Berbagai Ide untuk Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa

Sejak menjadi populer di berbagai negara, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa atau Student-Centered Learning (SCL) juga sudah digalakkan di Indonesia sejak bertahun-tahun silam. Berbagai kemajuan dapat disaksikan di mana-mana. Namun metode belajar tersebut belum sepenuhnya terlaksana dengan baik dan efektif, bahkan belum diterapkan sama sekali di beberapa daerah di Indonesia.

Di SD Negeri Waimangu di Kabupaten Sumba Tengah, NTT, misalnya. Sebagai guru yang mengajar di kelas 1, Yulius Iki mengaku bahwa dirinya dulu belum melakukan pembelajaran dengan pendekatan tersebut. Bahkan, dirinya belum mengetahui apa yang dimaksud dengan SCL.

Pembelajaran yang dilakukan oleh Yulius  selama ini sangat mengandalkan metode ceramah. Misalnya, dengan buku paket. Ia menuliskan huruf-huruf di papan, menyebutkannya, lalu meminta siswa untuk menyebutkan huruf-huruf tersebut. Tidak ada kesempatan siswa untuk mengekspresikan keingintahuan mereka dan melakukan hal-hal yang mereka senangi. Semuanya berpusat pada guru. Cara-cara seperti ini diakuinya membuat siswa tidak tertarik dalam pembelajaran dan kemampuan membaca mereka pun tidak berkembang maksimal selama diampu di kelas 1.

Tetapi pelatihan yang ia dapatkan melalui program INOVASI mengenalkannya pada metode-metode pembelajaran yang sebelumnya belum pernah ia peroleh. Kelasnya pun berubah menjadi kelas yang literat. Namun karena saat ini ruang kelasnya sedang direnovasi, siswa kelas Yulius harus belajar di ruang sempit di dalam perpustakaan. Alhasil untuk sementara waktu ia tidak bisa secara leluasa memanfaatkan kelas literatnya maupun mengatur tempat duduk siswa sesuai kebutuhan pembelajaran.

Meski demikian, Yulius tetap berupaya memanfaatkan apa yang ada untuk memaksimalkan pembelajaran. Salah satunya dengan menggunakan kalender bekas untuk membuat Big Book. Ia mengembangkannya sesuai tema pada Kurikulum 13.

Misalnya, untuk tema “Diriku”, ia membuat Big Book yang memperkenalkan siapa saja yang ada dalam sebuah keluarga, mulai dari ayah, ibu, aku, kakak, adik, dan lainnya. Yulius menggambar sendiri ilustrasi pendukung untuk Big Book tersebut.

Dalam penggunaannya, ia bersama-sama para siswa membaca kata yang menerangkan ilustrasi pada Big Book. Lalu memandu siswa mengeja huruf-huruf yang membentuk kata tersebut. Untuk menambah minat belajar siswa, Yulius selanjutnya menggunakan tokoh-tokoh dalam buku tersebut untuk bermain peran. Ada yang menjadi ayah, ada yang menjadi ibu, kakak, adik, dan lainnya. Sebagai penutup, Yulius memancing pemahaman siswa dengan pertanyaan seperti, “Tadi kita belajar tentang apa? Ada siapa saja?”.

Yulius juga membawa siswanya belajar di luar kelas. Ia kerap menggunakan media pasir yang ada di halaman sekolah untuk mengilustrasikan bahan pelajaran seperti pengenalan nama-nama hewan. Ia mengguratkan ranting kayu di atas pasir untuk membentuk gambar yang menyerupai kuda, ayam, bebek dan hewan lainnya. Siswa diminta untuk menerka gambar tersebut dan menyebutkan ciri-cirinya.

Saat kembali ke kelas, Yulius sudah siap dengan poster hewan dan kembali mengenalkan hewan-hewan pada poster kepada siswa. Kemudian dilanjutkan dengan latihan membaca nama-nama hewan tersebut.

“Sebelum penerapan metode-metode seperti itu, di semester satu, belum ada siswa yang mampu sampai pada tingkat membaca kalimat singkat. Tapi di kelas yang sekarang, meski dengan kondisi ruang kelas yang kurang nyaman, ada satu siswa yang sudah sampai pada level tersebut. Sementara yang lainnya sudah bisa menggabungkan suku kata dan mengenal huruf,” kata Yulius menjelaskan dampak pembelajaran yang ia lakukan.

Dengan metode belajar dan media pembelajaran yang bervariasi, anak-anak semakin senang belajar dan aktif saat pembelajaran berlangsung.

Berbagai Ide untuk Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa