Mendokumentasikan Perkembangan Kemampuan Baca Siswa dengan Running Record

Peningkatan kemampuan membaca dan menulis peserta didik merupakan salah satu tanggung jawab besar guru. Maka dari itu, peningkatan kapasitas guru dalam mengelola pembelajaran harus terus dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Barat telah bekerja sama dengan INOVASI sejak awal bulan November 2017 dengan tujuan utama meningkatkan mutu hasil belajar peserta didik dalam bidang literasi. Program-program yang dilaksanakan di Sumba Barat antara lain; Kepemimpinan Pembelaran, KKG Literasi 1 dilanjutkan dengan KKG Literasi 2. Berdasarkan hasil evaluasi program, dirasakan bahwa kemampuan guru meningkat dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan beragam strategi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, diantaranya membaca terbimbing dengan menggunakan buku berjenjang. Selain peningkatan kemampuan dalam memberikan strategi pembelajaran yang lebih baik, kemampuan guru dalam melakukan penilaian membaca juga lebih baik. Kemampuan guru meningkat dalam melaksanakan penilaian formatif dan running record untuk menilai kemampuan membaca peserta didik.


Mendokumentasikan perjalanan perkembangan kemampuan membaca siswa penting dilakukan oleh guru sebagai acuan untuk menilai keberhasilan pembelajaran dan membuat strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Salah satu alat untuk mendokumentasikan perkembangan tersebut adalah Running Record atau penilaian membaca yang berkesinambungan.

Running record mengukur kemampuan membaca siswa secara lisan dengan keluaran berupa informasi berupa jumlah kata yang dibaca dengan benar atau salah dan kemampuan koreksi diri siswa saat membaca. Oleh sebab itu, penilaian ini hanya digunakan pada siswa yang setidaknya sudah bisa membaca kata.

Di SD Negeri Lokory Sumba Barat, Albertina Maryon telah melakukan running record pada siswanya yang duduk di kelas 3 sejak mendapatkan pelatihan program Literasi Kelas Awal INOVASI yang dilaksanakan melalui kegiatan di Kelompok Kerja Guru (KKG) pada September 2019 lalu. Albertina melakukan penilaian ini setiap hari. Siswa dikelompokkan berdasarkan hasil pemetaan kemampuan mereka menggunakan instrumen penilaian formatif yang dikembangkan oleh INOVASI.

Untuk kelompok yang baru mengenal huruf, Albertina berikan bimbingan khusus. Sementara mereka yang sudah bisa membaca suku kata hingga membaca pemahaman diberikan instrumen running record. Setiap anak membaca sejumlah teks secara bergiliran dan Albertina mencatat kata-kata yang siswa baca dengan benar dan salah dan pada bagian mana siswa melalukan koreksi diri.

Hasil tes yang dilakukan digunakan untuk menentukan tingkatan siswa. Mereka yang mencapai tingkat akurasi membaca 95%-100% dikategorikan sebagai siswa yang sudah bisa membaca mandiri. Persentasi di bawah itu hingga 90% adalah siswa yang berada pada tingkat berkembang sementara siswa dengan persentasi di bawah 90% perlu mendapatkan bimbingan lebih lanjut.

Pada bulan Oktober 2019, terdapat 10 siswa Albertina yang sudah bisa membaca lancar dan dengan pemahaman. Dari hasil penilaian running record, dari 10 siswa ini, tujuh di antaranya masuk dalam kelompok mandiri dan tiga lainnya merupakan kelompok berkembang. Setelah penilaian dilakukan, Albertina mengajukan pertanyaan seputar apa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana yang menguji pemahaman dan kemampuan berpikir kritis siswa. Di satu kesempatan, ia memulai pelajaran dengan membaca kalimat pertama dari sebuah buku.

“Hari ini sangat cerah,” baca Albertina lalu menyusulnya dengan pertanyaan kepada siswa.

“Mengapa dikatakan hari ini sangat cerah?” lanjutnya.

“Karena tidak ada hujan toh, Bu,” kata beberapa siswa serentak.

“Karena di luar terang, tidak mendung,” kata siswa lainnya.

Penilaian dengan running record ini, menurut Albertina, sangat membantu untuk mengetahui kemampuan siswanya. Ia pun lebih mudah menyusun metode-metode membaca yang sesuai dengan kebutuhan siswanya. “Anak-anak jadi cepat mengingat dan memahami detail peristiwa,” kata Albertina. Hingga saat ini, ada beberapa siswa yang awalnya baru bisa membaca suku kata kini sudah bisa membaca dengan lancar.

Siswa yang sudah bisa membaca dengan pemahaman dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Higher Order Thinking Skills (HOTS) dengan baik, meski pertanyannya diubah-ubah.

Meski demikian, apa yang dilakukan Albertina belum sepenuhnya berhasil. Ia mengatakan alat bantu visual sangat membantu anak untuk memahami bacaan tapi saat dihadapkan dengan teks tanpa gambar, siswa jadi kesulitan. Selain itu, saat membaca, siswa kadang tidak membaca suku kata tertentu dalam sebuah kata. Misalnya pada kata “Lihatlah!”, mereka hanya akan menyebutkan “Lihat!”

Dalam menulis pun seperti itu, saat Albertina mendikte kelompok siswa yang butuh bimbingan kalimat “Saya makan nasi.”, siswa akan menulis kata-kata seperti sya, mkn, maka, dan nsi. Hal ini juga berlaku pada saat mengeja huruf. Misalnya saat mengeja kata mobilku, mereka akan melakukan dengannya baik tapi saat membaca katanya, mereka akan menyebutnya aku.

Mendokumentasikan Perkembangan Kemampuan Baca Siswa dengan Running Record