Geser Maju Mundur Angka (GEMA), Ide Pembelajaran dari Sumbawa

Di salah satu kegiatan pelatihan program INOVASI di Kabupaten Sumbawa, NTB, guru-guru peserta program yang merupakan guru sekolah dasar saling berbagi pengalaman seputar tantangan pembelajaran matematika di kelas awal. Semua mengakui bahwa matematika adalah mata pelajaran yang kurang menarik bagi siswa kelas awal, selain itu untuk merancang strategi pembelajaran guru pun masih perlu mengembangkan kemampuan guru dalam mengajar.

Dalam sesi diskusi program Guru BAIK (Belajar-Aspiratif-Inklusif-Kontekstual) tersebut, guru-guru mengakui bahwa salah satu hal yang menyebabkan anak-anak kesulitan menjawab soal-soal matematika adalah karena guru kurang mampu menanamkan konsep sehingga siswa kehilangan arah dalam mengerjakan soal. Hal lainnya adalah kurangnya media pembelajaran yang menarik yang dapat membantu anak memahami pelajaran yang disampaikan. Guru perlu lebih kreatif lagi memanfaatkan sumber daya sekitar untuk mendukung proses pembelajaran.

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh guru? Untuk mengatasi tantangan pembelajaran matematika di kelas awal, Hadiahtollah, guru SDN 3 Lape di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat memiliki ide media pembelajaran yang menarik yang bisa memotivasi siswanya untuk belajar dan memahami pelajaran yang ia sampaikan. Wanita yang sudah 25 tahun berkarir sebagai ini mengembangkan metode berhitung operasi penjumlahan dan pengurangan bagi siswa berkebutuhan khusus (ABK), khususnya bagi anak-anak tuna rungu. Metode ini disebut “GEMA” (Geser Maju Mundur Angka).

Sekolah di mana Hadiahtollah mengajar adalah penyelenggara sekolah inklusi. Jumlah ABK di SDN 3 Lape sebanyak 94 orang, termasuk siswa tuna rungu. Tuna rungu adalah seorang yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar baik sebagian atau seluruhnya yang diakibatkan karena tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran.

“GEMA” (Geser Maju Mundur Angka)

GEMA adalah media pembelajaran dengan tampilan yang sangat menarik, di mana cara menerangkannya menggunakan bahasa bibir atau gerakan bibir. Untuk mengimplementasikan pembelajaran GEMA, di dalam ruangan kelas telah disediakan beberapa alat peraga seperti papan media, gantungan tirai yang terbuat dari besi dan sejumlah keping CD yang berisi angka.

Bagaimana cara penggunaannya? Metode GEMA untuk ABK dimulai denga menguji kemampuan siswa mengenal angka 0-9. Guru lalu menjelaskan tentang langkah operasi penjumlahan dengan cara menggeser maju sedangkan operasi pengurangan dengan cara menggeser mundur angka.

Sebagai contoh untuk operasi penjumlahan, siswa diminta memilih dua keping CD yang sudah ditulis angka 1 sampai 100 yang tersedia dalam kotak angka, sebagai soal penjumlahan. Misalnya angka yang dipilih adalah 2 dan angka 6, lalu kedua angka tersebut digantung di papan media di bawah tulisan PENJUMLAHAN yang  tertulis…..+……=…….yang berarti  2 + 6  = …….

Untuk menentukan hasil penjumlahan, siswa diminta menggeser maju angka pada keping CD yang tersedia di gantungan besi korden. Hitungannya dimulai  dari angka 2 diikuti angka-angka berikutnya yang digeser secara berurutan sebanyak 6 kali sehingga siswa menemukan  angka terakhirnya yaitu angka 8.

Siswa lalu diminta mengambil angka yang sama (maksudnya angka 8) yang tersedia dikeping CD pada kotak angka untuk kemudian digantungkan di papan media di samping tanda “=”  sehingga terbentuk pasangan angka 2+6=8.

Hal yang sama juga berlaku bagi hitungan pada operasi pengurangan. Hanya saja cara menghitung operasi pengurangan dilakukan dengan menggeser mundur angka.

Ternyata, inovasi berdasarkan konteks lokal dan penguatan keterampilan mengajar bisa sangat membantu meningkatkan dasar-dasar literasi dan numerasi siswa di kelas awal. Seperti yang dilakukan Hadiahtollah dengan media-media pembelajaran sederhana yang ia buat sendiri.

Geser Maju Mundur Angka (GEMA), Ide Pembelajaran dari Sumbawa