Mengubah Barang Bekas Menjadi Media Pembelajaran yang Menjawab Kebutuhan Belajar Siswa

Penggunaan barang bekas sebagai salah satu media pembelajaran untuk numerasi dan literasi kini menjadi tren di Kabupaten Sumba Barat Daya. Hal ini bermula sejak program INOVASI diimplementasikan di sejumlah sekolah di Sumba Barat Daya. Penggunaan barang-barang bekas tersebut pun berdampak pada peningkatan kemampuan belajar siswa, terutama dalam hal kemampuan numerasi dan literasi. Dampak tersebut pun dirasakan juga di SD Negeri Wee Karoro yang terletak di Kecamatan Wewewa Tengah.

Sekolah yang terletak agak jauh dari pemukiman warga dan terkesan terpencil ini, rupanya bukan sekedar sekolah yang biasa-biasa saja. Tembok dinding kelas yang semula hanya dilengkapi gambar Pancasila dan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia, kini berubah dengan banyaknya gambar hasil kreasi para siswa mulai dari gambar huruf, angka, pohon, dan lainnya. Kelas-kelas juga sudah dilengkapi dengan sudut baca.

Tidak hanya itu, beberapa tutup botol, kemasan air mineral, kardus dan kertas bekas juga terlihat di ruang kelas khususnya di kelas rendah. Menurut pengakuan guru kelas 3, Yunita Frederika Malo, barang-barang bekas tersebut digunakan oleh dirinya bersama guru lainnya sebagai media belajar numerasi. Penggunaan barang bekas tersebut baru dimulai sejak dirinya mengenal INOVASI dan diberi ruang untuk belajar pada program tersebut.

Menjadi bagian dari INOVASI telah membuka pikirannya bahwa menjadi guru tidak cukup dengan mampu mengajarkan ilmu kepada para siswa saja tetapi juga harus mampu menjadi guru yang kreatif dalam menciptakan alat dan media yang bermuara pada peningkatan anak didik itu sendiri. Berbekal pengetahuan yang diperoleh, dirinya mulai memanfaatkan barang bekas sebagai alat bantu ajar pada September 2018 silam untuk pelajaran numerasi. Tutup botol adalah barang pertama yang ia gunakan.

Diuraikannya, tutup yang ditemukan di lingkungannya dikumpulkan dan dibersihkan. Lalu pada tutup botol bagian luar dituliskan angka yang berbeda-beda. Tutup-tutup botol dengan angka tersebut kemudian digunakan oleh para siswa untuk pelajaran berhitung. Semua alat bantu yang dikembangkan digunakan secara bergantian. Tujuannya sederhana, agar para peserta didiknya bisa memahami betul operasi dasar matematik seperti penjumlahan dan pengurangan.

“Awalnya saya tidak pernah memikirkan memakai barang bekas seperti yang sekarang saya gunakan sebagai media belajar berhitung. Saya gunakan metode konvensional saja. Tapi usai ikut INOVASI ternyata banyak barang-barang di sekitar yang bisa saya gunakan sebagai media pembelajaran,” kata Yunita.

Walaupun menemui kesulitan pada awalnya, tetapi dengan semangat yang tidak pernah pudar dirinya terus berjuang untuk menerapkan apa yang telah ia pelajari dari pelatihan-pelatihan INOVASI untuk dipraktikkan di kelasnya.

Hasilnya pun cukup signifikan. Perubahan yang paling terasa adalah peningkatan kemampuan anak di kelasnya. Dari 17 siswa pada tahun ajaran 2019/2020 di kelasnya, tinggal tiga siswa yang belum fasih berhitung. Ini tidak lepas dari kondisi dan situasi anak yang menurutnya amat kental dipengaruhi oleh lingkungan di mana dirinya tinggal. Namun, sekali lagi ia tidak patah arang. Ia terus berusaha agar di akhir semester, tiga siswa tersebut bisa berkembang seperti teman-teman lainnya.

Sebagai guru, dirinya sadar keberhasilan itu bukan semata dari berhasilnya ia menerapkan metode belajar yang baik kepada muridnya, tetapi juga harus mambawa muridnya keluar dari ketidaktahuan yang mereka miliki. Rekan guru lainnya, Oriana Muti yang saat ini mengajar peserta didik yang duduk di kelas 5 mengungkapkan hal serupa. Guru yang sempat mengikuti pelatihan Kelompok Kerja Guru (KKG) ini, menggantikan guru kelas 1 yang berhalangan hadir, mengatakan, “Anak-anak jadi lebih aktif dan semangat mengikuti pelajaran dengan adanya penerapan metode mengajar dengan media barang bekas itu.” Karena itu, ia yakin hal serupa bisa juga diterapkan di kelas tinggi.

Mengubah Barang Bekas Menjadi Media Pembelajaran yang Menjawab Kebutuhan Belajar Siswa