Desa Ranggo dan Desa Lepadi kenali isu literasi dan numerasi di Dompu

Memahami konteks lokal dan tantangan pendidikan adalah tujuan utama dari program INOVASI. Di Dompu, INOVASI telah bekerja erat dengan masyarakat setempat untuk lebih memahami dan mengidentifikasi isu-isu pendidikan utama di Dompu. Kabupaten Dompu adalah salah satu kabupaten mitra INOVASI di provinsi NTB.

Melalui fasilitasi gagasan-gagasan dan dialog dengan para pemangku kepentingan utama, isu utama yang diajukan oleh para pemangku kepentingan di Dompu adalah kurangnya peran masyarakat dalam sektor pendidikan, yang berkontribusi pada rendahnya tingkat literasi dan numerasi di tingkat sekolah dasar di seluruh kabupaten. Dalam konteks ini, program rintisan “Peningkatan Kualitas Pembelajaran Melibatkan Sekolah dan Masyarakat (BERSAMA)” berfokus pada peningkatan peran masyarakat untuk turut serta membangun mutu pendidikan.

Sebagai bagian dari perencanaan pra-rintisan, INOVASI bulan lalu mengadakan lokakarya untuk melibatkan pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan kunci lainnya dalam kegiatan literasi dan perlindungan anak di Desa Lepadi dan Desa Ranggo. Sebelumnya pada tahun 2017, pemetaan awal mengungkapkan beberapa informasi penting tentang konteks budaya di Dompu. Pada musim pacuan kuda dan musim tanam dan panen, anak-anak bisa tidak masuk sekolah selama 90 hari dalam setahun. Ini memiliki implikasi negatif dalam pembelajaran mereka.

Lokakarya ini dihadiri oleh pemerintah desa, anggota komite sekolah, 35 orang tua murid dan dibuka secara resmi oleh Emil Sribudi selaku Kepala Seksi Kurikulum dan Penilaian Dikbudpora Dompu. Hadirin lainnya termasuk Dedi Purwanto selaku Sekretaris Desa Ranggo, serta Sri Karna selaku Education Advisor Program INOVASI Provinsi NTB.

Dedi Purwanto menekankan walaupun program ini masih terkesan baru di Dompu, namun pemerintah Desa Ranggo sudah mengalokasikan anggaran dari dana desa untuk memberikan dana bantuan kepada empat PAUD di Desa Ranggo dengan 12 guru, sebagai bentuk konkret komitmen pemerintah di bidang pendidikan.

“Setiap tahunnya, pemerintah desa menyediakan anggaran Rp 100,000 untuk setiap guru. Artinya, pemerintah menyiapkan anggaran sebanyak Rp 14,400,000 setiap tahunnya,” ungkap Dedi.

Sri Karna menyampaikan dalam kesempatan ini bahwa segala bentuk komitmen tidak berarti banyak tanpa dukungan masyarakat. “Bukan hanya sekadar pelatihan tetapi ide masyarakat untuk turut berkontribusi menemukan solusi yang tepat, menyelesaikan masalah baca-tulis-hitung,” jelas Sri.

Emil turut menambahkan bahwa orang tua memiliki peran besar dalam peningkatan kemampuan literasi dan numerasi. “Karakter masyarakat itu ada di tangan orang tua dalam keluarga. Harapannya, orang tua dapat memberikan ruang dan mendukung proses pembelajaran,” ujar Emil.

Selama fasilitasi lokakarya, yang dikoordinasi oleh fasilitator daerah INOVASI, isu-isu utama tentang literasi dan numerasi diidentifikasi.

Dalam lokakarya, semua setuju bahwa guru dituntut untuk mengajar namun tanpa apresiasi dan honor yang memadai. Selain itu, masalah juga muncul dari para guru yang metode pengajarannya monoton dan tidak memiliki kreativitas. Sementara dari kelompok orang tua murid, teridentifikasi bahwa orang tua kurang memberi perhatian dan dorongan moral untuk anak rajin belajar di rumah dan sekolah. Kurangnya dukungan orang tua juga ditekankan kembali oleh kelompok pemerintah desa; misalnya dalam hal-hal sederhana seperti tidak membantu mengerjakan tugas, memeriksa kembali tugas-tugas anak apalagi dalam mendukung proses pembelajaran siswa di sekolah. Kelompok pemerintah desa juga menyatakan kurangnya koordinasi dengan orang tua, unsur sekolah dan aparat desa.

Salah satu solusi yang ditawarkan oleh kelompok orang tua adalah menginisiasi Paruga Baca sebagai ruang bersama bagi orang tua siswa, guru dan komite untuk difungsikan sebagai pusat informasi, pusat pembelajaran dan advokasi. Sedangkan solusi yang ditawarkan oleh pemerintah Desa Ranggo adalah membentuk Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa yang bertugas memetakan kualitas pendidikan di Desa Ranggo, serta perencanaan Peraturan Desa khusus bidang pendidikan. Semua ide ini akan dipertimbangkan oleh INOVASI sebagai implementasi program rintisan yang akan berlangsung pada bulan Agustus 2018.

Desa Ranggo dan Desa Lepadi kenali isu literasi dan numerasi di Dompu