Disiplin Positif Melalui Perpustakaan Ramah Anak

Program kolaborasi INOVASI dengan Taman Bacaan Pelangi (TBP) bertujuan untuk memupuk kebiasaan membaca bagi anak-anak yang tinggal di Pulau Sumba, NTT. Taman Bacaan Pelangi sendiri merupakan yayasan sosial di bidang pendidikan yang bertujuan mengembangkan kebiasaan membaca anak-anak dan meningkatkan kemampuan literasi anak di daerah pelosok Indonesia Timur. Melalui program kolaborasi ini, INOVASI dan TBP berupaya membantu pemerintah daerah dalam meningkatkan kemampuan literasi siswa, khususnya di kelas awal, melalui kegiatan-kegiatan seperti: 1) pendirian perpustakaan ramah anak, 2)  pemberdayaan dan pengembangan kapasitas guru dan kepala sekolah untuk mengelola perpustakaan ramah anak dan melaksanakan program membaca, 3) pembentukan kemitraan/koalisi yang solid dengan pemangku kepentingan dan mitra lokal – termasuk Kepala Dinas Pendidikan di tingkat kabupaten, kepala sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat lokal – dan memastikan keberlanjutan perpustakaan setelah program usai. Berikut ini kisah guru dan kepala sekolah di SD Inpres Ndapa Taka di Kabupaten Sumba Barat Daya tentang perubahan positif yang terjadi setelah program selesai dilaksanakan.


Dalam kehidupan sehari-hari, siapa pun tentu menginginkan adanya kenyamaan saat berkunjung ke suatu tempat. Kenyamanan itu dapat dirasakan dari senyuman orang di sekitarnya. Begitu pula dengan peserta didik, khususnya di sekolah dasar. Mereka menginginkan kenyamaan di lingkungan sekolah tempat dirinya menuntut ilmu, misalnya saat mereka mengunjungi perpustakaan. Hal inilah yang dilakukan oleh I Ketut Gede Padmanaba, guru kelas 1 di SD Inpres Ndapa Taka, Kabupaten Sumba Barat Daya.

Melihat kondisi perpustakaan yang kurang menarik, guru yang akrab dipanggil Padmanaba ini kemudian mengambil inisiatif untuk memperindah perpustakaan tersebut. Inisiatif ini dilakukan setelah dirinya dan guru-guru lainnya, serta kepala sekolah dan tenaga perpustakaan, mendapatkan pelatihan dan pendampingan dari Taman Bacaan Pelangi (TBP) melalui program Perpustakaan Ramah Anak, yang merupakan program kolaborasi dengan INOVASI.

Peresmian perpustakaan di SD Inpres Ndapa Taka sebagai bagian dari program yang diimplementasikan oleh INOVASI dan Taman Bacaan Pelangi (TBP) yang dihadiri oleh Bupati Sumba Barat Daya

Kemampuan dan kreativitas Padmanaba dalam melukis membawanya mengubah perpustakaan yang sebelumnya kaku menjadi ruang penuh inspirasi dengan lukisan-lukisan menarik di seluruh dinding. Gambar yang dilukis seperti pesawat, anak-anak, pemandangan, rumah adat Sumba, semuanya digambar dengan gaya kartun khas kesukaan anak-anak. Selain penampakan fisiknya, perpustakaan juga kini memiliki lebih dari 1.000 buku cerita ramah anak. Menariknya, buku-buku ini sudah dijenjangkan sesuai dengan kemampuan dan tingkat siswa. Semua ini dilakukan demi memastikan aspek ramah anak pada perpustakaan tersebut terpenuhi.

Namun, konsep ramah anak tersebut bukan hanya soal tampilan dan buku. Pelayanan pada perpustakaan juga hendaknya ramah anak. Pendisiplinan siswa dengan cara kekerasan tidaklah dibenarkan. Semua elemen di sekolah mulai dari kepala sekolah, guru, pengelola perpustakaan, hingga penjaga sekolah pun sedapat mungkin berlaku ramah terhadap anak. Hal ini penting untuk membangkitkan semangat siswa dalam mengikuti setiap proses pembelajaran yang diberikan guru, baik di kelas maupun di perpustakaan.

Diakui Kepala Sekolah SD Inpres Ndapa Taka, Cornelia Ina Kii, pengalaman dalam mengimplementasikan program ini adalah pengalaman sangat berarti dan membuatnya paham bahwa dalam mendidik siswa, menggunakan kekerasan – bagaimanapun bentuknya – adalah hal yang tidak baik. Cara demikian, terangnya, justru akan membuat anak menjauh dari gurunya sendiri. Sebaliknya, berkomunikasi dengan siswa harus dilakukan dengan cara yang baik. Misalnya, dengan tidak meninggikan suara seperti aturan yang biasa digaungkan di perpustakaan itu, “Berbicaralah dengan tenang”.

Kepala Sekolah SD Inpres Ndapa Taka, Cornelia Ina Kii (baju kuning) saat peresmian perpustakaan di sekolah yang dipimpinnya

Selama ini, Cornelia mengaku guru-guru dan dirinya sendiri kerap menggunakan cara-cara yang tidak ramah anak dalam setiap pembelajaran. “Kami dulu sering sekali memarahi anak-anak. Kalau mereka salah, kami akan memaharinya dengan nada tinggi seperti berteriak,” ungkap Cornelia. “Namun, tentu itu tidak terjadi lagi. Guru-guru sudah belajar menjadi guru yang lebih tenang. Saat anak-anak berbuat kesalahan, kami menegurnya dengan bahasa yang halus. Begitupun saat mereka ribut.”

Perubahan pendekatan pedagogi tersebut merupakan hasil dari pelatihan Cornelia, para guru, dan tenaga perpustakaan selama sepuluh hari. Pada pelatihan tersebut, mereka tidak hanya dibekali mengenai bagaimana mengadakan kegiatan-kegiatan membaca di perpustakaan tapi juga bagaimana mengelola perpustakaan dan menjadikannya benar-benar ramah anak.

Ternyata perubahan pendekatan tersebut perlahan juga turut memberikan dampak yang sama pada siswa. Mereka yang selama ini terkesan mengabaikan aturan menjadi lebih tenang dan mudah untuk diarahkan. Semua siswa sepertinya sudah memahami kondisi dirinya dan tujuan mereka hadir di perpustakaan. Hal ini terlihat dalam beberapa kali pelaksaanaan kegiatan dalam perpustakaan.

Menurut Cornelia, para siswa sudah paham bagaimana bersikap. Mereka hadir untuk membaca dalam suasana tenang. Bahkan di antaranya terlihat lebih bersemangat saat di perpustakaan dibanding dalam kelas. Meski masih banyak yang belum mampu membaca dengan baik, suasana nyaman perpustakaan yang ditawarkan, kata Cornelia, membuat anak nyaman belajar di sana.

“Mereka jadi tahu dan sadar bahwa saat masuk perpustakaan ada aturan yang harus mereka taati dan jalani. Misalnya, masuk perpustakaan harus cuci tangan, lepaskan alas kaki, tidak boleh ribut. Jadi, ada semacam perubahan sikap dari mereka dan saya senang sekali dengan itu,” ungkapnya.

Disiplin Positif Melalui Perpustakaan Ramah Anak