Enam Cara SD di Tanjung Selor, Kalimantan Utara Meningkatkan Mutu Sekolah

Oleh Muhammad Sidik, Kepala SDN 008 Baratan, Tanjung Selor, Kalimantan Utara (Kepala Sekolah Mitra INOVASI)

Delapan tahun saya sudah memimpin sekolah ini. Ketika saya datang, banyak anak-anak yang tidak bisa membaca. Setiap tahun tiga sampai empat anak tinggal kelas karena tidak bisa membaca. Anak-anak juga sering tidak datang ke sekolah. Apalagi anak-anak yang tinggal di perkebunan. Guru-guru juga kesulitan membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Pembelajaran berlangsung apa adanya, tanpa strategi dan media pembelajaran.

Setelah program peningkatan kemampuan literasi kelas awal diimplementasikan oleh INOVASI, perubahan mulai terjadi di sekolah saya. Para guru dibimbing membuat skenario dan media pembelajaran sederhana. Guru merasa lebih mudah membuatnya. Apalagi pelatihan di Kelompok Kerja Guru (KKG) Melati – Tanjung Selor semakin sering, sejak Ibu Warsiah menjadi Kepala SDN 013 Buluh Perindu. Bu Warsiah aktif memfasilitasi pelatihan pembuatan skenario dan media pembelajaran. Guru-guru jadi sangat terbantu.

Sebagai kepala sekolah, saya mendukung perubahan itu. Ada enam strategi yang saya jalankan guna mendukung perubahan itu, yaitu sebagai berikut:

Pertama, setiap Sabtu saya mewajibkan guru kelas awal melakukan KKG di sekolah. Mereka membahas skenario dan media yang akan digunakan minggu depan. Mereka bersama-sama menyesuaikan standar kelulusan, standar kompetenesi, tujuan, dan indikator pembelajaran dengan skenario mengajar. Hal ini dilakukan agar proses pembelajaran benar-benar mencapai tujuan. Saya juga ikut dalam pembahasan ini.

Kedua, setiap hari saya selalu memotivasi guru dan mengontrol pembelajaran di kelas. Saya dorong guru untuk konsisten menerapkan pembelajaran aktif. Walaupun kami berada di kampung, tapi jangan sampai kualitas kalah. Saya juga masuk ke kelas untuk melihat media pembelajaran dan karya siswa. Saya selalu tanya apa gunanya dan bagaimana cara menggunakannya.

Ketiga, setiap hari kami meminta siswa membuat tulisan pendek. Siswa kelas awal menulis kegiatan sehari-hari sebanyak satu atau dua kalimat saja. Sedangkan siswa kelas empat sampai lima menulis cerita dari buku atau pengalaman mereka. Mereka melakukannya di akhir pembelajaran, atau di rumah. Hasil karya anak kami pajang di depan kelas menggunakan papan. Setiap kali ada tulisan baru, tulisan yang lama kami simpan dalam kotak. Saya bilang kalau nanti sudah terkumpul banyak, tulisan-tulisan itu bisa diterbitkan menjadi buku. Gagasan kegiatan menulis ini datang setelah melihat hasil ujian nasional. Kami menemukan banyak anak yang tidak mampu menulis jawaban bersifat esai. Kami berpikir itu karena mereka tidak terbiasa menulis. Makanya sejak semester ini, kami mulai membiasakan anak membuat tulisan pendek.

Keempat, setiap hari siswa membaca 15 menit sebelum jam pembelajaran dimulai. Mereka membaca di dalam kelas. Tujuannya agar anak semakin senang membaca dan pengetahuannya bertambah.

Kelima, kami menyediakan sudut baca di setiap kelas, dan lorong baca di luar kelas. Buku yang kami sediakan berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK). Anak bisa membaca kapan saja. Kalau dulu, setiap hari kami harus mengeluarkan buku di selasar sekolah untuk dibaca anak. Lumayan repot mengerjakannya. Tapi sekarang tidak lagi.

Keenam, kami mengizinkan orang tua untuk membantu guru mengajar di kelas. Orang tua yang menunggu anaknya pulang sekolah dapat masuk ke ruang kelas. Di sana mereka membantu guru, misalnya dengan membantu anak membaca atau membersihkan kelas. Hal ini kami lakukan setelah mendapat masukan dari INOVASI. Hasilnya, orang tua senang membantu guru di kelas.

Sekarang sekolah kami menjadi menarik. Anak lebih bersemangat datang ke sekolah. Hasil belajar mereka juga membaik. Orang tua dan masyarakat senang melihat sekolah kami kini banyak karya siswa dan belajarnya lebih menyenangkan.

Enam Cara SD di Tanjung Selor, Kalimantan Utara Meningkatkan Mutu Sekolah