Pembelajaran Berkualitas bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Lombok Tengah, NTB

Tanggal 3 Desember ditetapkan Perserikatan Bangsa-bangsa sebagai Hari Disabilitas Internasional. Hari tersebut diperingati dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran publik tentang hak-hak dan kesejahteraan para penyandang disabilitas di dalam setiap aspek menyangkut kehidupan bermasyarakat dan pembangunan manusia termasuk pendidikan. Indonesia adalah negara dengan sistem pendidikan dengan posisi keempat di dunia yang berkonsekuensi pada sulitnya memastikan penyediaan layanan pendidikan yang setara dan inklusif bagi semua anak bangsa. Data dari sensus 2010 mencatat bahwa hanya 53% penyandang disabilitas yang menempuh pendidikan dibanding dengan 98% mereka yang bukan penyandang disabilitas.[1] Ari Karnia, guru mitra INOVASI dari Lombok Tengah menceritakan kisahnya menciptakan lingkungan pembelajaran inklusif di kelasnya.

Ari Karnia, S.Pd adalah seorang guru kelas 4 SDN Peresak Bebuak, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, yang memiliki semangat tinggi untuk mendidik siswa dengan kesulitan fungsional atau biasa disebut dengan siswa berkebutuhan khusus. Ari bangga bisa bergabung dan menjadi bagian dari pelaksanaan program INOVASI di daerahnya.

Lombok Tengah, sebagai salah satu kabupaten mitra INOVASI di Provinsi Nusa Tenggara Barat, telah menyatakan kepeduliannya untuk meningkatkan mutu pendidikan inklusif dengan menelurkan Peraturan Bupati Lombok Tengah tentang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Nomor 39 Tahun 2013. Sejak pengimplementasian program di Lombok Tengah pertengahan 2016, INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia), program kemitraan pendidikan Pemerintah Indonesia dan Australia, telah berupaya dalam rangka meningkatkan dan menemukan cara-cara untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa khususnya yang berkaitan dengan kemampuan literasi, numerasi, dan inklusi. Berkolaborasi dengan pemerintah kabupaten dan Dinas Pendidikan, INOVASI telah mengimplementasikan program rintisan pendidikan inklusif bersama dengan pihak sekolah dan masyarakat.

Pada tahun 2019, bermitra dengan FKIP UNRAM (Universitas Mataram), program rintisan pendidikan inklusif diperluas dengan melatih para guru dari 14 institusi pendidikan tentang konten-konten pendidikan inklusif. Tercatat 62 guru dan kepala sekolah telah mengikuti 5 unit pelatihan modul pendidikan inklusif yang dikembangkan oleh INOVASI.

Ari yang telah mengajar selama 4 tahun merasa bangga bisa terpilih menjadi fasilitator daerah (Fasda), setelah melalui proses rekrutmen yang ketat, dapat bertugas untuk mendampingi guru-guru mitra program.

“Saya mulai bergabung dengan INOVASI sejak bulan Agustus 2019 dan bertugas mendampingi guru-guru mitra INOVASI untuk mendukung siswa berkebutuhan khusus. Kami juga mengidentifikasi dan membuat media pembelajaran,” tuturnya ketika ditanya tugasnya sebagai seorang Fasda.

Berstatus sebagai Fasda, Ari membantu para guru untuk menciptakan beragam media pembelajaran yang dapat digunakan siswa dengan berbagai kesulitan belajar dan kebutuhan khusus. Media-media tersebut dapat pula digunakan oleh siswa reguler untuk dapat memahami konsep-konsep dasar pembelajaran.

Salah satunya adalah Papan Kelipatan, media yang membantu siswa memahami konsep kelipatan. Pembuatan media ini terbilang mudah dan bahannya dapat diambil dari barang-barang bekas yang ada di sekitar lingkungan kelas dan sekolah.

Salah satu strategi untuk mendukung siswa dengan kesulitan fungsional adalah dengan pojok baca. Ari mendesain kelasnya dengan pojok baca untuk meningkatkan minat baca siswa dan lingkungan kelas yang nyaman bagi siswa untuk betah belajar di kelas. Terlihat di dinding kelas ada tempelan-tempelan hasil karya siswa seperti gambar atau lukisan siswa. Ada tempat khusus untuk meletakkan tas murid sehingga mereka termotivasi belajar di tempat duduknya masing-masing dan tidak fokus belajar. Pengaturan tempat duduk juga dibuat sedemikian rupa sehingga alur diskusi dan ruang gerak siswa dalam belajar lebih efektif. Di salah satu pojok ruangan kelas, Ari menata buku-buku Serial Si Bintang, buku bacaan untuk mengajarkan bahasa isyarat dan didesain oleh Forum Lingkar Pena, organisasi yang mengimplementasikan program kemitraan (Partnership) INOVASI di Lombok Tengah. Pojok baca ini sering dikunjungi siswa ketika jam istirahat dan buku Serial Si Bintang menjadi bacaan favorit.

