Meningkatkan pemahaman dan kemampuan komunikasi siswa melalui dongeng

Mendongeng bisa menjadi salah satu hiburan menarik bagi anak-anak. Aktivitas ini pun sering dilakukan orang tua kepada anak. Di sekolah, anak-anak juga disajikan dengan pembelajaran yang menarik serta buku-buku cerita yang menyenangkan untuk mereka baca. Guru-guru pun sudah terbiasa membacakan cerita sebagai bagian dari pembelajaran. Bukan hanya menyenangkan, aktivitas mendongeng juga berpengaruh besar pada pembentukan karakter positif pada anak.

Di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur memang praktik membacakan cerita ini adalah hal yang tidak biasa dilakukan, baik itu di rumah maupun di Sekolah. Beberapa alasan praktik tersebut belum menjadi bagian dari pembelajaran di sekolah adalah ketidakhadiran alat bantu pembelajaran – seperti buku-buku cerita yang sesuai usia anak, serta guru yang belum cukup terlatih dengan metode pembelajaran seperti ini. Hal ini pun berdampak pada minat baca siswa sekolah dasar, terutama di kelas awal, yang tergolong rendah.

Namun kini perubahan positif pun mulai terlihat sejak program literasi kelas awal diimplementasikan melalui program INOVASI di beberapa sekolah di Pulau Sumba. Sekolah-sekolah dampingan program telah mulai mencoba berbagai strategi pembelajaran untuk mengatasi tantangan ini.

Di Kabupaten Sumba Barat misalnya. Guru kelas 1 SD Negery Lokory, Apliana B. Awang, mengembangkan sendiri alat bantu mengajarnya dalam bentuk Big Book atau buku besar. Cerita-cerita di dalam Big Book ia kembangkan agar sesuai dengan konteks di daerah Sumba, agar siswa-siswanya mampu menghubungkan apa yang mereka pelajari dengan keseharian siswa.

Bersama guru-guru lainnya, Apliana mengembangkan cerita-cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak Sumba, seperti keluarga, baju adat, rumah adat, dan buah-buahan yang semuanya berkaitan dengan kondisi dan budaya Sumba, khususnya Sumba Barat. Sebanyak 20 judul buku telah dihasilkan dari kolaborasi ini.

Tidak sampai di situ, Apliana kemudian membuat 14 buku besar lainnya. Karena digunakan untuk kelas 1, konten big book ini bukanlah cerita melainkan kosa kata yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa seperti binatang peliharaan, buah-buahan, budaya Sumba, dan sebagainya. Setiap halaman terdiri atas satu kata dalam bahasa Indonesia dan lokal. Meski bukan dalam bentuk cerita, dalam penggunaan buku besar tersebut Apli bersama guru lainnya mengembangkan cerita-cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak Sumba, seperti keluarga, baju adat, rumah adat, dan buah-buahan yang semuanya berkaitan dengan kondisi dan budaya Sumba, khususnya Sumba Barat. Sebanyak 20 judul buku dihasilkan dari kolaborasi ini.

Bagaimana hasilnya? Menurut pengamatan Apliana, penggabungan antara big book dan metode bercerita membuat siswa lebih semangat belajar dan lebih mudah mengingat kosa kata yang dipelajari. Bahkan siswa sering meminta untuk menggantikan gurunya membacakan kosa kata yang ada dalam buku besar tersebut. Cara seperti ini mempercepat akuisisi kosakata siswa sehingga mereka bisa lebih cepat membaca. Laporan pemetaan kemampuan membaca siswa yang dilakukannya menunjukkan peningkatan kemampuan siswa yang signifikan hanya dalam waktu empat bulan.

Sementara itu, guru kelas 4 SD Inpres Laipori di Kabupaten Sumba Timur, Itha Lape, memanfaatkan buku cerita sebagai media untuk kegiatan membaca lantang di perpustakaan ramah anak. Perpustakaan ini merupakan hasil kolaborasi antara INOVASI dan TBP (Taman Bacaan Pelangi). Pada kegiatan membaca lantang, guru membacakan cerita dengan menonjolkan ekspresi. Anak-anak duduk melantai di karpet yang sudah disediakan sementara guru duduk di depan mereka.

“Hauunnnnnngggg!” seru Itha mengekspresikan auman harimau dalam cerita yang dibacanya. Tidak ada suara sedikitpun yang terdengar dari anak-anak saat Itha mulai membacakan cerita. Mereka menikmati ekspresi yang disajikan oleh gurunya dan tidak sabar menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. “Biasanya dalam KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di kelas, mereka (siswa) susah sekali diatur. Tapi kalau kegiatan seperti ini (membacakan cerita), mereka langsung duduk rapi dan diam,” kata Itha.

Awal bulan ini, sejumlah delegasi Kementerian Pendidikan Afghanistan mengunjungi SD Inpres Laipori dan berkesempatan melihat bagaimana Itha melakukan kegiatan membaca lantang. Setelah kegiatan selesai, mereka takjub dengan cara Itha membaca cerita yang penuh dengan penjiwaan.

“Saya belum pernah melihat cara sang guru membacakan cerita seperti ini. Dia (Itha) benar-benar menjiwai cerita saat membacakannya sehingga siswa seakan-akan mengalami isi cerita,” kata Shafiullhaq Rahimi, Deputy Chief of Party Program Afghan Child Read yang ikut bersama rombongan Kementerian Pendidikan Afghanistan.

Menurut Itha, cara membacakan cerita seperti itu meningkatkan fokus dan perhatian siswa sehingga mereka lebih mudah mengingat informasi dan memahami ceritanya. Ini bisa dibuktikan dari kemampuan siswa untuk menceritakan kembali cerita yang baru saja dibacakan atau menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar cerita.

 

 

 

Meningkatkan pemahaman dan kemampuan komunikasi siswa melalui dongeng