Ide Belajar di Rumah: Kenalkan Nominal Uang Melalui Jembatan Bahasa

Di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, penggunaan bahasa daerah memang sangat dominan di keseharian masyarakatnya termasuk anak-anak. Sebuah kondisi yang kemudian menjadi tantangan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Anak-anak masih kesulitan memahami pelajaran yang diberikan. Salah satu alasannya adalah karena anak-anak yang duduk di SD kelas awal tersebut belum menguasai bahasa pengantar pembelajaran – bahasa Indonesia.

INOVASI, program kemitraan pemerintah Australia dan Indonesia, bersama pemerintah daerah telah mengimplementasikan program dengan fokus meningkatkan kemampuan literasi siswa kelas awal dengan melakukan transisi bahasa pengantar pembelajaran di kelas awal. Salah satu metode yang diperkenalkan adalah ‘Jembatan Bahasa’. Metode Jembatan Bahasa menjadi salah satu upaya menjawab kebutuhan pembelajaran di daerah dengan tantangan bahasa, di mana para guru peserta program dilatih secara berkesinambungan selama beberapa bulan melalui kegiatan di Kelompok Kerja Guru (KKG). Pendampingan langsung pun diberikan kepada guru melalui para fasilitator daerah (Fasda), yang merupakan merupakan pendidik-pendidik terpilih dari unsur guru, kepala sekolah, dan pengawas.


Berbelanja atau jajan di warung juga merupakan bagian dari keseharian siswa-siswa di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, termasuk di SD Inpres Kalampa 2. Di daerah ini, penggunaan bahasa lokal Mbojo masih begitu dominan dalam aktifitas sehari-hari. Ketika bertransaksi di warung pun demikian. Anak-anak yang berbelanja akan melakukannya dalam bahasa lokal. Mereka lebih sering menyebut nilai nominal uang dalam bahasa Mbojo.

Ibu Rahma, guru SD Inpres 1 Kalampa kemudian mengembangkan sebuah pembelajaran untuk mengakrabkan anak-anak didiknya dengan bertransaksi dalam bahasa Indonesia. Pada awalnya dia akan memperkenalkan nilai mata uang dalam bahasa Indonesia. Ibu Rahma membuat replika uang mainan yang dicetak sendiri dan menuliskan nominal dari uang tersebut dalam bahasa Mbojo yang diakrabi oleh anak-anak dan dalam bahasa Indonesia.

Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas, Ibu Rahma membagi siswanya ke dalam beberapa kelompok. Tiap kelompok mendapatkan kesempatan maju ke depan kelas dimana setiap anggota kelompok memegang satu uang replika. Nominal yang dipegang dari tiap siswa itu berbeda-beda, mulai dari nominal terendah Rp 1.000 hingga ke Rp 100.000. Bersama siswa-siswa lainnya, mereka kemudian menyebutkan masing-masing nominal replika uang yang mereka pegang baik dalam bahasa lokal maupun dalam bahasa Indonesia.

Setelah para siswa bisa menyebutkan nominal mata uang dalam bahasa Indonesia. Mereka kemudian akan melakukan simulasi membelanjakan uang itu dan bagaimana melakukan transaksi dalam bahasa Indonesia. Ibu Rahmah akan bertindak seolah-olah sebagai penjual dan para siswanya yang akan berbelanja menggunakan replika uang yang sudah dia siapkan.

Masing-masing mereka akan ‘membeli’ barang yang sudah dilabeli harga. Selanjutnya mereka akan menceritakan apakah ‘uang’ yang mereka pegang mencukupi untuk membeli barang yang mereka pegang atau malah lebih. Jika uang mereka kurang, berapa kurangnya?, dan jika uangnya lebih, berapa yang mesti dikembalikan oleh Ibu Guru yang bertindak sebagai penjual. Keseluruhan proses ini dilakukan dalam bahasa Indonesia.

Jadi, selain terkait jembatan bahasa, kegiatan pembelajaran yang dikembangkan oleh Ibu Rahmah ini berkaitan dengan matematika, yaitu berhitung nominal mata uang. Menurut Ibu Rahma, kegiatan ini selalu mengundang keceriaan pada anak-anak setiap kali mereka melakukannya di kelas. Metode simulasi berbelanja dengan replika uang mainan selalu disambut antusias oleh para siswanya. Ini juga membuat mereka bisa lebih cepat menguasai materi yang diberikan.

Ide Belajar di Rumah: Kenalkan Nominal Uang Melalui Jembatan Bahasa