Bangun kesadaran fonologis untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa di Bima

Kabupaten Bima merupakan salah satu kabupaten mitra INOVASI di Provinsi NTB. Dengan menggunakan pendekatan ‘solusi lokal bagi permasalahan lokal’, INOVASI meramu program rintisan yang berbeda-beda di setiap kabupaten mitra untuk menjawab masalah, tantangan, dan konteks lokal. Dalam merencanakan dan menjalankan program rintisan, banyak pemangku kepentingan dari berbagai latar belakang yang dilibatkan secara aktif.

Melatih keterampilan membaca merupakan salah satu cara meningkatkan kemampuan literasi anak. Bersama dengan program kemitraan pendidikan Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), pemerintah Kabupaten Bima mendorong para guru, kepala sekolah dan pengawas untuk turut meningkatkan kesadaran fonologis dalam proses pembelajaran. Sederhananya, ini berarti memastikan bahwa anak-anak belajar kata-kata kunci dan suku kata yang membentuk bacaan. Dengan menguasai ini, mereka akan lebih mampu membaca.

Berangkat dari masalah lokal yaitu rendahnya nilai siswa akibat kurangnya penggunaan Bahasa Indonesia dalam proses belajar mengajar di kelas maupun sekolah, program rintisan di Kabupaten Bima berfokus pada transisi bahasa ibu ke Bahasa Indonesia. Program rintisan disebut ‘Gerakan Menggunakan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar’, atau disingkat GEMBIRA. Melalui program rintisan GEMBIRA, para fasilitator daerah (fasda) yang sudah terpilih dilatih untuk menerapkan dan membagikan kemampuannya kepada rekan-rekan sesama guru, kepala sekolah, dan pengawas. Fasda dilatih untuk menggunakan beragam modul bidang literasi dan numerasi yang telah disusun bersama sesuai konteks lokal. Modul yang disusun kemudian diujicoba melalui kegiatan “field testing” untuk dijadikan pedoman selama implementasi program rintisan yang dimulai semester ini.

Bulan Juni lalu, INOVASI menguji coba modul kesadaran fonologis di SDN Inpres Kalampa 1, Kecamatan Woha, dengan turut mengundang sejumlah guru, kepala sekolah, dan pengawas. Salah satu peserta uji coba modul dari SDN Inpres Kalampa 1, Ahmad menyampaikan kesan baiknya terhadap upaya membangun kesadaran fonologis.

“Kesadaran fonologis ternyata penting dibangun, agar bisa membedakan suku kata dalam kata dan kata dalam kalimat. Ini bagus untuk mengawal peningkatan kemampuan literasi siswa,” ungkap Ahmad.

Modul kesadaran fonologis juga dianggap dapat membantu siswa mengenal bunyi huruf. Turayah dari SDN Kalampa 2 turut menambahkan bahwa membantu siswa membangun kesadaran fonologis dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk mengenal bunyi huruf.

“Modul ini penting untuk membantu siswa agar lebih lancar mengucap bunyi dan menulis kata, sehingga siswa diharapkan dapat lebih mudah memahami kata yang diucapkan,” tambah Turayah.

Kegiatan uji coba ini akan dilanjutkan dengan implementasi keseluruhan program rintisan GEMBIRA. Implementasi akan dilakukan di tujuh sekolah mitra di Kecamatan Woha, lima sekolah di Kecamatan Bolo, tiga sekolah di Kecamatan Belo, tiga sekolah di Kecamatan Wawo, dan tiga sekolah di Kecamatan Langgudu.

Diharapkan proses implementasi setiap aktivitas di Kabupaten Bima dapat meningkatkan hasil prestasi belajar siswa, khususnya melalui pengaplikasian penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar tanpa menghilangkan bahasa lokal, bahasa Mbojo.

Bangun kesadaran fonologis untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa di Bima