Reading Camp untuk Mempercepat Peningkatan Kemampuan Membaca Siswa Kelas Awal

“Bagaimana mungkin anak bisa mengikuti pelajaran sesuai kurikulum kalau membaca saja tidak bisa?” Pertanyaan ini dulu pernah dilontarkan oleh Beatriks M. E. Kurnianingsih, Kepala Sekolah SD Katolik Kalelapa, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur awal 2019 lalu lantaran mendapati kemampuan membaca siswa di sekolahnya tergolong rendah. Sejak saat itu, SD Katolik Kalelapa pun mencoba menerapkan Reading Camp, sebuah metode pembelajaran untuk mempercepat peningkatan kemampuan dasar membaca siswa khususnya di kelas awal.

Reading Camp pada hakikatnya adalah kelompok membaca. Pada kegiatan Reading Camp, siswa dari kelas 1, 2, dan 3 dikelompokkan berdasarkan kemampuan membaca awal mereka. Karena demikian, pengelompokan ini dilakukan secara terorganisasi dan terjadwal oleh para guru dan kepala sekolah. Begitu pula dengan penilaian beserta evaluasi hasil penilaian.

Informasi kemampuan membaca awal siswa diperoleh melalui tes formatif yang telah disediakan oleh INOVASI dan dapat dikembangkan oleh para guru seiring perkembangan kemampuan siswanya. Tes tersebut menguji kemampuan siswa dalam membaca huruf, suku kata, kata, kalimat sederhana, serta pemahaman mereka. Kelima tahapan tes inilah yang menjadi basis pengelompokan siswa. Setiap kelompok didampingi oleh satu atau lebih guru tergantung jumlah siswa dalam kelompok tersebut.

Marlince U. Deta yang pada waktu itu merupakan guru kelas 2A mendapatkan mandat untuk mendampingi kelompok membaca kata. Di awal pelaksanaan kegiatan, kelompok ini terdiri dari tujuh siswa yang berasal dari kelas 2 dan 3. Pada kelompok ini, Marlin – begitu ia biasa disapa – menggunakan kartu kata untuk membantu para siswa merangkai kalimat. Reading Camp sendiri diadakan 3 kali dalam sepekan dan berlangsung sepanjang hari – khususnya untuk kelompok membaca huruf, suku kata, dan kata.

Di semester kedua 2019, Marlin dipercaya untuk mengampu siswa kelas 1 setelah sekitar 2 tahun mengajar di kelas 2. Saat pertama kali mengajar, ia mendapati seluruh siswanya masih berada di kelompok membaca huruf. “Wajar karena mereka baru masuk sebagai siswa baru,” kata Marlin. Selain mendapatkan pembimbingan oleh guru pendamping kelompok membaca huruf, siswa-siswa kelas 1 juga dibimbing langsung oleh Marlin di luar jadwal Reading Camp. Pendampingan tambahan ini dilakukan Marlin hampir setiap hari selama beberapa menit.

Marlin membagi mereka ke dalam tiga kelompok kecil agar pembelajaran bisa lebih fokus. Ia juga meluangkan waktu untuk beberapa siswa cenderung lamban dalam belajar. Misalnya dengan mengajak siswa-siswa tersebut untuk bermain tebak cepat huruf. Marlin meletakkan sejumlah huruf secara acak di atas meja. Kemudian meminta dua atau tiga siswa untuk berlomba menunjuk huruf-huruf yang ia sebutkan.

Kepala Sekolah, Ningsih, meyakini bahwa Reading Camp dengan berbagai strategi pendampingan yang dilakukan guru dapat mengatasi persoalan rendahnya kemampuan membaca siswa jika dilakukan secara konsisten. Hal ini diamini oleh Marlin yang melaporkan bahwa sudah ada siswanya yang naik tingkat ke membaca suku kata dan kata. “Jadi, tinggal 11 orang yang ada di (kelompok) huruf,” ungkap Marlin mengacu pada hasil penilaian pada November 2019.

Menurut Marlin, kegiatan membaca huruf jauh lebih menantang daripada membaca kata karena siswa kurang atau bahkan belum pernah mengenal huruf sebelumnya. Banyak siswa yang sulit membedakan huruf-huruf yang bentuk simbolnya mirip seperti b, d, dan p.

Reading Camp untuk Mempercepat Peningkatan Kemampuan Membaca Siswa Kelas Awal