Antusiasnya Siswa Belajar Penjumlahan dengan Tangga Penjumlahan

Selamat Hari Santri Nasional! Sejak Presiden Jokowi meresmikan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional (HSN), sangatlah sesuai jika momen ini juga digunakan untuk mendorong kemajuan pendidikan Islam Indonesia yang lebih baik dan mampu memberikan daya saing secara global. Terkait hal ini, INOVASI pada bulan September 2018 menandatangani kemitraan dengan asosiasi Islam terkemuka Maa’arif NU dan Muhammadiyah untuk bekerja sama dalam memperkuat dan meningkatkan mutu pendidikan serta hasil belajar siswa di bidang literasi dan numerasi (calistung), khususnya di kelas awal.

Melalui program kemitraan dan hibah dari INOVASI, Ma’arif NU saat ini sedang mengujicobakan cara-cara baru dalam meningkatkan hasil belajar literasi dan numerasi siswa kelas awal di 10 madrasah mitra yang berada di kabupaten Sidoarjo, Pasuruan dan Sumenep. Program ini diluncurkan di Surabaya pada bulan Mei 2019. Rohmawati, salah satu guru yang terlibat di dalam program, membagikan ide belajar dan pengalamannya sejauh ini.

Rohmawati, guru kelas IB di MI Al Qodir Kecamatan Taman Sidoarjo masuk ke kelas membawa selembar styrofoam yang diberi warna dan tempelan angka sehingga menarik untuk dilihat. Begitu melihatnya, beberapa anak kelas IB berteriak, “Wah apa itu, Bu?” beberapa anak yang penasaran langsung berdiri dari bangku tempat duduknya berlari mendekat ke meja guru. “Boleh lihat Bu, boleh dipegang?” teriak beberapa anak.

Rohma segera meminta anak-anak untuk duduk dan memberitahukan bahwa hari ini materi pelajaran adalah pelajaran matematika tentang operasi penjumlahan.

Ia kemudian menunjukkan styrofoam yang sudah dibentuk seperti tangga tadi. “Anak-anak, Ibu memiliki tangga penjumlahan. Dimulai dari angka 1 paling bawah, naik hingga angka sepuluh paling atas. Setiap kenaikan satu tangga, itu artinya bilangan dibawahnya ditambah 1. Sehingga angka 1 naik ke tangga 2 maka angka 1 ditambah 2,” terang Rohma. Anak-anak kemudian dipandu untuk membaca angka 1 sampai 10 bersama-sama dan menuliskannya di papan tulis.

Selanjutnya Rohma menunjukkan lidi yang telah diberi bendera. Nah, setiap lidi tersebut kemudian ditancapkan pada setiap tangga. “Jadi kalau ada 3 lidi, maka ditancapkan ditangga 1, 2, 3 ya anak-anak. Kalau lidinya ditambah 2 lagi maka ditancapkan ke angka 4 dan 5. Maka 3 lidi ditambah 2 lidi, jadi berapa? Tanya Rohma kepada anak-anak. “Jawabannya lima Bu!” teriak anak-anak bersamaan sambil menunjuk lidi terakhir yang tertancap di angka 5. Selanjutnya siswa diminta duduk berkelompok dan Rohma membagikan lembar kerja. Siswa boleh menggunakan media pembelajaran yang dibawa oleh Rohma untuk menjawab soal yang diberikan.

Demikian pembelajaran matematika yang berlangsung di MI tersebut dengan menggunakan media yang diberi nama ‘Tangga Penjumlahan’ begitu menarik dan antusias diikuti siswa. Rohma menuturkan, sebelumnya dia mengajarkan matematika secara konvensional dengan menuliskan operasi penjumlahan di papan tulis. Dia harus beberapa kali menjelaskan karena beberapa anak masih bingung memahami.

Namun hal ini sangat berbeda ketika Rohma sebagai salah satu guru kelas awal telah mengikuti kegiatan Kelompok Kerja Madrasah (KKM) di Gugus Taman Sidoarjo, dimana materi yang diberikan adalah numerasi kelas awal dengan pendampingan dari para fasilitator daerah yang telah dilatih oleh INOVASI.

“Perbedaannya jauh sekali. Dulu saya harus mengulang beberapa kali pertemuan dengan materi operasi penjumlahan kepada siswa karena mereka masih bingung. Saya juga harus memberikan banyak PR pada siswa supaya mereka bisa berlatih mengerjakan soal operasi penjumlahan terus menerus di rumah,” terangnya.

Namun setelah mendapatkan pelatihan numerasi kelas awal di KKM, Rohma jadi memiliki banyak ide untuk membuat pembelajaran menjadi menyenangkan bagi siswa. Siswa menjadi cepat memahami pelajaran hanya dalam satu kali pertemuan saja.

Menurut Rohma, kegiatan KKM di gugus yang dia ikuti juga menjadi lebih bermanfaat dan bermakna bagi para guru setelah mendapatkan arahan dan pendampingan dari fasilitator daerah. “Setiap media yang sudah kita buat kita bawa ke KKM, yang dilakukan setiap 2 minggu sekali, untuk di diskusikan dengan para guru lainnya. Kami saling berbagi ilmu dan pengalaman,” terangnya.

MI Al Qodir merupakan salah satu madrasah ibtidaiyah (MI) yang menjadi mitra program kemitraan antara INOVASI dengan LP Ma’arif NU dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran yang berlangsung di MI, khususnya di Jatim.*

Antusiasnya Siswa Belajar Penjumlahan dengan Tangga Penjumlahan