Boneka Kertas Sebagai Media Bercerita

Berbagai program rintisan yang dikembangkan INOVASI fokus pada upaya untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa sekolah dasar, terutama di kelas-kelas awal (Kelas 1, 2, dan 3). Berbagai bentuk kegiatan program rintisan bertujuan untuk memperkuat praktik pengajaran di ruang kelas, meningkatkan bentuk dukungan yang diberikan kepada guru, serta memastikan bahwa semua anak di kelas dapat belajar sesuai potensinya masing-masing. Di Provinsi Jawa Timur, dampak positif dari implementasi program literasi yang paling terlihat adalah adanya perubahan cara mengajar guru kelas awal yang lebih baik, terutama dalam upaya mengajarkan calistung kepada siswanya dan banyak bermunculan strategi inovatif dalam bidang literasi yang telah dihasilkan oleh guru. Berikut ini salah satu cerita guru di Probolinggo setelah mengikuti program dampingan INOVASI bekerja sama dengan Kolaborasi Literasi Bermakna (KLB) – koalisi empat organisasi (Kampus Guru Cikal, IniBudi, Keluarga Kita, serta Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan) yang memiliki visi untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak Indonesia melalui kolaborasi dan pengembangan kapasitas pemangku kepentingan yang berperan penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan, terutama guru, orang tua, dan pemerintah.


Sebagai seorang guru yang mengajar di sekolah yang berada di wilayah pedesaan, Heny Alfiana, S.Pd. SD mengakui bahwa tantangan yang ia hadapi cukup besar. Mengajar di kelas 2 SDN Randujalak, Kabupaten Probolinggo, Heny mengatakan bahwa siswa di sekolahnya — khususnya yang duduk di bangku kelas 2, umumnya kurang percaya diri. Mereka sangat pemalu dan sangat sulit menjelaskan sesuatu apabila ada materi bercerita. Siswa juga saling tunjuk, karena mereka tidak percaya diri untuk maju di depan kelas dan bercerita. Karena tidak ada yang mau maju ke depan kelas, suasana kelas pun menjadi tidak menyenangkan.

Sejak mengikuti program Kolaborasi Literasi Bermakna (KLB) bersama INOVASI yang diimplementasikan di Kabupaten Probolinggo, Heny menjadi termotivasi untuk menumbuhkan rasa percaya diri siswa sekaligus memantabkan materi literasi siswa. Tercetuslah sebuah ide untuk membuat boneka kertas sebagai media bercerita.

“Saya membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Selanjutnya mereka berdiskusi tentang tema cerita yang akan ditampilkan dan tokoh-tokoh boneka kertas. Setiap kelompok kemudian membuat tokoh-tokoh boneka dari kertas warna-warni dan membagi peran siapa saja yang akan menjadi tokoh dalam boneka,” kata Heny menceritakan proses belajar dengan menggunakan boneka kertas.

Barulah kemudian setiap kelompok membuat skenario terkait cerita yang akan ditampilkan dalam selembar kertas. Setiap kelompok kemudian bergiliran maju ke depan membawakan boneka kertas yang telah mereka buat sesuai dengan skenario yang mereka tulis.

Heny pun meminta semua siswa secara bergantian harus tampil ke depan memerankan tokoh-tokoh yang telah mereka buat sendiri.

“Ternyata melalui strategi ini, rasa percaya diri siswa mulai tumbuh dan siswa berani bercerita di depan kelas. Bahkan siswa yang sangat pemalu yang awalnya enggan berbicara mulai dapat berbicara di depan kelas. Suasana kelas berubah menjadi lebih hidup dan menyenangkan dan kemampuan siswa bercerita dalam tulisan juga meningkat. Siswa justru ketagihan untuk membuat boneka kertas lagi,” cerita Heny dengan gembira.

Heny kemudian juga menggunakan materi-materi di buku tematik untuk ditampilkan sebagai tokoh dalam boneka kertas. Strategi ini ternyata juga membantu memudahkan siswa dalam memahami materi yang ada di buku tematik.

Program yang dilaksanakan INOVASI bekerja sama dengan Kolaborasi Literasi Bermakna ini telah dilaksanakan sejak tahun 2018. Program ini bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan untuk anak-anak Indonesia melalui kolaborasi dan peningkatan kapasitas seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan anak, termasuk guru, orang tua, dan pemerintah. Tujuan ini diwujudkan dengan mengembangkan para guru sebagai agen perubahan di tingkat pemangku kepentingan masing-masing.

Boneka Kertas Sebagai Media Bercerita