Kotak ATM Ajaib Bantu Siswa Kelas Awal di Sumenep Belajar Membaca

Program INOVASI telah banyak memberikan perubahan pada pelaksanaan pengajaran dan pembelajaran di sekolah, khususnya pada kelas awal. Hal tersebut diungkapkan oleh Taskiyah, Guru SDN Pangarangan I, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep. Menurutnya, dia hampir putus asa saat harus mengajarkan membaca untuk siswa kelas awal. Wilayah Sumenep dengan bahasa pengantar sehari-hari menggunakan bahasa Madura membuat anak-anak susah mengungkapkan sesuatu dengan bahasa Indonesia.

“Misalnya saya menanyakan nama suatu benda kepada siswa, mereka paham namun menjawab nama benda tersebut dengan bahasa Madura,” ungkapnya. Taskiyah dengan jujur mengaku sempat stres saat baru mengajar siswa kelas 1, apalagi saat dirinya masih berdinas di kepulauan. Berbagai metode yang dilakukan, baik yang didapat dari berbagai buku pegangan guru, mencari di website hingga hasil diskusi sesama guru, hasilnya belum memuaskan. Dan hingga hampir kenaikan kelas, masih ada siswa di kelasnya yang belum bisa membaca.

Namun, guru yang pernah bertugas di kepulauan Sumenep selama 10 tahun ini tak patah semangat. Dia berusaha membuat inovasi dengan membuat media pembelajaran agar anak lebih mudah belajar bahasa Indonesia. Taskiyah kemudian berdiskusi dengan Zainal Abidin, Kepala Sekolah SDN Talango IV Sumenep. Bersama-sama mereka kemudian merancang media pembelajaran
yang diberi nama Kotak Aku Tahu Membaca (ATM).

Kotak ATM sangatlah mudah dan murah dalam pembuatannya. Berbekal kardus bekas, Taskiyah membagi kota menjadi 3 bagian. Setiap bagian diberi laci dan saat ditarik, akan keluar huruf dan kata.
Dijelaskan oleh Taskiyah, setiap laci disesuaikan dengan kondisi siswa. Laci A hanya berupa huruf yang direkatkan pada permen, dengan harapan siswa yang baru belajar membaca semakin termotivasi setelah bisa menyebutkan huruf mendapatkan hadiah permen. Laci B, untuk siswa yang sudah bisa menyebutkan suku kata, sedangkan laci C untuk siswa yang sudah bisa membaca kata.

Taskiyah kemudian mempraktikan media yang telah dibuatnya. Respon siswa ternyata luar biasa. Mereka sangat antusias untuk belajar huruf melalui media pembelajaran yang dibuat oleh Taskiyah. Menurut Taskiyah, Kotak ATM ini sangat fleksibel. Selain belajar membaca, media ini juga bisa dipakai untuk pembelajaran numerasi. “Untuk pembelajaran numerasi, huruf tinggal diganti angka saja. Nanti laci A untuk mengenal angka mulai 0 sampai 10. Kemudian laci B dan C untuk operasi bilangan,” terangnya.

“Pelatihan yang diberikan oleh INOVASI semakin membuka mata bahwa ternyata selama ini cara mengajar yang kami lakukan perlu banyak koreksi. Dan materi yang diberikan oleh tim INOVASI menumbuhkan gairah belajar dan mengajar, baik dari guru maupun dari siswa,” ungkap Taskiyah.

Taskiyah mengakui, melalui kegiatan INOVASI, makin menguatkan tujuan pembelajaran dan hasil yang akan dicapai. Seperti misalnya saat dirinya membuat Kotak ATM, dulu hanya berpikiran bahwa media ini membantu siswa belajar membaca. Namun setelah mendapatkan pelatihan INOVASI, semakin membuka wawasannya bahwa setiap media yang dibuat harus jelas tujuan dan manfaatnya, serta dikaitkan dengan tema pembelajaran siswa sehari-hari.

“Syukurlah, ketika mengikuti workshop dan beberapa pertemuan INOVASI, kami bersama guru-guru yang lain bisa berkolaborasi dan berinovasi dalam KKG. Teman-teman guru jadi semakin semangat dan selalu muncul ide untuk menghidupkan suasana kelas yang menyenangkan,” katanya.

Taskiyah juga merasa terbantu saat mendapatkan materi dari INOVASI tentang pembuatan buku besar (big book). Setelah dipraktikkan di kelasnya, ternyata antusiasme siswa luar biasa. Mereka dengan serius mengamati buku besar yang dibawakan oleh Taskiyah. Kemampuan siswa dalam pemahaman membaca juga meningkat. Cita-cita Taskiyah yang belum tercapai adalah memajukan kualitas pendidikan di wilayah kepulauan di Sumenep.

Akses dan medan yang harus ditempuh melalui jalur laut selama berjam-jam dan berhari-hari sehingga tidak banyak guru yang mau ditempatkan di wilayah tersebut. Selain itu di kepulauan Sumenep, akses untuk listrik dan jaringan internet sangat terbatas.

“Yang sangat perlu kita bantu ke depan adalah para guru yang mengajar di kepulauan. Dengan segala keterbatasan guru disana, mudah-mudahan kita bersama menemukan solusinya sehingga mereka tetap semangat mengajar,” ungkapnya.

Kotak ATM Ajaib Bantu Siswa Kelas Awal di Sumenep Belajar Membaca