Program Membaca Berimbang untuk Tingkatkan Kemampuan Literasi Siswa

INOVASI dan Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLAI) menerapkan program membaca seimbang yang menyasar peningkatan hasil pembelajaran di bidang mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis bagi anak-anak kelas 1-3 di sekolah-sekolah mitra program. Program ini memberikan pendekatan berbeda dalam mengajarkan membaca kepada anak-anak yang masih berusia sangat muda, agar sesuai dengan perkembangan mereka. Selain itu, program ini melibatkan anak-anak dalam prosesnya dan membangkitkan kecintaan untuk belajar membaca. Upaya yang dilakukan adalah untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa terutama yang duduk di kelas 1-3 SD, dengan meningkatkan akses ke bahan bacaan yang sesuai usia mereka, dan meningkatkan kapasitas guru untuk menggunakan materi tersebut saat mereka mengajar. 


Ada beragam cara yang digunakan dalam upaya meningkatkan kemampuan peserta didik dalam membaca. Salah satunya dengan menerapkan program Membaca Berimbang. Membaca Berimbang sendiri merupakan sebuah program yang mengedepankan beragam kegiatan membaca yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa.

Dalam penerapannya program ini tidak hanya sesuai dengan sekolah yang berada di perkotaan saja, tetapi juga dengan sekolah di wilayah pedesaan sebagaimana yang terlihat di SD Inpres Wee Ndindi di Kabupaten Sumba Barat Daya. Sejak kehadiran program yang diimplementasikan oleh Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLAI) di bawah kemitraan dengan INOVASI sejak September 2018 silam, banyak perubahan yang sudah dirasakan oleh para murid di sekolah tersebut.

Siswa yang kesulitan mengenal huruf dan membaca kata di kelas awal perlahan-lahan mulai berubah. Padahal di awal kehadirannya, menurut Fasilitator Daerah (Fasda) untuk program ini, Nening Dolpaly, guru-guru kelas awal agak kesulitan menerapkan program tersebut di kelasnya. Butuh waktu hampir sebulan bagi mereka untuk memahami materi dan penerapan program Membaca Berimbang dengan strategi membaca yang disesuaikan dengan tingkatannya.

Strategi membaca yang dimaksud adalah empat kegiatan membaca yang dilakukan secara bergantian yaitu membaca interaktif, membaca bersama, membaca terbimbing, dan membaca mandiri. Keempat kegiatan ini diadakan di semua kelas awal dengan porsi yang sesuai.

“Harus diakui, khusus kami di sekolah ini memang banyak anak didik kami yang belum fasih membaca. Ini karena anak-anak disini membaca apa yang ada dipikiran mereka. Misalnya kata tetap mereka baca tepat. Untuk mengatasinya, kami memanfaatkan kegiatan membaca bersama dengan buku besar. Hasilnya bagus mereka sudah bisa ingat huruf apa dan materi apa yang mereka baca,” kata Nening yang juga adalah guru kelas 3 di SD Inpres Wee Ndindi ini. Kegiatan membaca bersama, lanjut Nening, diadakan selama tiga pertemuan untuk satu judul buku besar. Masing-masing pertemuan memiliki fokus masing-masing. Salah satunya adalah pengenalan tanda dan ekspresi dalam membaca.

Perubahan pada kemampuan siswa tentu diawali dengan perubahan pada pola mengajar guru. Kata Nening, guru-guru kelas awal yang dulunya mengajar secara klasikal sepanjang pembelajaran, kini lebih fasilitatif dan berusaha mengakomodasi kebutuhan belajar setiap siswanya. Mereka pun mengawasi dan membimbing para siswa saat kegiatan membaca. Mereka juga tak segan terlibat dalam permainan bersama anak didikya. Hal ini juga diakui oleh guru kelas 1 SD Inpres Wee Ndindi, Yuliana Bolo Dadi.

Yuliana mengakatakan kehadiran program Membaca Berimbang memberikan warna tersendiri bagi dirinya dan perkembangan anak didiknya, serta sangat kontekstual dengan kondisi anak-anak Sumba saat ini. Pada tahun ajaran 2018-2019, anak didiknya yang saat itu berjumlah 27 orang, sebagian di antaranya sudah bisa membaca kata dengan baik. Bahkan beberapa di antaranya sudah bisa membaca kalimat pendek.

Bagi Yuliana, itulah bukti nyata hasil penerapan program ini. Sebelumnya, ia pernah menerapkan proses belajar mengenal huruf kepada para muridnya dengan cara menuliskan huruf dan menyuruh anak membaca secara berulang-ulang. Hal ini, katanya, membuat anak-anak jadi bosan.

“Saya terapkan metode lain sebelum program ini ada, tapi sepertinya tidak cukup berdampak. Strategi-strategi mengajar membaca yang diberikan oleh program ini sederhana tapi memiliki dampak yang nyata. Jadi, kami dengan senang hati menerapkannya,” terangnya.

Program Membaca Berimbang untuk Tingkatkan Kemampuan Literasi Siswa