Ide Belajar di Rumah: ‘Buku Bacaan Bergerak’ untuk Mendorong Minat Baca Anak

Pandemi COVID-19 telah berdampak pada hampir semua aspek kehidupan masyarakat. Tak terkecuali pendidikan. Pada tanggal 15 Maret 2020, Presiden Joko Widodo menyampaikan kebijakan penanganan wabah COVID-19 di Indonesia. Di antaranya kebijakan tentang proses belajar dari rumah bagi pelajar dan mahasiswa, kebijakan bekerja di rumah untuk sebagian ASN, dan peningkatan pelayanan pengujian dan pengobatan COVID-19. “Dengan kondisi ini, saatnya kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah… Kita ingin ini menjadi sebuah gerakan masyarakat agar masalah COVID-19 ini bisa tertangani dengan maksimal’, ungkap Presiden Joko Widodo.

Kebijakan terkait proses belajar-mengajar selama masa pandemi pun dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 24 Maret lalu melalui Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19). Kebijakan belajar di rumah (BDR) pun diterapkan pemerintah untuk seluruh institusi pendidikan di Tanah Air. Menghadapi situasi seperti ini, para guru pun perlu lebih mengembangkan kreativitas dalam mengajar anak didiknya secara jarak jauh. Peran orang tua pun tidak kalah penting dalam mendukung proses belajar anak-anak mereka selama di rumah. Berikut ini ide pembelajaran literasi salah satu guru mitra dampingan program INOVASI dan Kolaborasi Literasi Bermakna di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.  


Di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, guru di SDN Krejengan, Yulia Rahmawati, S.Pd, memiliki ide belajar yang dapat membantu meningkatkan kemampuan literasi siswa-siswanya yang duduk di kelas awal SD.

Menurut Yulia, membaca adalah tujuan utama mengajar siswa kelas awal di jenjang pendidikan dasar. Sebab tanpa kemampuan membaca yang baik, siswa akan kesulitan untuk memahami mata pelajaran hingga ke jenjang pendidikan berikutnya.

Sebelumnya, Yulia hanya terpaku dengan cara-cara yang bisa membuat siswa bisa membaca, terlebih karena ada sebagian murid yang sangat kesulitan untuk sekedar mengetahui huruf ‘a hingga ‘z’. Apa yang Yulia lakukan? Ia memarahi siswanya dan kadang akhirnya membuat mereka takut agar anak-anak tidak hanya belajar membaca di sekolah, tetapi juga di rumah.

Kebiasaan tersebut terus berlanjut ketika Yulia mengajar di kelas awal. Pada awalnya, Yulia menjadi guru di SDN Sukokerto yang mengajar di kelas tinggi. Tetapi semenjak tahun ajaran 2017/2018, Yulia mendapatkan tugas untuk mengajar di kelas awal di SDN Krejengan.

Kebiasaannya mengajar dengan cara seperti itu perlahan-lahan pun berubah sejak Yulia mengikuti program Kolaborasi Literasi Bermakna, yang merupakan program kemitraan dan hibah INOVASI dengan IniBudi, Keluarga Kita, Kampus Guru Cikal, dan Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK). Melalui program tersebut, ada banyak hal baru yang ia dapatkan, mulai dari guru merdeka belajar, kesepakatan kelas, disiplin positif, hingga pengajaran literasi yang bermakna.

Dari pelatihan yang didapatkan Yulia melalui kegiatan KGC (Kampus Guru Cikal), ia pun menemukan ide kreatif untuk membuat media pembelajaran yang membuat siswa suka mendengarkan cerita. Dengan sendirinya, para siswa pun menjadi lebih berusaha belajar membaca dan memahami alur cerita. Yulia memberi nama media pembelajaran tersebut ‘Moveable Book’ yang artinya buku bergerak, dengan judul cerita ‘Si Putih Tak Mau Belajar’.

Cara membuat ‘Moveable Book

Cara membuatnya sangat sederhana, tidak harus mengeluarkan biaya banyak, cukup memanfaatkan ATK (alat tulis kantor) seperti, kertas buffalo, selotip, double tape, gunting, lem, pensil dan gambar-gambar menarik. Yulia membuat sendiri ceritanya, di mana setiap paragraf diilustrasikan dengan gambar yang juga bisa dicari di internet sesuai dengan alur cerita.

Setelah semuanya siap, maka diperlukan cara agar gambar bisa seolah-olah terlihat berdiri. Pertama-tama, perlu memotong kertas buffalo berbentuk persegi panjang, yang kemudian dilipat kedua sisinya. Setelah itu, gunting bagian tengah secara menyerong kertas yang berbentuk persegi panjang, bagian yang dilipat diberi double tape, lalu tempel ke bagian dalam buku. Jadilah gambar yang muncul seolah-olah berdiri dan nampak seperti tiga dimensi ketika buku dibuka.

Perubahan yang Menggembirakan di Kelas

Media ini meskipun sangat sederhana dan murah, tetapi mampu membuat pelajaran membaca di dalam kelas Yulia berubah secara signifikan. Situasi yang awalnya siswa malas belajar membaca, kini mereka antusias dan kerap menanyakan cerita-cerita lainnya yang bisa Yulia bacakan kepada mereka.

“Bahkan yang membuat hati saya senang mereka sangat antusias mendengarkan saya bercerita. Siswa juga berebut untuk membacakan cerita yang ada di buku bergerak tersebut. Bahkan siswa yang masih belum lancar membaca terlibat aktif dan bertanya ke temannya untuk mengetahui setiap huruf, kata, dan bagaimana alur cerita di dalam buku tersebut,” cerita Yulia dengan gembira.

Dari sinilah Yulia percaya bahwa untuk memusatkan perhatian anak, menarik minat mereka untuk membaca, mempermudah cara belajar membaca, dan merangsang daya pikir dan nalar anak, dibutuhkan cara yang kreatif dan guru pun harus berusaha memahami apa yang disukai anak.

“Bagaimanapun dunia anak-anak adalah dunia bermain, kita sebagai guru harus memberikan pelajaran yang berkesan dan bermakna untuk mereka sambil bermain,” kata Yulia menutup ceritanya.

Ide Belajar di Rumah: ‘Buku Bacaan Bergerak’ untuk Mendorong Minat Baca Anak