Media Big Book dalam bahasa Mbojo

Indonesia memiliki lebih 652 bahasa daerah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan pemersatu bangsa tentu berperan penting, di samping mempertahankan keberadaan bahasa-bahasa di daerah. Di dunia pendidikan Indonesia, konstitusi mengizinkan bahasa daerah digunakan sebagai pendukung dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Kemampuan guru untuk memanfaatkannya dalam metode mengajar di kelas tentu saja masih perlu ditingkatkan – transisi penggunaan bahasa daerah perlu dirancang dengan baik menuju bahasa Indonesia. Karena jika penguasaan siswa terhadap bahasa pengantar pembelajaran rendah, tentu akan berdampak pada hasil belajar. Di Kabupaten Bima, NTB, program INOVASI mendukung guru untuk membangun pemahaman siswa kelas awal dengan pendekatan transisi bahasa pengantar pembelajaran dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia.


Penggunaan bahasa daerah memang sangat dominan di keseharian masyarakat Bima termasuk anak-anak. Sebuah kondisi yang kemudian menjadi tantangan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Anak-anak masih kesulitan memahami pelajaran yang diberikan. Salah satu alasannya adalah karena anak-anak yang duduk di SD kelas awal tersebut belum menguasai bahasa pengantar pembelajaran – bahasa Indonesia.

Tantangan ini pula yang dialami oleh Khaerunnisa yang mengajar di SD IT Wihdatul Ummah, Kabupaten Bima, NTB. Namun, sejak berpartisipasi di program rintisan pembelajaran multibahasa berbasis bahasa Ibu (atau dikenal dengan program rintisan GEMBIRA) ia pun menggunakan metode ‘Jembatan Bahasa’ sebagai upaya menjawab kebutuhan pembelajaran anak-anak dengan kondisi spesifik seperti di Bima. Tidak hanya dalam soal penggunaan bahasa saja, namun juga dalam penggunaan materi pembelajaran yang dapat mendukung proses belajar mengajar.

Salah satu materi pelatihan program literasi kelas awal yang diberikan INOVASI adalah pembuatan dan pemanfaatan Big Book. Melalui pelatihan yang dilaksanakan di Kelompok Kerja Guru (KKG), para guru dilatih untuk mengembangkan keterampilan membaca dan menulis siswa di kelas awal. Istilah Big Book sendiri digunakan untuk menjelaskan buku membaca bersama yang digunakan di dalam kelas.

Pembelajaran literasi di kelas awal membutuhkan media yang dapat membantu siswa meningkatkan keterampilan membaca dan menulis. Untuk menarik perhatian siswa tentang suatu materi pelajaran, guru pun dapat memanfaatkan media pembelajaran. Seperti yang dilakukan oleh Khaerunnisa yang memanfaatkan Big Book ketika mengajar, melakukan transisi bahasa Bima ke bahasa Indonesia dengan metode Jembatan Bahasa. Ia membuat Big Book yang berisikan cerita pendek.

Salah satu Big Book yang dibuatnya berjudul ‘Kucingku’. Cerita ini juga tersedia dalam bahasa Mbojo, dengan judul ‘La Manis Ngaoku’. Seperti Big Book lainnya yang Khaerunnisa buat sendiri, Big Book dua bahasa ini juga dilengkapi dengan gambar-gambar yang menarik perhatian siswa. Gambar-gambar tersebut bisa dibuat sendiri olehnya, atau pun dari internet.

Bagaimana praktiknya di dalam kelas? Dalam kegiatan membaca bersama menggunakan metode Jembatan Bahasa, Khaerunnisa memulai kegiatan dengan bercerita dalam bahasa lokal Mbojo. Anak-anak akan duduk mendengarkan sang guru membacakan cerita ‘La Manis Ngaoku’ yang dibacakan sang guru. Setelah selesai membacakan cerita, anak-anak diberikan kesempatan untuk bertanya. Keseluruhan proses ini dilakukan dalam bahasa lokal Mbojo.

Selanjutnya, Khaerunnisa bercerita dalam bahasa Indonesia dengan proses yang serupa. Pertama-tama ia membacakan Big Book ‘Kucingku’ dalam Bahasa Indonesia. Setelah selesai, seisi kelas pun aktif berdiskusi dan anak-anak mendapat kesempatan bertanya jika ada kata atau istilah dalam bahasa Indonesia yang belum mereka pahami.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan menyusun cerita. Untuk kegiatan ini guntingan kertas berisi potongan cerita ‘Kucingku’ dalam bahasa Indonesia telah disiapkan oleh Khaerunnisa. Anak-anak pun diminta untuk menyusun kembali cerita yang sebelumnya sudah dibacakan bersama. Kegiatan ini dilakukan secara berkelompok agar anak-anak bisa saling berdiskusi dan memberi masukan.

Teknik dan metode mengajar yang diperolehnya melalui program INOVASI mampu membuat suasana kelas menjadi berbeda, dan membawa kemajuan bagi anak didiknya. Pengalaman ini telah membuka ruang-ruang kreativitas dalam dirinya untuk terus menghadirkan sesuatu yang baru di dalam kelas.

Media Big Book dalam bahasa Mbojo