Membimbing guru menjadi pengajar yang menjawab kebutuhan belajar anak

Salah satu hasil temuan studi INOVASI pada tahun 2017 dan 2018 lalu adalah pengetahuan dan keterampilan guru mengajar di kelas awal yang masih tergolong rendah. Hal ini dibenarkan oleh Agustina Rambu Leki, Kepala Sekolah SD Masehi Wairasa di Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur yang juga merupakan Fasda (Fasilitator Daerah) program Literasi Kelas Awal INOVASI. Menurutnya, hal ini disebabkan karena sebagian besar guru merupakan lulusan SMA atau bahkan SMK.

“Kebanyakan guru itu dari (lulusan) SMA maupun SMK. Tidak ada dari SPG (Sekolah Pendidikan Guru – sederajat SMA) sehingga mereka tidak memiliki metode atau strategi mengajar yang tepat, khususnya untuk kelas awal,” kata Agustina. Menurutnya, metode yang digunakan oleh guru masih klasikal, baik dari segi penyampaian materi maupun media pembelajaran yang digunakan. Akibatnya, kebutuhan belajar setiap siswa tidak terpenuhi.

Tantangan juga datang dari latar belakang siswa. Hampir semua siswa yang mulai belajar di sekolah dampingan Agustina tidak melalui jenjang TK (Taman Kanak-kanak) atau PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sebelumnya. Jadi, pada saat mereka memulai sekolah, mereka sama sekali belum mengenal huruf, apalagi mampu membaca.

“Memang sudah ada pengelompokkan sesuai dengan tingkat kemampuan siswa tapi kegiatan pembelajaran tetap sama untuk setiap kelompok. Misalnya, pada saat membaca, semua siswa diberikan teks yang sama atau menggunakan media yang sama,” kata Agustina.

Pengelompokan yang dilakukan guru, menurut Agustina, sebenarnya menunjukkan bahwa mereka menyadari kebutuhan belajar siswa berbeda-beda. Akan tetapi mereka belum mengetahui strategi-strategi yang bisa digunakan untuk membantu mereka. Pada akhirnya, mereka hanya memberikan jam pelajaran tambahan bagi siswa yang dianggap kurang mampu tanpa perubahan strategi pembelajaran.

Berperan sebagai fasilitator program INOVASI

Sebagai seorang Fasda, Agustina membantu guru-guru di tiga sekolah dampingannya agar mampu memberikan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa di kelas. Pengelompokan dilakukan berdasarkan kemampuan membaca siswa. Mereka dibagi menjadi kelompok “belum mampu”, “kurang mampu”, dan “sudah mampu”. Pengelompokan ini menggunakan instrumen Hiradata yang pada dasarnya adalah salah satu bentuk tes afirmatif.

Tingkat masing-masing kelompok hanya diketahui oleh guru untuk menghindari demotivasi pada siswa. Media pembelajaran disiapkan dan disesuaikan dengan masing-masing kelompok. Pada awal pembelajaran, guru tetap menggunakan metode klasikal untuk memberikan pemahaman terkait materi pelajaran. Selanjutnya, siswa akan bekerja secara berkelompok. Guru akan mendampingi kelompok “sudah mampu” terlebih dahulu untuk memberikan arahan untuk menyelesaikan tugas. Setelah itu, guru pindah ke kelompok “kurang mampu” dan membimbing siswa hingga bisa mengerjakan tugas secara mandiri. Terakhir, guru membantu siswa di kelompok “belum mampu” untuk membaca dan menyelesaikan tugas yang diberikan.

Di sekolah-sekolah dampingan Agustina, perubahan-perubahan positif mulai bermunculan. Metode dan media pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa membuat siswa lebih aktif dalam kelas. Minat baca mereka pun semakin meningkat.

Sementara itu, Agustina mengatakan bahwa guru semakin kreatif mengembangkan media pembelajaran. Mereka pun tidak perlu menunggu komando dari kepala sekolah dan Fasda untuk mencari dan menemukan bahan-bahan untuk membuat alat peraga. Bahkan salah satu guru dampingan Agustina “memulung” barang-barang bekas untuk dijadikan alat peraga.

Guru-guru pun mengapresiasi pendampingan yang dilakukan oleh Agustina. “Sebelumnya kami merasa tidak memiliki kemampuan apa-apa untuk mengajar. Setelah dibimbing oleh Mama (Ibu) melalui INOVASI, saya jadi ingin terus belajar dan memperkaya metode dan strategi pembelajaran saya,” kata Agustina mengutip komentar salah seorang guru dampingannya.

Melihat dampak yang dihasilkan di sekolah-sekolah dampingan, Agustina berinisiatif untuk menerapkan apa yang ia dapatkan selama pelatihan dan pendampingan program INOVASI di sekolahnya sendiri.

Tidak sampai di situ, Agustina juga sering diminta untuk menjadi narasumber pada kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan literasi di Sumba Tengah. Bahkan diminta untuk memberikan pelatihan terkait program INOVASI di KKG (Kelompok Kerja Guru) sekolah-sekolah yang bukan merupakan sekolah lokasi implementasi program INOVASI.

Membimbing guru menjadi pengajar yang menjawab kebutuhan belajar anak