Layanan Khusus untuk Siswa SD yang Lamban Membaca di Bulungan, Kalimantan Utara

Pendidikan dan peningkatan kualitas SDM merupakan salah satu fokus pemerintah dalam lima tahun ke depan. Saat ini, salah satu tantangan di dunia pendidikan Indonesia adalah rendahnya kemampuan literasi dasar di mana anak-anak masih tertinggal dari negara-negara tetangganya di wilayah ASEAN, dan hasilnya nampak dalam studi internasional yang menguji dan membandingkan prestasi anak-anak sekolah di seluruh dunia (PISA, 2015[1]; PIRLS, 2011[2]). Meski demikian, program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) di akhir tahun 2019 mencatat bahwa dengan model pelatihan pedagogi yang tepat, kompetensi guru bisa menjadi lebih baik dan kemampuan literasi siswa terbukti bisa meningkat. Hal ini adalah berdasarkan studi akhir pelaksanaan program peningkatan mutu pembelajaran yang dilakukan INOVASI di Provinsi NTB, NTT, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur. Di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, ada hal unik yang dilakukan SDN 006 di Tanjung Selor untuk meningkatkan kemampuan literasi siswanya, terutama untuk siswa yang lamban membaca.


Kepala Sekolah di SDN 006 Tanjung Selor, Ibu Martiana Are, menyediakan layanan khusus bagi siswa-siswanya yang tergolong lamban dalam hal kemampuan membaca. Kebanyakan anak-anak yang lamban membaca tersebut merupakan siswa pindahan. Walau tidak lancar membaca, tetapi Ibu Martiana tetap menerima anak-anak tersebut di sekolahnya. Anak-anak tersebut pun mendapatkan layanan khusus setiap pukul 3-5 sore di sekolah.

Di sekolah yang dipimpin Ibu Martiana, layanan khusus diberikan bagi anak-anak yang lambat dalam hal kemampuan membaca. Hal ini berdasarkan temuan bahwa masih ada anak-anak yang duduk di bangku kelas 4, 5, dan 6 yang tidak lancar membaca.

“Guru-guru mengeluh karena ada anak-anak yang tidak bisa mengikuti pelajaran karena tidak bisa membaca. Keluhan itu saya tanggapi. Saya katakan kepada guru, sekolah harus membantu anak-anak sampai bisa membaca. Hanya di sekolah anak-anak itu punya harapan. Kalau bukan pihak sekolah, siapa lagi yang membantu?” tutur Ibu Martiana.

Ketika memulai layanan ini, Ibu Martiana tidak langsung mengajari anak-anak membaca. Ia mulai dengan pendekatan personal.

Ada macam ragam pendekatan yang ia lakukan, misalnya, bermain alat musik di sekolah. Mengetahui anak tersebut suka bermain musik, Ibu Martiana mulai dengan kegiatan bermain alat musik bersama-sama. Setelah dekat dan anak merasa nyaman, kegiatan belajar membaca pun dimulai. Orang tua yang mengantarkan anak-anak tersebut ke sekolah untuk mengikuti kegiatan belajar membaca tersebut yang dilakukan pada pukul 3-5 sore.

Dalam kegiatan di sore hari itu, Ibu Martiana menggunakan berbagai metode dan alat peraga.

“Pada awalnya saya pakai kartu huruf dan kata, karena mereka tidak lancar mengeja. Setelah lancar mengeja, barulah kami menggunakan buku cerita. Saya pun menggunakan big book yang tulisannya besar-besar. Saya minta anak menunjuk setiap huruf dan kata yang mereka baca. Tapi yang paling penting anak gembira melakukan hal ini. saya selalu memuji dan memberikan tepuk tangan kalau mereka berhasil mengeja dan membaca kata,” jelas Ibu Martiana.

Upaya tersebut pun membuahkan hasil yang positif. Anak-anak tersebut menunjukkan perkembangan yang menjanjikan. Mereka sudah bisa mengeja dengan lancar. Salah satu anak bahkan sudah bisa menuliskan kembali cerita yang ia baca dengan bahasanya sendiri.

Ibu Martiana pun mengatakan bahwa layanan ini akan terus diberikan sampai anak-anak tersebut benar-benar bisa membaca. Setidaknya begitu mereka lulus SD, anak-anak tersebut bisa membaca.

 

[1] https://www.oecd.org/pisa/pisa-2015-results-in-focus.pdf

[2] https://timssandpirls.bc.edu/pirls2011/international-results-pirls.html

 

Layanan Khusus untuk Siswa SD yang Lamban Membaca di Bulungan, Kalimantan Utara