Menggunakan Peta Membaca, Guru Lebih Memahami Kemampuan Membaca Anak

Di Bulungan, Kalimantan Utara, INOVASI bersama pemerintah kabupaten mengimplementasikan program rintisan literasi kelas awal. Program ini bertujuan untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa kelas awal di bidang literasi, melalui peningkatan mutu pengajaran literasi – termasuk keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS),  memperdalam pemahaman guru terhadap tahapan dan pendekatan yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar literasi di kelas awal, serta meningkatkan kemampuan guru dalam mengidentifikasi, menyusun materi dan media literasi yang relevan bagi seluruh siswa di kelas. Berikut ini kisah guru yang membuat Peta Kemampuan Membaca Siswa, di mana ide tersebut diperolehnya setelah mengikuti pelatihan program INOVASI yang dilakukan melalui kegiatan di KKG.


Mengajar di kelas 1 SD tidak pernah mudah. Tapi kini dengan peta kemampuan membaca siswa, Ibu Normiah, Guru Kelas 1 SDN 017 Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara merasa sangat terbantu. Peta ini membantunya melayani anak agar bisa belajar sesuai kemampuannya.

Sudah 23 tahun Ibu Normiah berprofesi sebagai guru. Beberapa waktu ini ia ditugaskan mengajar di kelas 1. Menurutnya mengajar kelas 1 adalah sebuah tantangan. Cukup sulit, terutama untuk urusan membaca. Hal ini juga mengingat banyak anak yang masuk SD tanpa kemampuan mengenal huruf.

Tetapi kini Ibu Normiah sudah lebih percaya diri. Apalagi setelah bisa memetakan kemampuan membaca anak. Alat diagnostik yang ia kembangkan sederhana sekali. Ia hanya menggunakan potongan huruf, suku kata dan kata dari kertas. Kalau dihitung pakai rupiah, alat dianogstik ini tidak mahal.

Cara memakainya pun tidak rumit. Anak-anak satu per satu ia minta maju ke depan kelas. Setelah itu mereka diberi beberapa potongan huruf. Anak diminta membaca dan menunjuk satu persatu huruf itu. Jika anak mampu, maka tantangan ditingkatkan. Anak diminta membaca suku kata. Misalnya ‘ka’ dan ‘ki’. Nah jika anak belum bisa mengeja suku kata, maka kemampuan membaca si anak dimasukkan kepada: mampu membaca huruf.

Bagaimana kalau anak mampu membaca suku-kata? Tantangan pun akan ditingkatkan ke kemampuan membaca kata. Misalnya anak diberi kata ‘bola’. Anak akan diminta membaca kata itu tanpa mengeja. Jika anak masih mengeja, maka kemampuan anak dianggap masih level bisa membaca suku kata.

Begitu sampai anak mampu membaca kata tanpa mengeja. Jika anak bisa sudah bisa membaca kata, tanpa mengeja maka Ia berada di level mampu membaca kata.

Hasil tes membaca kemudian Ibu Normiah sajikan dalam betuk gambar besar. Gambar itu berisi foto, nama anak dan kemampuan membacanya. Ditempel di dinding kelas, dan menjadi alat bantu guru. Peta ini Ibu Normiah manfaatkan untuk mendesain layanan belajar anak. Dengan ditempel di dinding, ia bisa langsung tahu kemampuan membaca siswanya.

Kalimat Positif

Menurut Ibu Normiah, hasil diagnostik itu tidak ditujukan untuk membandingkan siswa. Itu sebabnya ia menggunakan kalimat positif untuk mendeskripsikan kemampuan siswa. Hasil pemetaan itu ia beri nama ‘Data Siswa yang Telah Mampu Membaca’.

Sengaja ditulis positif, agar yang orang yang membacanya berpikiran positif juga. Jika ditulis secara negatif, misalnya tidak mampu membaca suku kata, nanti anak akan dianggap bodoh. Padahal tidak ada anak yang bodoh. Oleh karena itu, Ibu Normiah menggunakan kata ‘Telah Mampu’. Kata tersebut mencerminkan penghargaan kepada perkembangan kemampuan siswa. Ia pun optimis bahwa seiring waktu kemampuan membaca siswa-siswanya akan meningkat. Yang penting anak dilayani sesuai kemampuan belajarnya.

Layanan Khusus

Setelah berhasil melakukan pemetaan kemampuan membaca anak, Ibu Normiah pun mendesain pembelajaran. Anak-anak ia layani belajar sesuai kemampuan masing-masing. Anak-anak dipisahkan berdasarkan kemampuan membacanya. Mereka duduk dalam satu kelompok. Jadi di kelas Ibu Normiah ada empat kelompok. Satu kelompok mampu membaca huruf, 2 kelompok mampu membaca suku kata dan 1 satu kelompok membaca kata.

Guna melayani mereka, Ibu Normiah membuat media khusus. Media itu disebut ‘Papan huruf, suku kata dan kata’. Masing-masing kelompok memakai ‘papan’ ini untuk belajar.

Dapat ide

Pemetaan kemampuan baca, Ibu Normiah kembangkan setelah ia mengikuti pelatihan program literasi kelas awal INOVASI. Ide tersebut datang setelah ia mengikuti pelatihan Unit 4 di kegiatan KKG. Bersama Ibu Warsiah – yang merupakan Fasilitator Daerah (Fasda) INOVASI, Ibu Normiah merancang alat tes sederhana.

Ibu Normiah telah lama menyadari bahwa setiap siswa punya kemampuan membaca yang berbeda. Tapi ia tidak tahu bagaimana memetakannya. Ia hanya tahu anak sulit membaca saja, tapi tidak jelas dimana letak masalahnya.

Pemetaan ini tidak hanya membantu Ibu Normiah memetakan kemampuan anak, tetapi juga menjadi alat ukur perkembangan anak nantinya. Ia pun yakin peta ini akan berubah dalam sebulan. Jumlah anak-anak yang bisa membaca suku kata dan kata pasti bertambah.

Jika kemampuan membaca anak sudah meningkat, maka foto sang anak akan ia pindahkan. Anak pasti akan senang. Kalau sudah senang, anak pasti lebih giat belajar.

Menggunakan Peta Membaca, Guru Lebih Memahami Kemampuan Membaca Anak