Dampak Kepemimpinan Perempuan di Madrasah – Cerita Nia

Perempuan mendominasi jumlah guru sekolah dasar di Indonesia. Dari total sekitar 1,4 juta guru SD, hampir satu juta  di antaranya adalah perempuan – proporsinya mencapai hampir 70% (Dapodik, 2020). Namun demikian, hanya sepertiga SD yang memiliki kepala sekolah perempuan. Di madrasah, jumlahnya lebih sedikit dibandingkan di SD; persentasenya kurang dari 20%.

Di tahun 2018, INOVASI melakukan survei di 16 kabupaten dan satu kota di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara dan Jawa Timur, yang melibatkan 567 guru dan 199 kepala sekolah termasuk pada tingkat SD dan MI dan melakukan analisis data, serta menguji hubungan antar variabel.

Temuan survei kami juga mengungkapakan bahwa guru perempuan cenderung memiliki kinerja yang lebih baik. Kepala sekolah perempuan juga cenderung mempunyai manajemen sekolah yang lebih baik dan membangun lingkungan belajar yang lebih kondusif.

Isu kesetaraan gender, disabilitas dan inklusi sosial menjadi fokus dalam setiap kegiatan INOVASI, termasuk dalam program penguatan literasi pada guru kelas awal. Pada 2018 lalu, MI Sunan Ampel, yang dipimpin oleh Kurnia Dwi Wahyuni, M.Pd atau yang kerap dipanggil Nia, merupakan salah satu yang dipilih menjadi salah satu sekolah mitra Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) untuk program literasi INOVASI bersama Kantor Kementerian Agama Kab. Pasuruan.

Cerita Ibu Nia – Kepala Madrasah Ibtidaiyah Sunan Ampel

Menjadi pemimpin sebuah yayasan yang menaungi beberapa lembaga pendidikan Islam, salah satunya adalah Madrasah Ibtidaiyah Sunan Ampel, tidak pernah dibayangkan oleh Nia. Mengawali karir sebagai guru sejak 2003, Nia –kini  ditunjuk menjadi kepala madrasah dan ketua Yayasan pada tahun 2016.

Saat saya ditunjuk menjadi kepala madrasah, pro kontra banyak muncul. Ada yang mendukung namun banyak juga yang tidak setuju bila perempuan memimpin madrasah,” kata Nia.

Nia mengaku dia tak banyak berkomentar dengan pro kontra yang muncul. “Yang penting bagi saya adalah membuktikan kerja saya dulu, bahwa perempuan bisa memimpin madrasah bahkan mungkin kedepan akan menjadi lebih baik,” tambahnya.

Sejak diangkat menjadi kepala madrasah, Nia melakukan reformasi di madrasah yang dipimpinnya. Hal pertama yang dilakukannya adalah mengubah motivasi gurudalam mengajar. Ia mengamati, sebelum menjadi kepala madrasah, para guru mengajar secara konvensional dan hanya sekadar menggugurkan kewajiban mengajar.

Nia kemudian berdiskusi dengan pengawas Kemenag dan mendatangkan tutor dari luar dalam rangka memberikan motivasi dan melatih para guru agar lebih terampil dalam mengajar. Dari pelatihan tersebut kemudian Nia menindaklanjuti dengan supervisi klinis dan lesson study yang berlaku untuk semua guru dari semua jenjang, mulai guru dari kelompok bermain, RA, hingga MI.

Pada kegiatan supervisi klinis, Nia bersama pengawas madrasah berkolaborasi mengamati para guru mengajar dan berdiskusi pola mengajar guru yang perlu diperbaiki. Sementara untuk kegiatan lesson study, para guru baik senior dan junior saling berkolaborasi secara bergantian masuk ke kelas dan mengamati sesama teman guru mengajar dan melakukan evaluasi bersama. Kegiatan ini ternyata mampu mengubah motivasi dan cara mengajar mereka menjadi lebih aktif.

Pendidikan karakter dan akhlak peserta didik juga menjadi fokus yang perlu untuk dikuatkan oleh Nia. Ini termasuk menerapkan Bahasa Jawa halus (Krama Inggil) dan budaya Jawa dalam keseharian.  Keputusan ini diambil, karena melihat banyaknya siswa yang kurang mendapatkan perhatian dari orang tua mereka, sehingga banyak mendapatkan pengaruh buruk dari lingkungan.

