‘Tangkel Ion’, Media Pembelajaran dari Batok Kelapa Karya Guru di Sumbawa Barat, NTB

Pada tahun 2018, Ludya Mirsafa, S.Pd. SD, guru di Guru SDN 11 Taliwang, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, terlibat dalam salah satu program rintisan INOVASI, yaitu Guru BAIK (Belajar-Aspiratif-Inklusif-Kontekstual).

“Program Guru BAIK berupaya meningkatkan kapasitas guru SD dan MI agar mampu menjadi guru yang selalu B-Belajar, selalu mendengar aspirasi, sehingga bersifat A-Aspiratif, selalu melibatkan seluruh siswanya sehingga bersifat I-Inklusif, serta memperhatikan konteks sehingga bersifat K-Kontekstual,” jelas Ludya.

Ludya menjelaskan bahwa melalui program rintisan Guru BAIK ini, Ludya dibimbing bagaimana menemukan masalah, menggali akar permasalahan, hingga menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapinya ketika di kelas. Menurutnya, INOVASI menjadi wadah untuk mengembangkan kreativitasnya dalam pembelajaran.

Salah satu tantangan pembelajaran yang dihadapi siswa di kelas Ludya adalah dalam hal memahami bilangan positif dan negatif. Melihat rendahnya kemampuan siswa, Ludya pun berkeinginan membuat sebuah media pembelajaran untuk membantu siswanya.

Sebetulnya materi ajar yang disampaikan Ludya tidak berbeda dengan yang diajarkan guru-guru lain. Namun, media pembelajarannya yang berbeda. Ia menciptakan media pembelajaran kreatif yang bernama “Tangkel Ion”. Tangkel artinya batok kelapa, sedangkan ion adalah istilah yang menggambarkan bilangan positif dan negatif. Selain banyak, tangkel juga mudah didapat di daerahnya dan terpenting Ludya ingin mengangkat sebuah kearifan lokal, maka tangkel lah yang akhirnya ia pilih.

Media pembelajaran inilah yang membuat siswa belajar penuh semangat karena belajar menjadi menyenangkan karena sambil bermain, sehingga jauh dari membosankan.

Tangkel Ion merupakan media pembelajaran yang terbuat dari batok kelapa yang dapat ditemukan dengan mudah di sekitar kita. Tangkel Ion ini sangat menarik karena dikemas menjadi sebuah permainan yang terdiri dari dua deret tangkel atau batok kelapa.

Satu deretnya untuk batu hitam atau bilangan negatif dan satu deretnya lagi untuk batu putih atau bilangan positif. Setiap batok diisi satu batu dan jawabannya adalah jumlah batok yang tidak memiliki pasangan.

Contoh soal -4 + 2, maka batu hitam yang dimasukkan satu persatu ke dalam masing-masing batok sampai 4 batu dan 2 batu putih dimasukkan ke dalam deretan batok lainnya. Hasilnya adalah ada dua buah batok yang berisi batu hitam tidak mempunyai pasangan sehingga jawabannya adalah -2.

Siswa-siswa sangat senang bermain menggunakan tangkel ion. Pembelajaran menjadi menyenangkan dan siswa lebih mudah mengerti tentang bilangan positif dan negatif.

“Semenjak saya mengikuti kegiatan-kegiatan INOVASI, kemampuan mengajar saya semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena pemahaman saya terhadap media pembelajaran membaik. Media pembelajaran yang semula berfokus pada media pembelajaran modern, tetapi ternyata melalui program INOVASI, saya diajarkan untuk menemukan permasalahan dan menjawabnya dengan konteks lokal.”

Kepada rekan sesama guru, Ludya berpesan agar terus berkreasi dan berinovasi dengan cara mengenali watak siswa, mencari tahu permasalahan di kelas dan berupaya menemukan solusinya yang dapat ditemukan di lingkungan sekitar.

‘Tangkel Ion’, Media Pembelajaran dari Batok Kelapa Karya Guru di Sumbawa Barat, NTB