SDN Peresak Bebuak ditetapkan Dinas Pendidikan Lombok Tengah untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif. Persinggungannya dengan pendidikan inklusif dimulai sejak Ari mengajar sebagai guru honorer di sekolah ini dan secara akademik mendapatkan pengetahuan dan keterampilan menghadapi siswa dengan kesulitan fungsional sejak mengikuti Program Kependidikan dan Kewenangan Tambahan (KKT) di UNESA (Universitas Negeri Surabaya) yang difasilitasi oleh Dinas Pendidikan Lombok Tengah.

Lulusan IKIP Mataram jurusan Pendidikan Biologi, Ari berpendapat kalau siswa dengan kesulitan fungsional merupakan anak istimewa dan untuk itu layak diperlakukan istimewa.

“Menurut saya ABK itu, lebih ke anak istimewa karena itu membutuhkan pelayanan yang istimewa. Pelayanan yang dalam artian lebih daripada siswa-siswa lainnya. Sebagai guru, kita intensifkan pembimbingannya. Kita tidak mengetahui kemampuan mereka kalau kita tidak berikan pelayanan khusus atau tepat sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki,” ucapnya.

Ari mengingat pengalamannya berhadapan dengan isu inklusif ketika masih duduk di bangku SD yang memiliki teman dengan kesulitan fungsional.

“Dulu waktu saya SD, saya punya teman yang mengalami cerebral palsy (lumpuh otak). Artinya tubuhnya itu kaku. Walaupun dengan keterbatasan yang dia alami, dia sampai lulus wisuda di jurusan komputer. Bayangkan saja anak atau orang dengan cerebral palsy, gerakan tangan, kaki dan sebagainya itu mengalami kesulitan. Tapi ternyata itu tidak menghambat dirinya untuk mengeluarkan kemampuan yang dia miliki.”

Sebagai guru, tidak jarang Ari berhadapan dengan siswa berkebutuhan khusus. Sekali waktu Ari memiliki siswa dengan gangguan penglihatan dan sering menemui siswa dengan hambatan belajar. Ari menyimpulkan bahwa hal yang penting untuk dilakukan tenaga pendidik dalam menghadapi siswa dengan kesulitan fungsional adalah dengan memberikan bimbingan khusus secara intensif dan diberikan pelatihan tentang pendidikan inklusif.

“Biasa kita temukan ABK di sekolah khususnya di SDN Peresak Bebuak itu adalah anak dengan kesulitan belajar atau lamban belajar. Saya rasa di setiap sekolah memiliki siswa yang lamban belajar. Lamban dalam artian dia itu agak lamban memahami pembelajaran dibanding anak-anak lainnya. Kebetulan di kelas saya itu ada salah seorang anak yang memiliki kesulitan fungsional. Jadi, bentuk intervensi yang kita berikan adalah dengan bimbingan khusus.”

Ari menjelaskan bahwa sejak bergabung dalam program rintisan ini, Ari telah mendapat pengetahuan beragam tentang pendidikan inklusif, termasuk penggunaan PBS (Profil Belajar Siswa). Bagaimana cara mengisi formulir PBS serta cara mengadaptasi dan membuat rencana pelaksanaan pembelajaran siswa dengan kesulitan fungsional.

PBS adalah alat yang dikembangkan Kemendikbud dengan dukungan INOVASI dan program TASS (Technical Assistance for Education Systems Strengthening) untuk mengidentifikasi siswa dengan kesulitan fungsional. Saat ini, alat ini sedang diuji di seluruh provinsi di Indonesia yang berfokus kepada pengintegrasian data di DAPODIK dan EMIS Kementerian Agama. Diharapkan dengan adanya PBS ini dapat mengatasi tantangan terkait validitas dan reliabilitas data pendidikan inklusif.

Pemastian akan terpenuhinya pendidikan yang berkualitas akan menunjang peningkatan mutu tenaga kerja dan pekerjaan, kompetisi ekonomi regional dan di saat yang bersamaan akan menjamin sumber daya manusia yang produktif dan sehat. Tentunya, Ari sebagai guru memiliki peranan penting dalam mendukung tujuan mulia tersebut.

 

[1] Note that this figure draws on 2010 census data. UNESCO 2018.

Pembelajaran Berkualitas bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Lombok Tengah, NTB