Dari Pembelajaran yang ‘Apa Adanya’ Menjadi ‘Ada Apanya’

Meskipun pembelajaran yang berpusat pada siswa telah lama digaungkan, tapi tampaknya tidak semua sekolah memiliki kapasitas untuk mengadopsi konsep tersebut. Di beberapa daerah dengan akses terhadap sumber daya yang cukup memadai pun belum sepenuhnya menerapkan pendekatan pembelajaran tersebut, apalagi daerah yang listrik saja belum masuk.

Bukan karena sekolah tidak ingin menerapkan konsep pembelajaran tersebut. Hanya saja, sumber daya sekolah – dalam hal ini guru dan fasilitas penunjang terutama media pembelajaran – dirasa belum mampu memenuhi kebutuhan pembelajaran model seperti itu. Hal ini diakui oleh Debi Uru Djawa, salah satu guru dampingan INOVASI di SD Negeri Papu di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

“Setelah saya mengikuti pelatihan-pelatihan INOVASI untuk program Literasi Kelas Awal, saya baru sadar bahwa cara mengajar saya selama ini masih berpusat pada saya,” ungkap Debi guru kelas 2 ini.

Ia mengatakan bahwa selama ini, ia hanya berceramah dan membiarkan siswa-siswanya mendengarkan. “Saya tidak pernah betul-betul tahu kemampuan setiap siswa-siswa saya itu seperti apa,” ujar Debi. Jumlah siswa dalam kelas Debi tidaklah seberapa. Hanya delapan orang. Namun cara mengajar yang selama ini ia lakukan menghalanginya untuk mengenal kemampuan siswanya lebih jauh. “Jadi, jujur saja waktu itu, saya mengajar apa adanya dan menganggap kemampuan anak sama semua.”

Akibatnya, perkembangan kemampuan siswa – terutama dalam membaca – sangatlah lambat. Diakui Debi, sebelum mulai menerapkan apa yang ia dapatkan dari pelatihan bersama INOVASI, masih ada siswanya yang belum mengenal semua huruf. Ada juga yang belum bisa membedakan huruf-huruf yang bentuknya mirip seperti b dan p. Media pembelajaran adalah barang langka di sekolahnya.

“Saya hanya tunjukkan gambar-gambar di buku teks, lalu mengaitkannya dengan lingkungan atau keseharian siswa. Banyak siswa yang kesulitan memahami kata-kata yang belum femilier, apalagi mereka yang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. “Kalau mereka tidak paham, saya jelaskan dalam bahasa daerah mereka,” kata Debi.

Perkembangan kemampuan siswa yang lambat membuat Debi resah. Ia ingin membuat pembelajaran menyenangkan bagi siswanya. Ia ingin membuat media pembelajarannya sendiri. Namun, ia juga menyadari, ia belum memiliki kapasitas untuk itu. “Saya bahkan belum tahu mau buat apa dan bagaimana,” kata Debi. Ingin memanfaatkan teknologi informasi, jaringan telekomunikasi masih belum memadai. Listrik pun belum menjangkau SD ini.

Perubahan dalam Praktik Belajar Mengajar di Kelas

SD Negeri Papu merupakan sekolah penyebarluasan program Literasi Kelas Awal 1 yang didanai oleh APBD Kabupaten Sumba Timur. Sekolah ini kemudian menjadi mitra langsung INOVASI untuk pelaksanaan program Literasi Kelas Awal 2 yang dilaksanakan pada semester kedua 2020.

Keresahan Debi terjawab sudah. Kini, ia lebih mengetahui kemampuan individual siswanya secara lebih mendalam. Mereka dikelompokkan berdasarkan kemampuan membaca mereka. Dari delapan siswanya, tiga orang sudah bisa membaca lancar, tiga orang bisa membaca kata, sementara dua lainnya masih berkutat dengan suku kata.

Dalam pembelajaran, masing-masing kelompok diberikan metode dan media pembelajaran yang sesuai kemampuan mereka. Untuk kelompok suku kata, Debi memberikan mereka dua kotak kartu. Kotak pertama berisi kartu bergambar sedangkan kotak kedua berisi kartu suku kata. Siswa diminta untuk mengambil salah satu kartu dari kotak pertama lalu menyebutkan nama benda yang tergambar. Selanjutnya, siswa mencari suku-suku kata yang membentuk nama benda tersebut dan menyusunnya menjadi kata. Siswa juga diberi kesempatan untuk bermain dengan kartu kata – mencari kartu kata yang sesuai dengan nama benda pada kartu gambar.

Sementara itu, kelompok kata menggunakan buku Ramah Cerna Kata (RCK) untuk terus melatih kemampuan membaca mereka terutama dalam penggunaan tanda baca dan intonasi. Lalu mereka ceritakan kembali secara lisan maupun lewat gambar.

Pada kelompok membaca lancar, siswa menggunakan buku berjenjang dengan membaca estafet, kalimat per kalimat sampai satu cerita selesai. Setelah selesai, Debi mengajukan pertanyaan ke mereka untuk mengetahui pemahaman mereka terhadap apa yang mereka baca.

Menyenangkan adalah kata yang diucapkan Debi saat ditanya mengenai respon para siswa terhadap pembelajaran yang saat ini ia terapkan. “Anak-anak jauh lebih senang belajar. Kemauan belajarnya jadi tinggi,” kata Debi. “Kemampuannya juga lebih cepat berkembang. Belum cukup satu semester tapi sudah ada yang bisa membaca lancar. Yang membaca kata pun sudah semakin lancar. Begitu pun dengan yang masih di suku kata.”

Guru yang mengajar sejak 2017 di SD Negeri Papu ini mengaku program INOVASI juga telah membantu meningkatkan kapasitas pengajarannya. “Saya jadi tahu kemampuan masing-masing siswa, bagaimana mengelompokkannya, dan bagaimana menyusun strategi dan media pembelajaran yang sesuai untuk mereka,” kata Debi.

Dari Pembelajaran yang ‘Apa Adanya’ Menjadi ‘Ada Apanya’