Fasilitator Daerah Lombok Tengah belajar lebih banyak tentang pendidikan inklusi

Di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, INOVASI mengimplementasikan program rintisan untuk peningkatan kualitas pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) atau dikenal dengan sebutan program rintisan SETARA. Perhatian terhadap ABK memang terus ditingkatkan pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, karena pendidikan inklusif bagi ABK memang menjadi prioritas di daerah yang tercatat sebagai salah satu daerah di Indonesia dengan capaian tertinggi dalam hal pendidikan inklusif. 

Sebagai bagian dari kegiatan program rintisan SETARA, INOVASI memberikan pelatihan bagi sembilan Fasilitator Daerah (Fasda) baru di Kabupaten Lombok Tengah yang dilaksanakan di Mataram pada tanggal 22-24 Maret 2018.  Pelatihan ini adalah tahap awal bagi para Fasda baru sebelum memulai tugas. Mereka akan bertugas mendampingi para guru di 19 sekolah yang menjadi sasaran program INOVASI di Lombok Tengah pada tahun 2018 ini.

Dalam pelatihan tersebut, para Fasda diberikan pengetahuan mengenai cara mengidentifikasi persoalan dan hambatan dalam proses belajar-mengajar bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di kelas. Mereka juga diberikan pemahaman untuk dapat mengindentifikasi ABK yang mengalami hambatan fisik, sensori, kognitif, komunikasi, perilaku, emosi termasuk hambatan interaksi sosial. Setelah mereka mendapat pengetahuan tentang identifikasi ABK, para Fasda kemudian dipandu untuk dapat mencari solusi tentang pola pembelajaran yang sesuai untuk mengatasi kesulitan belajar baik bagi ABK atau siswa reguler.

Dalam pelatihan ini, para Fasda juga diberikan pemahaman bahwa ABK bukan hanya anak yang memiliki kekurangan fisik atau mental saja tetapi anak yang sulit untuk menerima pelajaran. Oleh karena itu, dibutuhkan penanganan khusus dari segi mengajar dan media pembelajaran yang diberikan.

“Melalui program SETARA ini, guru diarahkan untuk mencari formulasi tentang cara mengajar siswa ABK yang baik, termasuk media pembelajaran yang digunakan. Dan media tersebut tidak harus yang sudah jadi, tetapi bisa dengan memanfaatkan benda-benda yang ada disekitar kita,” jelas Dr. (HC) Ahmad, salah satu anggota tim Fasda SETARA.

Menurut Ahmad, selama ini para guru cenderung memperlakukan sama antara siswa reguler dengan siswa ABK yang mengalami hambatan dalam menangkap pelajaran. Melalui program rintisan SETARA, para guru diberikan pemahaman bahwa diperlukan cara memilah dan memilih pola pembelajaran yang sesuai tidak hanya bagi siswa reguler tetapi juga siswa ABK. Tujuannya agar setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk dapat memahami pelajaran. Cara-cara tersebut perlu digali dan ditemukan sendiri oleh guru.

“Misalnya, dalam pelajaran berhitung. Bagi siswa reguler, guru tidak masalah memberikan pelajaran perkalian puluhan. Tetapi bagi siswa ABK, guru bisa memberikan pelajaran perkalian satuan yang lebih mudah. Sehingga siswa reguler maupun siswa ABK bisa sama-sama memahami pelajaran perkalian dengan baik. Inilah yang dinamakan dengan pendidikan inklusi,” jelasnya.

Program rintisan SETARA berupaya untuk memberikan pemahaman bahwa proses penemuan solusi dalam rangka memberikan kesempatan proses pembelajaran yang sama antara siswa reguler dengan siswa ABK menjadi hal penting. Dengan kata lain, hasil tidak menjadi prioritas utama tetapi proses dan tahapan pembelajaran yang dipentingkan. Dengan harapan, siswa ABK tidak jauh tertinggal dari siswa reguler dalam hal hasil pembelajaran.

Pada kesempatan pelatihan ini, Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Dinas Pendidikan Provinsi NTB, Saiful Muslim, berharap program rintisan SETARA yang dihadirkan oleh INOVASI di Lombok Tengah dapat berjalan dengan hasil yang maksimal.

“Lombok Tengah sudah mendeklarasikan diri sebagai kabupaten inklusif. Ini salah satu bentuk komitmen pemerintah daerah setempat untuk mendukung pendidikan inklusif,” ujar Saiful.

Dalam kesempatan ini, Saiful juga menegaskan bahwa Kabupaten Lombok Tengah telah menjadi pelopor dalam penerapan program pendidikan inklusif. “Soal pendidikan inklusif, Lombok Tengah nomor satu. Dan, kita berharap daerah lain bisa di NTB pada khususnya juga bisa menerapkan pendidikan inklusif di masa-masa yang akan datang,” jelasnya.

Fasilitator Daerah Lombok Tengah belajar lebih banyak tentang pendidikan inklusi