakan media yang sesuai,” ujarnya.

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari tersebut terbukti membuat para guru berubah paradigmanya. Linus, salah seorang guru dari Sekolah Dasar Katholik Marsudirini, mengatakan bahwa pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber dan media belajar belum banyak ia lakukan. Ia mengatakan akan menerapkan di sekolahnya. “Saya akan menerapkan di sekolah dan kreatif mencari bahan-bahan dan menciptakan media pembelajaran sendiri,” ujarnya.

Sedangkan Paulina dari SD Ba Laura Sumba Barat Daya mengatakan bahwa pelatihan tersebut membuat dia menjadi tahu bagaimana mengajar yang lebih baik. “Saya akan mengubah cara mengajar saya selama ini dengan lebih kontekstual dan aktif mencari solusi-solusi untuk permasalahan yang ada di kelas,” ujarnya.

Guru kelas awal di Sumba Barat Daya membuat media pembelajaran yang inovatif