Belajar Membaca di Lombok Utara

Pada bulan September 2018, INOVASI memulai 27 program rintisan dalam kemitraan dengan 18 organisasi mitra. Kemitraan ini adalah bagian penting dari pendekatan INOVASI untuk memperluas dan memperkuat keterlibatan dengan sektor pendidikan non-pemerintah Indonesia. Salah satu mitra hibah ini adalah Yayasan Tunas Aksara (YTA), yang bekerja untuk memperkuat pengajaran dan pembelajaran literasi kelas awal di Lombok Utara, salah satu kabupaten mitra INOVASI di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Bekerja dengan 12 sekolah di seluruh kabupaten, program YTA akan membekali 28 guru kelas satu dan dua dengan pelatihan Saya Suka Membaca (SSM), kurikulum, materi dan bimbingan. Guru akan membangun pemahaman dan keterampilan yang mereka butuhkan untuk mengajar membaca secara efektif dan dengan cara yang menarik, membawa anak-anak dari belajar ‘bunyi huruf’ menjadi mampu membaca kata-kata sederhana, kalimat pendek dan akhirnya paragraf pendek dan buku dengan pemahaman. Setiap sekolah juga akan diberikan ‘Perpustakaan di dalam kotak’, yang semakin memperkaya lingkungan membaca sekolah untuk siswa kelas awal.

Nurtini, seorang guru kelas satu di madrasah Tariqhul Hidayah di Lombok Utara, bercerita dengan penuh semangat ketika dia menggambarkan pengalamannya terlibat dalam program rintisan INOVASI sejauh ini. Dia dengan bangga membagikan laporan baru-baru ini dari orang tua Aisya Safitri, seorang siswa kelas dua yang telah bergabung dengan kelas satu untuk kegiatan program rintisan literasi dan penyediaan buku yang diimplementasikan Yayasan Tunas Aksara dalam kemitraan dengan INOVASI. Dalam laporan itu, orang tua Aisya menulis positif tentang perubahan dalam pembelajarannya, sejak bergabung dengan program rintisan. Dia sekarang lebih aktif ketika menyelesaikan pekerjaan rumah dan belajar sendiri di rumah, sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.

Orang tua Aisya juga menjelaskan perubahan positif dalam pengetahuan kognitifnya ketika belajar membaca. Dia sekarang bisa mengenali nama dan bunyi huruf. Menurut hasil pre-test awal, Aisya hanya bisa mengenali empat huruf. Namun sekarang, ini sudah melonjak hingga 20. Saat membaca, peningkatan ini menjadi hal yang signifikan.

Kata Nurtini, “kami memasukkan anak ini di kelas satu karena memang dia mengalami kesulitan membaca, terutama dalam hal mengingat nama-nama huruf. Sebelum diajar oleh SSM, ingatannya tentang huruf sangat lemah. Misalkan kita baru saja mengajar A, I , U, E, O, D, C. Baru berhenti sebentar, ia pasti sudah lupa lagi. Dia hanya ingat A dan hanya beberapa sisanya. Tetapi, setelah saya mengajar dengan pelatihan SSM, kemampuan Aisya mulai berkembang dan meningkat. Dia sudah dapat mengingat banyak huruf vokal dan konsonan. Bahkan, dia menguraikan kata-katanya sendiri yang sesuai dengan huruf yang diajarkan, seperti huruf O, misalnya ada kata ‘obat’ di poster, tapi ia bisa menambahkan kata-kata lain seperti ‘orang’, dan banyak lagi!”

Fasilitator Daerah program rintisan SSM juga memperhatikan peningkatan dalam pembelajaran Aisya. Sebelum program rintisan dimulai, Aisya sering absen dari sekolah karena sakit atau izin orang tua. Metode pengajaran di kelas Aisya juga tidak merangsang atau menarik, sehingga perhatian serta motivasinya untuk belajar rendah.

Sekarang sebagai hasil dari program rintisan, antusiasme dan motivasi Aisya telah meningkat pesat, dan gurunya sekarang menggunakan banyak media dan kegiatan pembelajaran yang menarik untuk menjelaskan konsep-konsep literasi. Media pembelajaran telah membantunya mengingat bunyi dan huruf, membuat pekerjaan rumah lebih mudah. Dengan pengajaran yang lebih baik, siswa seperti Aisya menjadi siswa yang lebih baik.

Video wawancara dengan Ibu Nurtini dapat ditonton di sini.

Video wawancara dengan wali murid dapat ditonton di sini.

Belajar Membaca di Lombok Utara