Menumbuhkan Kepekaan Bilangan Anak dengan ‘Bingkai 10’

Nilai tempat adalah sebuah konsep yang penting dipahami setelah siswa mengerti tentang kuantitas (jumlah) bilangan dan dapat menghitung kuantitas benda. Ketika siswa menyadari bahwa menghitung satu-per-satu tidak lagi efisien untuk menentukan kuantitas kumpulan benda, maka konsep pengelompokkan benda dan menghitung lompat dapat mulai dikenalkan kepada siswa. Di antara berbagai macam cara pengelompokkan benda, mengelompokkan sepuluh-sepuluh memiliki peran yang sangat penting untuk dapat memahami konsep yang lebih tinggi, yaitu Nilai Tempat. Dalam kehidupan sehari-hari, sepuluh (10) adalah basis dari sistem bilangan kita sehingga seringkali kita melihat bilangan yang merupakan kelipatan 10 (atau perpangkatan 10) dan satuan. Bahkan, siswa kelas awal mungkin sudah mampu membaca bilangan dua-angka seperti “24” sebagai “dua puluh empat” dan “42” sebagai “empat puluh dua”, tanpa mengetahui mengapa dan bagaimana kedua bilangan ini berbeda satu sama lain.

Berdasarkan National Council of Teachers of Mathematics (NCTM, 2000), transisi dari melihat ‘sepuluh’ sebagai akumulasi 10 satuan menjadi melihat ‘sepuluh’ sebagai 1 puluhan adalah langkah yang sangat krusial bagi siswa untuk mengerti sistem bilangan basis sepuluh. Untuk mempelajari Nilai Tempat, aktivitas pembelajaran di kelas dapat dimulai dengan mengelompokkan benda menjadi sepuluh-sepuluh. Aktivitas menggunakan benda konkret akan sangat membantu siswa untuk melakukan pengelompokkan dan membuat hubungan antara kuantitas benda dengan kemasan sepuluh-sepuluh. Bermain dengan Bingkai 10 dan dengan bahan-bahan lainnya dapat digunakan untuk mengenalkan konsep nilai tempat.


Pada jenjang kelas 2 SD, siswa diharapkan sudah memahami konsep nilai tempat bilangan tiga angka (ratusan, puluhan, dan satuan). Pemahaman ini penting karena akan berpengaruh langsung pada bagaimana siswa membaca dan menuliskan bilangan. Selain itu, pemahaman pada konsep nilai tempat juga membantu siswa dalam memahami operasi bilangan khususnya penjumlahan dan pengurangan.

Namun di SD Masehi Bondo Kandelu, pemahaman konsep nilai tempat masih menjadi tantangan pembelajaran bagi guru-guru, khususnya di kelas awal. Andryane Bora yang mengampu siswa kelas 2 mengaku keterbatasan pengetahuannya terhadap konsep nilai tempat membuatnya sulit untuk memberikan pemahaman konsep ini kepada siswa. “Saya hanya mengikuti apa yang ada di buku teks saja, mengajar apa adanya,” kata Andryane.

“Misalnya,” Andryane menjelaskan, “saya kasih soal 5+5=10, saya langsung tulis beserta jawabannya di atas papan dan meminta siswa untuk menyalinnya di buku catatan mereka.” Cara seperti ini membuat siswa tidak terbiasa menuliskan lambang bilangan dengan benar. Terlebih lagi untuk memahami nilai dari sebuah bilangan.

Soal lain yang dicontohkan Andryane adalah 15+17 yang dijawab secara lisan oleh siswa dengan 27. Namun saat menuliskannya, mereka menuliskannya dengan 72. Ini menjadi indikasi bahwa anak belum memahami nilai yang dimiliki oleh sebuah angka karena tempatnya. Belum lagi penulisan lambang bilangan yang masih sering keliru seperti angka 2 yang ditulis seperti huruf -s.

Alat peraga yang digunakan pun hanya sebatas jari tangan saja sehingga siswa bingung ketika operasi penjumlahan atau pengurangan untuk angka di atas 10.

Dengan bantuan bingkai 10, Andryane perlahan mulai mengubah strategi mengajarnya. Setelah mengikuti pelatihan bersama INOVASI, ia jadi mengerti bahwa 10 adalah dasar dari sistem bilangan yang digunakan sehari-hari sehingga lebih mudah jika menggunakan dasar tersebut untuk mengajar siswa. Andryane menggunakan benda konkret yaitu biji asam agar siswa lebih mudah dalam membuat pengelompokkan sepuluh-sepuluh dan untuk membuat siswa berpartisipasi secara aktif.

Pertama, ia membagi siswanya ke dalam beberapa kelompok dan masing-masing siswa diberikan dua bingkai 10 dan sejumlah biji asam. Ia lalu menunjukkan sejumlah contoh bingkai 10 dengan bulatan di beberapa kotaknya dan meminta siswa untuk meletakkan biji asam di atas bingkai 10 mereka sesuai dengan contoh.

Selanjutnya siswa diminta untuk melakukan penjumlahan angka satuan seperti 7+2 atau 4+5 dengan menambahkan biji asam sesuai angka yang dijumlahkan. Siswa kemudian menghitung total biji asam yang ada di bingkai 10.

Operasi selanjutnya adalah penjumlahan dengan angka puluhan, misalnya 10+5. Andryane memancing siswa dengan pertanyaan, “Kira-kira ada berapa bingkai 10 yang digunakan untuk penjumlahan ini?”. Pada latihan ini, siswa sudah mulai dikenalkan dengan pengelompokkan 10 dan nilai tempat.

Operasi penjumlahan yang melibatkan angka puluhan yang lebih besar dilakukan dengan cara yang sama. Begitu pula dengan operasi pengurangan.

Andryane juga mulai mengintegrasikan muatan matematika ke dalam permainan, misalnya dalam permainan Batu Kanako seperti berikut:

  1. Guru menyiapkan lima batu kecil lalu mengepal dan mengocoknya.
  2. Dengan tangan terkepal, guru meminta siswa untuk menebak berapa batu dalam kepalannya.
  3. Setelah siswa menjawab, guru menunjukkan kartu bilangan sesuai dengan jumlah batu yang ada di kepalan. Guru juga bisa membiarkan siswa mencari kartu bilangan yang sesuai dari tumpukan kartu yang disediakan.
  4. Siswa lalu latihan menulis angka lima pada buku mereka.

Alat peraga dan permainan seperti ini membangkitkan semangat belajar siswa, kata Andryane. Meski masih ada yang menulis lambang bilangan secara terbalik, secara umum, siswa sudah bisa menuliskannya dan mengenal lambang bilangan dengan baik.

Tantangan

Menurut Andryane, salah satu alasan mengapa beberapa siswa masih belum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan adalah tingkat kehadiran mereka yang rendah. Hal ini dikarenakan anak-anak sering mengikuti kegiatan-kegiatan kebudayaan setempat seperti pesta kematian dan pernikahan maupun lebih memilih untuk membantu orangtua mereka di ladang atau sawah.

Minimnya kesadaran orangtua terhadap pentingnya pendidikan juga menjadi alasan anak-anak jarang masuk sekolah. Nela, rekan guru Andryane yang mengajar kelas 1 mengamini hal ini. “Nanti pada masuk sekolah saat pembagian bantuan PKH (Program Keluarga Harapan),” katanya.

Menumbuhkan Kepekaan Bilangan Anak dengan ‘Bingkai 10’