Big Book Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa di Sumba Barat, NTT

Salah satu tantangan pembelajaran di Sumba, yang diidentifikasi oleh INOVASI pada tahun 2017 dan 2018, adalah minimnya pengetahuan dan keterampilan profesional guru dalam mengajar membaca di kelas awal. Termasuk dalam hal penggunaan media belajar untuk membantu kegiatan belajar mengajar di kelas. Padahal media pembelajaran juga turut memengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran. Melalui media ini, penyajian pesan dan informasi menjadi lebih jelas sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Seiring dengan perkembangan teknologi, media pembelajaran terus mengalami perubahan baik dalam bentuk maupun cara mengaksesnya. Pada kenyataannya, kemajuan tersebut belum dapat dirasakan sepenuhnya oleh sekolah-sekolah di Sumba. Kondisi geografis Sumba dan keterbatasan pendanaan menjadi tantangan untuk mengakses media pembelajaran modern. Namun, hal ini ternyata tidak menyurutkan semangat guru-guru di sekolah dampingan INOVASI untuk berkreasi, membuat media pembelajaran dari sumber daya yang dimiliki, seperti yang terjadi di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Di Sumba Barat, NTT, semangat kreativitas dalam mengembangkan media pembelajaran datang dari Apliana B. Awang, seorang guru kelas 1 di SDN Lokory yang ada di Kecamatan Tana Righu. Apliana yang merupakan salah satu fasilitator program Literasi Kelas Awal yang dilaksanakan INOVASI di kabupaten tersebut, berinisiatif membuat 20 Big Book atau buku besar untuk digunakan dalam kegiatan belajar di kelasnya. Menurutnya media pembelajaran seperti ini sangat efektif menarik perhatian siswa. “Ketika anak-anak melihat gambar yang menarik, mereka langsung berusaha untuk mengenal huruf dari tulisan yang menyertainya,” jelasnya menyampaikan hasil pengamatannya sejauh ini.

Bukan hanya untuk membaca, Big Book juga dimanfaatkan oleh Apliana sebagai alat bantu untuk belajar menulis bagi siswa. Dengan mengasosiakan bentuk huruf dengan hewan, ia menggunakan huruf-huruf yang ada pada buku tersebut untuk melibatkan imajinasi siswa dalam menuliskan bentuk huruf. Misalnya huruf ‘S’ akan diasosiakan dengan ular sehingga anak-anak merasa seperti menggambar ular saat menggoreskan pensilnya.

Saat ini, Apliana bersama guru-guru lain di sekolahnya tengah mengembangkan buku-buku besar lainnya. Menurutnya buku-buku ini nantinya akan lebih menarik dengan kalimat-kalimat yang sangat pendek, 3 sampai 4 kata per kalimat.

Inisiatif untuk membuat sendiri buku besar ini pun dilatarbelakangi oleh minimnya ketersediaan media pembelajaran di sekolahnya. Jika pun ada, menurutnya buku-buku tersebut tidak ramah anak dan terlalu pada tulisan sehingga siswa, khususnya di kelas awal, tidak tertarik. Akibatnya anak-anak tidak dapat memahami apa yang tertuang dalam buku tersebut apalagi untuk menceritakannya kembali. “Dengan buku besar yang kami buat, siswa dapat menceritakan kembali isi dari buku meski dengan bahasa yang berbeda,” ungkapnya.

Penggunaan buku besar ini dan media pembelajaran lainnya telah membawa perubahan besar di kelas 1, SDN Lokory.

Menurut Apliana, sejak tahun 2013, peserta didiknya belum pernah mencapai level Membaca dengan Pemahaman. Namun sejak menggunakan media pembelajaran pada tahun 2019, sebanyak 6 siswa telah berhasil mencapai tingkat tersebut sementara 2 siswa lainnya mencapai tingkat Membaca Lancar dalam waktu 1 bulan dari yang sebelumnya berada pada tingkat Membaca Suku Kata.

Minat baca keseluruhan siswa pun meningkat tajam. Hal ini ditunjukkan dengan rajinnya anak-anak membaca di pojok baca maupun membaca pajangan-pajangan yang ada di dinding.

Big Book Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa di Sumba Barat, NTT