Pembelajaran Efektif dan Inovatif untuk Siswa dengan Bermacam Kemampuan dan Disabilitas

Melalui proses pelatihan dan pendampingan, program Guru BAIK (Belajar-Aspiratif-Inklusif-Kontekstual) di Lombok Tengah, NTB bertujuan meningkatkan kemampuan dan pengetahuan guru, kepala sekolah, dan pengawas untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip penelitian tindakan kelas (PTK) sebagai salah satu strategi yang kontekstual dan proses pemecahan masalah dalam mengatasi tantangan pembelajaran, khususnya tentang literasi dan numerasi di kelas awal. Peserta program pun diharapkan menjadi pribadi yang pembelajar, mendengarkan aspirasi siswa, memberi kesempatan belajar yang sama bagi siswa yang disesuaikan dengan konteks masing-masing. Upaya ini pun telah membawa perubahan yang berarti karena guru-guru peserta program pun menjadi lebih menyadari bahwa proses pembelajaran yang bermutu ditentukan oleh guru, sebab masing-masing siswa memiliki potensi.


Hilmiza Umnia Fauzan, adalah guru dan salah satu fasilitator program INOVASI di Kabupaten Lombok Tengah. Selama lebih dari sembilan tahun, Mia sapaan akrabnya, mengajar di SDN Selebung, Kecamatan Praya Tengah. Menurutnya, mengajarkan literasi dan numerasi di kelas awal memiliki tantangan yang beragam serta menuntut kemampuan guru kelas untuk melihat kemampuan dan kebutuhan individual siswa. “Ini sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah saya dapatkan selama pelatihan program Guru BAIK oleh INOVASI,” tambahnya.

Merefleksikan pengalamannya sebelum menjadi fasilitator program INOVASI, Mia merasa bahwa dulu ia kurang peka melihat keberagaman kemampuan dan hambatan belajar siswa.

“Dulu saya berpikir kalau lamban belajar adalah hal yang wajar dan lumrah dihadapi siswa, yang nantinya akan terselesaikan di jenjang pendidikan berikutnya. Namun, ternyata tak begitu adanya. Permasalahan ini akan berlanjut jika tak ditangani dengan baik lalu sering berujung pada sisiwa yang bersangkutan menjadi putus sekolah,” ujarnya.

Setelah mengikuti pelatihan kerja sama INOVASI dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Mia merasa lebih peka terhadap keberagaman dan keterlambatan belajar siswa yang lalu menuntutnya untuk berinovasi di dalam kelasnya.

Pengenalan terhadap pendekatan solusi yang sesuai konteks di pelatihan melatih Mia untuk mampu mengembangkan solusi se-kontekstual mungkin. Sesekali, menurut Mia, ia menyisipkan permainan tradisional dan mengembangkan bahan ajar kontekstual seperti sedotan bekas untuk mengenalkan operasi bilangan kepada siswa.

“Saya menjadi lebih reflektif dan inovatif dalam menjadikan tantangan mengajar sebagai sebuah peluang untuk menggali bakat dan kelebihan siswa. Kemudian, menggunakannya sebagai bagian dari metode ajar untuk membantu mengatasi kelemahan siswa yang bersangkutan,” terang Mia.

Pengalaman di kelasnya, Mia menangani dua siswa berkebutuhan khusus, di mana satu siswa terindikasi lamban belajar sedangkan siswa lainnya ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder). Uniknya, Mia peka melihat bakat siswa dengan harapan siswa tersebut memiliki kepercayaan diri dan motivasi lebih sehingga terhindar dari rasa malu dan penindasan (bullying).

Untuk siswanya yang ADHD misalkan, Mia menemukan bahwa kemampuan menghafal siswa tersebut berada di level lebih tinggi daripada teman sekelasnya, sehingga dalam banyak kesempatan Mia tidak memaksa anak tersebut untuk menulis tetapi memfokuskan pada penajaman memorinya.

“Saya juga mencoba mendekati keluarga ABK (Anak Berkebutuhan Khusus), menjelaskan dengan bahasa sesederhana mungkin bahwa putra/putri mereka berbeda. Namun, harapan selalu ada untuk mereka berkembang sesuai potensi dan kelebihannya,” tambah Mia.

Hal ini juga untuk membangkitkan kesadaran keluarga bahwa guru tidak 24 jam bersama sisiwa, sehingga kehadiran dan harmonisasi hubungan sekolah dan keluarga sangatlah penting dalam meningkatkan kemampuan belajar siswa terutama mereka yang berkebutuhan khusus.

Mia pun berharap berbagai praktik-praktik baik bisa menjadi inspirasi oleh guru-guru lainnya di Lombok Tengah, terutama mereka yang mengajar literasi dan numerasi kelas awal.

“Memang tidak mudah merubah pola pikir per seorangan, tapi saya yakin ketika guru menjadi lebih peka terhadap keberagaman siswa, maka ke depan guru menjadi agen perubahan yang menentukan wajah pendidikan nasional beberapa tahun ke depan,” tutur Mia menutup ceritanya.

Pembelajaran Efektif dan Inovatif untuk Siswa dengan Bermacam Kemampuan dan Disabilitas