Aria Wiranata: Mendukung Pendidikan Inklusi Melalui INOVASI Pembelajaran

Di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, INOVASI mengimplementasikan program rintisan untuk peningkatan kualitas pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) atau dikenal dengan sebutan program rintisan SETARA. Perhatian terhadap ABK memang terus ditingkatkan pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, karena pendidikan inklusif bagi ABK memang menjadi prioritas di daerah yang tercatat sebagai salah satu daerah di Indonesia dengan capaian tertinggi dalam hal pendidikan inklusif.

Semangat besarnya untuk mewujudkan pendidikan inklusi dalam proses belajar mengajar di Lombok Tengah menggugah Aria Wiranata, S.Pd untuk terus belajar dan menantang diri dalam membuahkan inovasi-inovasi baru bagi anak-anak didiknya yang memiliki kemampuan, kebutuhan, dan karakter berbeda.

Terus Belajar

Aria merupakan salah satu satu dari 19 fasilitator daerah (fasda) Kabupaten Lombok Tengah untuk program rintisan Peningkatan Kualitas Pembelajaran untuk Anak Berkebutuhan Khusus (SETARA). Guru di SD 22 Praya ini aktif menyuarakan pendidikan inklusi, baik di dalam maupun di luar lingkup instansinya mengajar. Pria yang akrab disapa Pak Aria ini menaruh perhatian khusus terhadap pentingnya inovasi pembelajaran yang mengakomodasi siswa dengan berbagai kemampuan dan kebutuhan.

Perhatian Aria terhadap pendidikan inklusi inilah yang membuatnya dipercaya oleh pemerintah Kabupaten Lombok Tengah untuk mengenyam pendidikan Kompetensi Kewenangan Tambahan. Pendidikan yang berfokus pada pendidikan inklusi ini berlangsung selama dua semester di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Berbekal ilmu yang didapatnya, pada tahun 2017 Aria bergabung dalam program rintisan SETARA.

Ada banyak hal baru yang didapatkannya selama bergabung sebagai Fasda di program rintisan SETARA. Salah satunya pemahaman terhadap pentingnya pendekatan Problem Driven Iterative Adaptation (PDIA). Pendekatan yang mengedepankan konteks lokal dan berkelanjutan ini menjadi jawaban bagi tantangan lokal Kabupaten Lombok Tengah.

“Pendekatan PDIA program INOVASI membuat siswa-siswa saya lebih antusias menjalani proses belajar mengajar. Sebab, pendekatan yang dilakukan lebih sesuai dengan masalah dan tantangan yang mereka hadapi,” ungkapnya.

Menurutnya, program rintisan SETARA mampu memberikannya wawasan baru dan mendalam tentang pendidikan inklusi. Program rintisan ini terutama membantunya untuk mengevaluasi peningkatan hasil belajar siswa, baik itu di kelas rendah maupun kelas tinggi. Sebelum bergabung dengan SETARA, hal ini sulit dilakukannya.

“Sebelum mengenal SETARA, teman-teman menyarankan saya untuk mengikuti berbagai metode dan media belajar untuk mengatasi masalah keterlambatan belajar pada siswa. Namun, meski ada peningkatan, mereka tetap sulit mengingatnya. Hari ini diberikan materi, besoknya sudah lupa,” kenangnya. Mengingat kembali perjuangannya mengatasi tantangan demi tantangannya saat itu, Aria mengaku sempat menitikkan air mata.

“Saya sadar bahwa untuk membantu siswa mencapai hasil belajar yang maksimal, sebaiknya guru fokus pada kelebihan siswa, bukan kekurangannya. Lalu, kita motivasi siswa untuk menutup kekurangan dengan kelebihan yang mereka miliki,” ungkapnya.

Mengajar siswa berkebutuhan khusus membutuhkan usaha ekstra. Pengajar harus menantang diri untuk menciptakan materi pembelajaran yang didesain semenarik mungkin.

“Seorang guru harus dapat mengajar murid-muridnya dengan penuh kasih, seperti kasih sayang seorang ibu kepada anaknya,” tekan Aria.

Semangat Berbagi

Bekal pengetahuan dan kemampuan praktis tentang pendidikan inklusi dari SETARA tidak membuat Aria cepat berpuas diri. Hingga saat ini ia masih mencari media pembelajaran yang mampu merangkul kebutuhan tiap siswanya yang memiliki karakter dan hobi yang berbeda.

Aria melakukannya dengan menerapkan konsep diferensiasi (pembedaan) di tempatnya mengajar. Ia bersedia memberikan waktu dan energi lebih untuk merancang pekerjaan rumah yang berbeda, sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa didiknya. Namun, ia sadar, bahwa pekerjaan ini tidak bisa dilakukan seorang diri. Komunikasi yang baik harus terbangun di antara pendidik dan wali murid. Salah satunya, mereka akan memberikan laporan berkala tentang perkembangan masing-masing siswa kepada orang tua.

Aria sangat beruntung, kepeduliannya yang besar terhadap praktik pendidikan inklusi di sekolah ini mendapat dukungan penuh dari kepala sekolah dan rekan-rekan gurunya. Proses transfer ilmu pun terjadi melalui ruang-ruang diskusi di antara para pengajar.

Aria percaya bahwa keberadaan forum diskusi dan berbagi pengalaman yang dilakukan dalam semangat kebersamaan ini sangat dibutuhkan dalam menumbuhkan inovasi pembelajaran di antara guru-guru di Lombok Tengah.

Bagaimanapun, Aria mengakui bahwa tidak sedikit pula rekan gurunya yang menolak metode pembelajaran SETARA yang diperkenalkannya, hanya karena ia masih terbilang junior. Namun, mereka yang berhasil mengenali kebenaran metode ini dari pengalaman mengajar di kelas memberikan respons positif.

Menurutnya, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan semangat pendidikan inklusi di Lombok Tengah. Melalui ajang penghargaan, kepala sekolah dapat memberikan apresiasi kepada guru-guru yang berhasil membuat terobosan inovatif dalam mewujudkan pendidikan inklusi di tempatnya masing-masing.

“Mereka yang berhasil unggul, nantinya bisa mendapatkan hadiah berupa media khusus, seperti perangkat multimedia, media gambar bercerita, atau perangkat sound system, untuk membantu kelancaran proses pendidikan inklusi di kelas,” demikian ide Aria.

Kemampuan guru dalam berinovasi ini menurutnya juga bisa ditempuh melalui lokakarya rutin dengan mendatangkan para ahli di bidang inklusi dan guru pendamping. Melalui kesempatan ini para guru bisa berkonsultasi, serta mendapatkan bekal pengetahuan dan keterampilan praktis yang bisa mereka uji cobakan di sekolah masing-masing.

“Harapan saya untuk pendidikan inklusi di Lombok Tengah tidak muluk-muluk. Ketika saya bisa melihat siswa saya senang. Ketika mereka menunggu kehadiran saya dengan senyuman. Inilah hadiah terbesar saya sebagai seorang guru,” ungkapnya.

Aria Wiranata: Mendukung Pendidikan Inklusi Melalui INOVASI Pembelajaran