Kerja keras yang membuahkan hasil

Dampak positif dari perubahan ini, MI Sunan Ampel mulai menuai beragam prestasi akademik baik di level kecamatan, kabupaten, hingga provinsi. Pada Desember 2019 lalu, MI Sunan Ampel berhasil meraih The Best Attitude dengan program Pembiasaan Bahasa Jawa dalam perilaku dan komunikasi baik guru dan siswa pada Gelar Lomba Inovasi Pengelolaan Madrasah (LIPM) Kemenag Provinsi Jawa Timur. Prestasi ini sangat membanggakan karena MI Sunan Ampel harus bersaing dengan ribuan madrasah di Jawa Timur. “Yang terlihat adalah cara guru mengajar menjadi berubah lebih aktif dan melibatkan siswa dalam diskusi selama pembelajaran. Selain itu kekompakan guru menjadi terbangun. Antara guru senior dan junior tercipta kerjasama yang baik dan saling mendukung,” ungkapnya.

Hasil dari pengembangan program literasi di MI Sunan Ampel sungguh menggembirakan. Nia mendorong guru untuk membuat sudut baca di kelas masing-masing. Program gerakan membaca buku mulai digalakkan. Siswa juga didorong untuk giat menulis cerita. Hasil tulisan siswa lalu dikumpulkan dan diterbitkan menjadi buku. Bahkan selama pandemi ini, Nia tetap mewajibkan siswa melaksanakan kegiatan literasi di rumah masing-masing didampingi orang tuanya. Buku bacaan boleh dipinjam siswa dan dibawa ke rumah. Nia mendorong orang tua agar tetap membimbing anak-anaknya membaca di rumah, dengan mengirimkan foto dokumentasi kolaborasi orang tua dan anak mereka membaca di rumah. Bagi orang tua yg tidak punya ponsel pintar, maka guru akan menelpon orang tua siswa satu persatu menanyakan kegiatan literasi yang dilakukan di hari itu dan juga membimbing siswa belajar via telepon.

Salah satu guru di Madrasah ini, Karomatul Khusnah, S.PdI mengungkapkan, kepemimpinan Nia mendorong para siswa untuk menelurkan karya yang kini telah dibukukan. “Bu Nia mendorong kami agar selalu memotivasi siswa untuk berliterasi sehingga dapat menghasilkan karya dan akhirnya berhasil. Buku karya pertama yang berhasil dipublikasi  diberi judul ‘Tahi Angin Anak-anakku’ sebuah ungkapan bahwa Tahi Angin artinya awan tipis yang terbawa angin. Buku ini merupakan kumpulan esai siswa yang bercerita pengalaman liburan mereka,” terangnya. Buku ini adalah buku pertama yang dipublikasikan untuk kalangan internal madrasah. Rencana penerbitan buku kedua mengenai cerita siswa selama masa pandemi masih tertunda karena pandemi.

Kerja keras dari Nia dengan merangkul seluruh guru inilah kemudian yang membuat MI ini saat ini mendapatkan penilaian akreditasi A dengan jumlah siswa telah mencapai 343 siswa. Nia dapat membuktikan bahwa pemimpin perempuan mampu menghasilkan kinerja madrasah yang baik.

Kepemimpinan Nia pun juga dikagumi oleh pihak luar madrasahnya. “Hal menarik yang saya lihat dari kepemimpinan Bu Nia dalam pelaksanaan program literasi di sekolahnya, beliau mampu merangkul orang tua untuk aktif mendukung program ini. Misalnya dengan donasi buku bacaan ke sekolah yang dilakukan oleh orang tua, orang tua membantu dalam pembuatan media literasi, dan yang terpenting peran orang tua dalam mendampingi anak membaca di rumah semakin besar berkat dorongan dari Bu Nia,” terang Rakhmawati, M.Pd, Gesi (Gender & Social Inclusion) Coordinator Program kerjasama yang juga menjadi dosen UINSA. Rakhma mengamati, sebagai kepala madrasah, Nia sangat visioner dan mampu merangkul seluruh guru dan orang tua untuk mau bekerjasama dalam pengembangan dan kemajuan sekolah.

 

Dampak Kepemimpinan Perempuan di Madrasah – Cerita Nia