‘Stick Box’ untuk Membantu Siswa Kelas Awal Belajar Menyusun Kata

Sejak tahun 2018, INOVASI melakukan kolaborasi dengan berbagai LSM, LPTK, dan Organisasi Kemasyarakatan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran literasi dan numerasidi kelas awal, serta pendidikan yang inklusif. Di Sidoarjo, Jawa Timur bersama UNESA sebuah program rintisasn bertajuk ‘Literasi Ramah Anak’  dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kompetensi profesional dan pedagogis guru dalam mengembangkan kemampuan literasi kelas awal di 15 sekolah. Pada akhir program, hasil pembelajaran siswa pun meningkat. Program ini melibatkan seluruh pemangku kepentingan sekolah dan kabupaten, termasuk guru, pustakawan, komite sekolah, pengawas sekolah, dan staf pendidikan kabupaten. Kegiatan kuncinya meliputi pelatihan tentang Gerakan Literasi Sekolah dan Kerangka Literasi Seimbang; pembentukan tim literasi sekolah yang terdiri atas fasilitator lokal di setiap sekolah untuk mendukung penerapan program yang diusulkan, dan mengembangkan sekolah literasi ramah anak; serta pemberian buku bacaan yang tepat mengikuti perkembangan anak. Diharapkan melalui pembentukan kebiasaan membaca, pengembangannya, dan pembelajaran terus-menerus, akan terjadi perubahan positif di dalam ekosistem sekolah dan dapat meningkatkan hasil pembelajaran siswa. Salah satu guru yang terlibat di dalam program ini adalah Tia Retno Ayu Santoso, S.Pd yang merupakan guru kelas 1 di SDN Cemenkalang Sidoarjo.


Menjadi guru, apalagi guru sekolah dasar di kelas 1, dituntut terus berkreasi dan berinovasi agar anak-anak lebih senang dan lebih mudah menyerap pelajaran yang telah diberikan. Seorang Guru SDN Cemengkalang Sidoarjo, Jawa Timur, Tia Retno Ayu Santoso, S.Pd pun memiliki ide untuk membantu siswa kelas awal lebih mudah mengenal huruf dan kata. Ia membuat media pembelajaran yang diberi nama ‘Stick Box‘.

Stick Box ini terbuat dari kardus bekas yang dilubangi serta dilapisi kertas kado agar menambah penampilan lebih indah. Sedangkan stick-nya ditempeli huruf abjad berukuran kecil dan besar.

Untuk siswa yang belum lancar membaca maka dapat digunakan huruf abjad besar. Sedangkan siswa yang sudah cukup lancar dapat menggunakan huruf abjad yang kecil.

Sebelum menggunakan media, Tia mengawali dengan bercerita untuk menstimulus siswa agar mereka lebih tahu tentang is cerita. Dari cerita tersebut akan ditemukan beberapa kata-kata, baik itu nama orang, nama hewan ataupun nama tumbuhan.

Langkah selanjutnya, Tia pun membuat acuan bagi para siswa untuk menyusun huruf. Dalam penyusunannya, huruf-huruf bisa diacak dan siswa akan diminta untuk maju ke depan kelas dan menyusunnya dengan benar.

Upaya ini dilakukan Tia sebagai solusi terhadap tantangan pembelajaran yang ia hadapi di kelasnya. Setiap diminta menyusun huruf menjadi kata, kebanyakan siswa masih kesulitan dan juga kebingungan.

Selama ini, siswa-siswa mengeluh kesulitan dan bingung ketika diminta menyusun huruf menjadi kata. Namun dengan menggunakan media pembelajaran ‘Stick Box‘ rupanya bisa membantu siswa untuk lebih bisa mendengar, melihat dan memperagakan, serta mempraktikannya secara langsung. Dari pengalamannya, mengajar memanfaatkan media ini memudahkan siswa untuk belajar menyusun kalimat. Yang lebih penting lagi, program pembelajaran seperti ini sangat membantu siswa yang tadinya tidak mengenal huruf sama sekali.

Sebagian dari siswa juga hanya tahu sebatas menghafal mulai dari huruf a sampai z. Mereka kerap kesulitan ketika diminta membedakan huruf b, d, n dan m.

Menghadapi situasi seperti ini, Ia mencoba untuk sering mengulang-ulang menyebutkan nama-nama huruf, baik itu huruf besar ataupun huruf kecil. “Saya akui memang harus telaten, sedikit demi sedikit, lama-lama siswa akan hafal,” cerita Tia.

Seandainya mau menulis ‘buaya’ mereka saya minta menulis di buku tulis dahulu beberapa kali. Tunjuannya hanya untuk menghafalkan ‘buaya’ itu tulisaannya seperti apa. Setelah mereka paham hurufnya, baru saya jelaskan bahwa hurufnya adalah b – u – a – y – a. Begitu terus, saya minta mereka mengulang beberapa kali, termasuk kita acak dahulu hurufnya dan minta siswa untuk menata lagi, agar mereka benar-benar paham dan mengerti.

Kemampuan mengajar Tia pun semakin baik terutama setelah mendapat pendampingan dari program yang dilaksanakan oleh Universitas Negeri Surabaya (UNESA) bekerja sama dengan INOVASI.

“Cara mengajar saya perlahan-lahan berubah, dan tentunya hal ini berdampak pada perkembangan yang lebih baik pada siswa saya,” jelas Tia.

Di kelas 1 SD, salah satu yang diajarkan di kelas kepada siswa adalah kemampuan membaca dan menulis. “Dengan belajar seperti ini, saya melihat siswa-siswa lebih senang dan lebih semangat untuk belajar. Apalagi untuk anak SD kelas 1 itu jenjangnya tidak hanya menghafal a sampai z, tetapi mereka juga harus mulai pandai menyusun kata-kata. Seperti mengenalkan fonologi ba – bi – bu – be – bo…. dan lainnya,” kata Tia menutup ceritanya.

‘Stick Box’ untuk Membantu Siswa Kelas Awal Belajar Menyusun Kata