NTB: ‘Guru harus bisa menurunkan ego dan belajar dari anak’

I Nyoman Tanaya, S.Pd, SD

Matematika, bagi sebagian besar pelajar, mata pelajaran yang satu ini kerap menjadi momok. Rumus yang rumit, buku diktat yang tebal dan tak menarik, serta guru yang kurang inovatif dalam menyampaikan materi kerap ditengarai sebagai penyebab rendahnya minat siswa untuk menekuni pelajaran yang satu ini. Namun tak demikian dengan yang terjadi pada murid kelas 6 SDN 4 Bentek Kecamatan Lombok Utara. Di tangan Nyoman Tanaya, matematika yang kerap dibenci dan dihindari justru menyenangkan untuk dipelajari.

Ditemui usai mengajar, pria kelahiran Tanjung, 31 Desember 1962 ini mengaku tak memiliki trik khusus. Yang ia lakukan sederhana saja. Ia jarang meminta anak-anak didiknya mengeluarkan buku paket tiap kali pelajaran matematika tiba. Sebaliknya, ia lebih suka memulai pelajaran dengan memberi teka-teki pada murid-muridnya. Tak cuma itu, agar lebih maksimal dalam menyampaikan materi pembelajaran, pengagum Ki Hajar Dewantara ini sengaja menyisihkan 30-40 menit setiap harinya untuk mereview materi yang akan ia ajarkan. Hasilnya, ia terbiasa membuat soal sendiri. Soal-soal buatannya itu kerap ia gunakan sebagai pengantar sebelum ia masuk ke materi inti. Tujuannya, agar para siswanya paham konsep dari rumus yang akan ia sampaikan.

“Buat saya, menghafal itu mestinya jadi cara terakhir. Sebaiknya guru menjelaskan dulu konsep dasar kepada siswa, walaupun itu butuh proses. Karena itulah, saya biasanya baru minta anak-anak mengerjakan dari buku paket kalau mereka sudah paham 70% dari konsep dasarnya. Soal-soal yang harus mereka kerjakan pun tidak semuanya. Anak-anak boleh memilih soal-soal mana saja yang ingin mereka kerjakan. Misalnya ada 10 soal, mereka boleh memilih 5 dari 10 soal yang tersedia,” jelasnya.

Diakui Nyoman, mulanya matematika menjadi pelajaran yang kurang difavoritkan anak didiknya. Umumnya, ketakutan tersebut muncul karena mereka khawatir memberikan jawaban yang salah dalam menjawab soal-soal yang diberikan. Untuk mengatasinya, pria yang sudah mengajar selama 35 tahun ini tak pernah bosan membesarkan hati anak-anak didiknya.

“Saya selalu bilang pada mereka, sebenarnya matematika itu jangan kamu takut. Kalau sekarang pak guru salahkan kamu, terus coba lagi karena namanya kita belajar. Kenapa kita pelajari karena jelas kita belum bisa. Kalau kita sudah bisa ya kita tidak perlu pelajari ini,” ujarnya, membocorkan pesan yang selalu ia berikan tiap kali siswanyamulai menyerah dengan soal-soal yang ia berikan.

Pun, diakuinya, dirinya bukanlah tipikal guru yang suka menghukum siswa bila mereka melakukan kesalahan. Untuk menyadarkan mereka, alumni Universitas Terbuka ini mengaku lebih memilih mengingatkan mereka secara terbuka. Ia percaya bila ada perilaku siswa yang tidak sesuai aturan dan diketahui oleh siswa lain pasti akan membuat siswa bersangkutan berpikir ulang untuk melakukannya lagi, sebab mereka pasti akan jadi bahan ledekan teman-temannya.

Dicontohkannya, suatu ketika salah satu siswa yang ia tahu tak terlalu bagus dalam pelajaran matematika tiba-tiba bisa menjawab seluruh soal yang ia berikan secara cepat dan tepat. Penasaran, ia pun mencoba menanyakan pada siswa tersebut, bagaimana ia menemukan jawabannya. Tak bisa menjawab pertanyaan yang ia berikan, Nyoman pun coba menebak apakah siswa menggunakan kalkulator dalam mengerjakan soal-soal yang diberikannya. Tak disangka, belum juga si siswa bersangkutan menjawab, teman-temannya justru bersautan memberi tahu Nyoman bila siswa tersebut memang menggunakan kalkulator. Menjadi ejekan teman sekelas, siswa tersebut akhirnya dengan malu-malu mengakui bila dirinya memang menggunakan alat bantu hitung dalam mengerjakan soal yang ia berikan. Pengakuan itu, menurut Nyoman, tak lantas membuatnya marah. Sebaliknya, dengan lemah lembut ia mencoba menjelaskan pada sang siswa mengapa ia perlu memahami konsep berhitung yang ia ajarkan, termasuk kenapa menggunakan alat bantu hitung justru akan merugikan dirinya di kemudian hari bila ia tak lebih dulu paham proses menghitungnya.

“Saya bilang kepada siswa itu, kalkultor tidak akan bohong. Apa yang kamu pencet atau apa yang kamu harapkan akan keluar disana. Pak guru harapkan kamu jangan memakai kalkulator karena betul saja tidak cukup. Yang pak guru tanyakan kan bagaimana caranya kamu mendapatkan ini, kan kamu belum bisa. Makanya usahakan jangan pakai kalkulator, tapi hapalkan itu perkalian, penjumlahan itu bagaimana. Kalau pakai kalkulator nanti kamu cuma tahu hasilnya tapi tidak pernah tahu bagaimana caranya,” ungkapnya.

Menariknya, bila umumnya anak-anak yang pernah dimarahi guru cenderung akan kehilangan minat untuk mempelajari mata pelajaran yang diampu oleh guru yang memarahinya. Hal tersebut tidak berlaku pada siswa Nyoman. Diungkapkannya, siswa yang pernah ia tegur sebelum ujian kini justru menjadi lebih berani bertanya bila ia tak paham dengan apa yang ia ajarkan. Toh begitu, Nyoman tak lantas jumawa. Baginya, perubahan si anak didik juga tak lepas dari peran keluarga, utamanya orangtua yang perhatian terhadap perkembangan pendidikannya.

“Saya percaya tujuan pendidikan itu adalah memanusiakan manusia, seperti yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara. Artinya, kalau ide ini diterapkan dengan sungguh-sungguh, guru ketika ingin memberikan ilmu pada anak didik semestinya dilakukan dengan lemah lembut, setidaknya menyenangkan. Dan yang paling penting, guru musti paham dengan materi yang akan diajarkan. Intinya jangan pernah bohong ke anak. Kalau memang kita tidak tahu jawabannya, lebih baik jujur saja. Guru itu harus bisa menurunkan ego dan belajar dari anak,”paparnya..

Alhasil, kini dari 27 siswa yang diampunya, hanya 2 orang saja yang masih tak terlalu antusias mempelajari matematika. selebihnya , siswa sangat menikmati proses pembelajaran matematika yang disampaikannya, sebagaimana diakui oleh mantan pengajar di SD 1 Kayangan ini, sangat menikmati proses pembelajaran matematika yang disampaikannya.. (Diah – Communication Officer NTB)

 

 

 

 

NTB: ‘Guru harus bisa menurunkan ego dan belajar dari anak’