Dengan Mainan Bongkar Pasang, Belajar Kata Jadi Menyenangkan

Oleh: Melka Ujang, guru kelas 3 SDN 005 Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan (fasilitator daerah INOVASI)

Di waktu kecil, saya sering bermain mainan bongkar pasang dari kertas. Melalui permainan itu kita bisa mencocokkan pakaian, sepatu dan aksesoris. Permainan ini menyenangkan sekali. Gagasan itu pula yang saya pakai untuk mengajarkan kompetensi dasar mengurai lambang bunyi vokal dan konsonan dalam kata Bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Saya akan meminta anak menyusun huruf berbentuk kata sesuai gambar, untuk mencapai kompetensi ini.

Pelajaran hari itu saya buka dengan menyanyikan lagu “A sampai Z”. Anak-anak bersemangat menyanyikan lagu ini. Mereka bertepuk tangan kuat-kuat. Setelah bernyanyi, saya tanya mereka makna lagu itu. Saya ingin memastikan bahwa mereka mengetahui alfabet yang mereka nyanyikan.

Setelah hati anak gembira, saatnya kami belajar. Saya sampaikan kepada mereka tujuan pembelajaran. Tidak lupa saya sampaikan bahwa kami akan belajar dengan cara yang menyenangkan.

Saya membagi anak menjadi enam kelompok. Satu kelompok berisi empat siswa. Kepada masing-masing kelompok, saya membagikan gambar dan potongan huruf acak. Misalnya saya berikan gambar baju, maka potongan huruf acak yang saya beri adalah a,b,j,u. Begitu pula jika mereka mendapat gambar topi, maka huruf acak yang saya beri adalah o,i,p,t.

Langkah pertama saya meminta anak melihat gambar. Setelah dilihat mereka harus menunjukkan gambar. Mereka harus mengangkatnya tinggi-tinggi. Setelah itu saya tanya mereka.

“Gambar apa itu?”

“Baju.”

“Topi.”

“Mata.”

Mereka sudah tahu nama benda yang ada di gambar. Tapi apakah mereka bisa menyusun tulisannya?

Sebelum menyusun kata, saya minta anak menyebut huruf-huruf yang mereka terima. Saya ingin memastikan, mereka mengenal huruf-huruf itu dan tahu bagaimana bunyinya. Bagaian ini cukup mudah, karena anak sudah di kelas tiga.

Selanjutnya anak saya minta menyusun huruf-huruf itu menjadi satu suku kata. Suku kata yang disusun tentulah harus sesuai dengan gambar yang diberikan. Mereka harus bekerja secara berkelompok. Setelah huruf disusun menjadi suku kata, mereka harus membacanya bersama-sama.

Saya pun mendatangi semua kelompok. Masing-masing kelompok saya minta membunyikan huruf dari kata yang dibentuk. Jika salah saya perbaiki. Jika benar saya beri pujian.

Sambil belajar mengenal suku kata, kata dan bunyi kata, mereka juga saya ajak mengenal angka. Caranya mereka saya minta menghitung suku kata dari setiap kata yang dibentuk. Misalnya topi terbentuk dari dua suku kata yaitu to-pi. Begitu juga dengan baju, dua suku kata yaitu ba-ju.

Agar menyenangkan, maka saya menggunakan tepukan untuk menunjukkan satu bunyi suku kata. Satu kali tepukan, satu bunyi suku kata.

“Mata. Berapa suku kata?”

“Dua,” jawab anak.

“Ayo tunjukkan,” balas saya.

Saya pun menepuk tangan satu kali.

“Ma…” ucap anak membunyikan huruf

Tepukan tangan kedua.

“Ta…”

Digabung menjadi mata.

Hebat! Anak-anak saya bisa melakukannya dengan benar.

Saatnya untuk presentasi. Saya minta setiap kelompok mengirimkan perwakilan. Mereka harus menunjukkan isi gambar, menunjukkan huruf yang disusun, membunyikan suku kata dan membacakan katanya.

Selesai presentasi, lanjut tugas individu. Anak saya minta menuliskan kata yang mereka susun di buku masing-masing. Kemudian beberapa anak saya minta maju ke depan kelas, membacakan tulisannya. Anak yang belum pernah presentasi, itu yang saya prioritaskan.

Akhirnya pembelajaran kami selesai. Kami senang. Saatnya pulang ke rumah!

Dengan Mainan Bongkar Pasang, Belajar Kata Jadi Menyenangkan