Gerakan Literasi SDN Punten 01 Hasilkan Antologi Cerpen

Gerakan literasi sekolah yang dikembangkan oleh SDN Punten 01 Kota Batu memberikan dampak positif. Pembiasaan membaca selama 15 menit tiap hari, yang dilanjutkan dengan membuat resensi harian, membentuk pribadi siswa yang gemar membaca dan menulis.  Hal ini diakui oleh Qoriatul Azizah, S.Pd, guru Kelas IIIA SDN Punten 01 Kota Batu.

Awalnya, membangkitkan minat baca di SDN Punten 01 memang tak mudah. “Harus sedikit dipaksa agar siswa mulai mencintai buku,” terang guru yang akrab dipanggil Bu Zizah ini, membuka pembicaraan.

Gerakan literasi oleh SDN Punten 01 ini menjadi salah satu bentuk dukungan dan kolaborasi sekolah dalam mewujudkan tekad “Kota Batu Kota Literasi” yang dicanangkan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kota Batu pada November 2016. Mulai dari guru, kepala sekolah, pengawas, pemangku kepentingan, hingga orang tua murid SDN Punten 01 ikut mendukung gerakan literasi yang mulai berjalan sejak 2016 ini.

Kepala Sekolah SDN Punten 01, Prihastutik, M.Pd, memperkuat kegiatan membaca 15 menit ini dengan program literasi bertajuk “Aku Bisa Menulis”. Melalui program ini, seluruh siswa tidak hanya membaca, tapi juga menuliskan resensi dari buku yang telah mereka baca tiap harinya.

Di Kelas IIIA, kegiatan ini berlangsung tiap pagi hari, sebelum mata pelajaran utama dimulai. Zizah akan memandu kegiatan dengan mempersiapkan buku-buku bacaan siswa yang menarik, dan menaruhnya di pojok baca kelas. Masing-masing anak boleh memilih satu buku untuk dibaca dalam waktu 15 menit.

Tidak hanya siswa, guru pun wajib membaca buku saat kegiatan membaca 15 menit dimulai. Setelah selesai membaca buku, siswa diajak untuk menuliskan resensi harian berupa resume singkat dari halaman yang telah dibacanya pada hari itu. Secara berpasangan, siswa juga diminta saling menceritakan buku yang telah selesai mereka baca.

“Setiap hari, biasanya siswa mampu membaca 1-3 halaman buku bacaan. Selanjutnya, halaman yang dibaca tadi dituangkan dalam resume harian secara singkat, begitu seterusnya hingga siswa mampu menyelesaikan satu buku,” terang Zizah.

Zizah juga telah menyiapkan papan bertuliskan “Yang Aku Baca Hari Ini”. Di papan tersebut, tiap siswa diminta menuliskan tema buku yang dibacanya pada hari itu dalam satu kalimat singkat.

Berkat pembiasaan ini, siswa Kelas IIIA mulai mahir menulis cerita. Pencapaian ini tidak membuat Zizah berpuas diri. Sebaliknya, dengan menggunakan pendekatan yang kreatif, ia terus mendorong kemampuan menulis anak-anak didiknya.  Salah satunya, dengan memberikan tantangan menulis prosa dengan tema tertentu.

Suatu kali, ia memberikan tema tulisan: Indahnya Persahabatan, dengan sub-tema: Sahabat Satwa. Penentuan temanya sendiri ia kaitkan dengan pembelajaran Tematik Kelas III. Pada kesempatan ini tiap siswa diminta membawa ikan hias dari rumah masing-masing.  Sementara itu, Zizah sudah menyiapkan akuarium kosong sebagai tempat ikan hias di kelas.

Tibalah saatnya siswa membawa ikan-ikan hias mereka ke sekolah. Semua siswa terlihat bersemangat mengisi akuarium dengan air dan menghiasnya secantik mungkin. Ketika semua ikan telah masuk ke dalam akuarium, Zizah mengajak murid-muridnya untuk mengamati ikan-ikan itu. Mulai dari jenis atau nama ikan, tempat hidup mereka, hingga menjelaskan bagaimana cara merawat ikan dan menyayangi hewan peliharaan.

Hasil pembelajaran dengan pendekatan kreatif ini sungguh luar biasa dan di luar dugaan. Siswa berhasil membuat beragam cerpen tentang ikan yang sangat menarik. “Rasanya sayang sekali bila cerpen hasil karya siswa Kelas IIIA ini hanya digunakan sebagai pajangan di kelas,” ungkap Zizah.

Pemikiran ini membuatnya berinisiatif mengumpulkan semua tulisan para siswa, untuk kemudian dibukukan dalam sebuah antologi cerpen. Ia pun mendiskusikannya dengan paguyuban di kelasnya mengajar. Mereka sangat senang dan mendukung ide Zizah.

Berbekal dukungan mereka, Zizah kemudian mengetik ulang seluruh naskah, dan membuat desain sampul bukunya. Zizah membawa naskah antologi tersebut ke penerbit agar dapat dicetak menjadi buku. Tak hanya itu, Zizah juga mendaftarkan buku tersebut ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk mendapatkan ISBN.

Buku yang diberi judul Antologi Penulis Cilik Kelas IIIA SDN Punten 01 itu berhasil terbit pada 2017 lalu. Mereka yang ingin memiliki buku ini bisa membelinya dengan harga Rp20.000, yang sejatinya merupakan uang pengganti biaya cetak. Buku ini  laris manis diborong oleh para wali murid dan siswa sendiri.

Orang tua sangat bangga melihat anak-anak mereka mampu menghasilkan buku. Bahkan, Zizah diminta untuk kembali menerbitkan buku karya siswa. Inovasi SDN Punten 01 dalam bidang literasi membuat sekolah ini menjadi salah satu sasaran studi pemetaan praktik menjanjikan oleh tim INOVASI.

Kepala Bidang Tunjangan Prestasi Kerja Dinas Pendidikan Kota Batu, Abdul Rais, S.Pd, M.SI, mengungkapkan, Dinas Pendidikan Kota Batu sangat mengapresiasi guru-guru inovatif seperti Azizah.

Ke depannya, para guru di Kota Batu yang sudah menelurkan karya atau media pembelajaran yang bermanfaat untuk siswa, akan mendapat penghargaan. Penghargaan berupa sertifikat dan pengakuan atas karya-karya mereka ini akan diperhitungkan sebagai angka kredit. Perolehan angka kredit ini menjadi modal yang sangat penting bagi guru dalam mempercepat kenaikan pangkat di jalur PNS.

“Siapa guru yang banyak menghasilkan karya dan prestasi, maka dia akan makin cepat naik pangkat karena telah mengantongi banyak sertifikat dari Dinas Pendidikan Kota Batu,” ungkap Abdul Rais.

Gerakan Literasi SDN Punten 01 Hasilkan Antologi Cerpen