Buku Berjenjang Buatan Guru untuk Membantu Siswa Belajar Membaca

Peningkatan kemampuan membaca dan menulis peserta didik merupakan salah satu tanggung jawab besar guru. Maka dari itu, peningkatan kapasitas guru dalam mengelola pembelajaran harus terus dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Barat telah bekerja sama dengan INOVASI sejak awal bulan November 2017 dengan tujuan utama meningkatkan mutu hasil belajar peserta didik dalam bidang literasi. Program-program yang dilaksanakan di Sumba Barat antara lain; Kepemimpinan Pembelaran, KKG Literasi 1 dilanjutkan dengan KKG Literasi 2. Berdasarkan hasil evaluasi program, dirasakan bahwa kemampuan guru meningkat dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan beragam strategi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, diantaranya membaca terbimbing dengan menggunakan buku berjenjang. Kemampuan guru dalam memberikan strategi pembelajaran yang lebih baik meningkat, demikian pula dalam melakukan penilaian membaca siswa. Selain itu, kemampuan guru juga meningkat dalam melaksanakan penilaian formatif dan running record untuk menilai kemampuan membaca peserta didik, dan Program Reading Camp telah menjadi pendekatan yang efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi dasar peserta didik.


SD Negeri (Paralel) Mata Wee Tame di Kecamatan Tana Righu, Kabupaten Sumba Barat telah dikenal publik secara luas. Pemberitaan media massa tentang bangunan yang menjadi ruang kelasnya menyita perhatian publik. Pasalnya, bangunan yang menjadi ruang kelas bagi lebih dari 100 siswa ini sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu dengan lubang di mana-mana. Ruangannya sangat sempit dan lantainya beralaskan tanah.

Namun bukan hanya bangunan sekolah yang menjadi perhatian di sekolah ini. Ketersediaan media pembelajaran juga sangat minim. Meski kini sudah ada perpustakaan, buku-buku penunjang pembelajaran yang sesuai kemampuan membaca dan jenjang siswa masih sangat terbatas.

Hal inilah yang menginspirasi lahirnya buku-buku penunjang pembelajaran yang dibuat sendiri oleh guru di sekolah ini. Adalah Sriningsi Lende Puti, guru kelas dua yang melakukan inisiatif ini setelah mengikuti serangkaian pelatihan Program INOVASI. Ningsi, begitu ia disapa, mengikuti pelatihan tersebut sejak tahun 2018 namun mulai mengembangkan media buku ini sejak Agustus 2019 lalu setelah mengikuti pelatihan lanjutan dari Program INOVASI.

Ningsi membuat tiga jenis buku sesuai dengan tingkat kemampuan membaca siswa di kelasnya. Buku pertama berisi huruf-huruf yang disusun secara beruturan dan acak untuk siswa yang belum mengenal huruf. Ia membuat buku ini sebanyak delapan kopi dan menggambar sendiri huruf-huruf di dalam buku tersebut. Buku kedua berisi gambar buah-buahan yang dibubuhi beberapa suku kata dan kata untuk membantu siswa yang sudah bisa membaca suku kata dan kata.

Sementara buku ketiga dibuat dengan ukuran lebih besar dari dua buku lainnya dan dengan judul yang bervariasi seperti Celanaku dan Bajuku. Buku ini diperuntukkan bagi mereka yang sudah bisa membaca lancar karena memiliki lebih banyak kata-kata. Setiap pekannya, Ningsi bisa membuat 2-3 buku. Saat ini, total buku yang telah dibuat untuk ketiga jenis bukunya adalah 18 buah.

Ningsi menggunakan buku tersebut setiap hari, selama 30 menit sebelum Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung. Semua siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan membaca mereka. Lalu buku-buku tersebut dibagikan ke masing-masing kelompok. Buku tentang huruf diberikan kepada kelompok yang belum mengenal huruf. Buku tentang buah-buahan menjadi bahan bacaan kelompok suku kata dan kata. Sementara kelompok membaca lancar mendapatkan buku yang memiliki lebih banyak kata yang berjudul Celanaku dan Bajuku.

Selama sesi ini, Ningsi mendampingi siswa berlatih membaca. Misalnya, untuk kelompok huruf, siswa diajak untuk membaca huruf secara berurutan terlebih dahulu lalu membaca huruf-huruf yang telah diacak. Hasil pengamatannya menunjukkan huruf M/m, F/f, V/v, H/h dan B adalah huruf-huruf yang paling sulit dikenali oleh siswanya.

Penggunaan buku-buku tersebut selama periode September hingga November 2019 telah membantu meningkatkan minat dan kemampuan membaca siswa. Penurunan terjadi pada jumlah siswa pada kelompok membaca huruf dan suku kata. Sementara tingkat membaca lancar dan pemahaman mengalami kenaikan. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tingkat kemampuan membaca

Jumlah siswa

September 2019

November 2019

 Membaca huruf

8 siswa

7 siswa

 Membaca suku kata

4 siswa

3 siswa

 Membaca kata

3 siswa

3 siswa

 Membaca lancar

2 siswa

3 siswa

 Membaca pemahaman

0 siswa

1 siswa

Menurut Ningsi, perubahannya memang belum terlalu besar mengingat waktu penggunaan yang belum terlalu lama tetapi semangat belajar menjadi sangat tinggi. Untuk memaksimalkan manfaat dari buku tersebut, Ningsi meminjamkan buku tersebut kepada siswa untuk dibawa pulang dan dipelajari di rumah.

“Kedepannya, saya akan terus menambah jumlah dan variasi bukunya terutama untuk kelompok membaca huruf karena masih banyak yang belum bisa mengenal seluruh huruf,” kata Ningsi menjelaskan rencananya untuk mengembangkan buku-buku tersebut. Ia juga akan menjalin komunikasi dengan orangtua siswa agar mereka juga terlibat membantu anaknya belajar di rumah dengan buku yang dipinjamkan.

Selain itu, ia berharap agar kepala sekolah melakukan supervisi ke kelas pada saat KBM berlangsung untuk melihat bagaimana penggunaan media pembelajaran dan efektivitas metode mengajar yang ia gunakan. “Perlu supervisi kepala sekolah agar saya mendapatkan umpan balik untuk peningkatan cara mengajar saya,” imbuh Ningsi.

Buku Berjenjang Buatan Guru untuk Membantu Siswa Belajar Membaca