Beragam Strategi untuk Mendukung Kelancaran Membaca Siswa

Siswa yang sibuk bermain dengan temannya saat pembelajaran berlangsung mungkin sudah menjadi pemandangan yang lazim ditemui di berbagai sekolah. Bagaimana dengan siswa yang kejar-kejaran, naik di atas meja, atau berbuat gaduh di dalam kelas saat guru sedang memberikan pelajaran? Di SD Negeri Alala, salah satu sekolah dampingan program INOVASI di Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur, pemandangan seperti ini sudah menjadi bagian dari proses pembelajaran sehari-hari. Bukan karena kenakalan para siswa tapi karena pembelajaran yang kurang menarik di mata mereka.

Hal tersebut diakui oleh Yusuf Umbu Sangaji, guru kelas 2 di SD Negeri Alala. “Sudah sering sekali. Saat saya menjelaskan mereka malah kejar-kejaran, ada yang berantem juga. Saat saya menghampiri mereka, siswa yang lainnya melakukan hal yang sama,” kata Yosef.

“Tapi sebenarnya mereka tidak nakal. Saya melihatnya lebih pada karena mereka tidak ada minat untuk belajar.”

Yosef mengatakan bahwa ia merasa kesulitan menangangi karakter 15 siswanya yang berbeda-beda. Di sisi lain, ia belum memiliki strategi mengajar yang mampu menarik perhatian siswanya. Papan tulis adalah tumpuan utamanya. Untuk membantu siswa membaca, ia menuliskan suku-suku kata di atas papan lalu membacanya bersama-sama. Metode seperti ini diakuinya tidak begitu membantu siswanya untuk bisa membaca. “Karena membaca bersamaan dan saya hanya fokus pada papan, saya tidak bisa mengetahui mana siswa yang sudah bisa membaca mana siswa yang hanya membeo,” jelasnya.

Setelah mendapatkan pelatihan terkait peningkatan literasi untuk siswa kelas awal, Yosef akhirnya menyadari bahwa apa yang dilakukannya selama ini berkontribusi pada rendahnya minat belajar siswa. Ia pun mengeksplorasi berbagai metode mengajar untuk menarik perhatian siswanya. Ia mulai menggunakan Big Book dan sejumlah media pembelajaran lainnya seperti kartu suku kata/kata, tembok kata, pohon ilmu, dan pojok baca.

Penggunaan media pembelajaran pun disesuaikan dengan kemampuan siswa. Yosef mengelompokkan siswanya berdasarkan kemampuan membaca awal mereka. Siswa yang sudah bisa membaca suku kata dan kata dijadikan satu kelompok sementara mereka yang masih mengeja huruf disatukan dalam kelompok yang lain.

“Saya membimbing mereka dengan beberapa buku cerita. Saya minta mereka maju ke depan satu per satu untuk membaca beberapa kalimat. Mereka yang belum lancar, saya kelompokkan dan melibatkan mereka dalam permainan seperti lompat suku kata,” tutur Yosef.

Yosef menggunakan kartu suku kata dalam permainan lompat suku kata. Dua siswa maju ke depan dan berdiri dengan jarak sekitar 1,5 meter satu sama lain. Keduanya memegang masing-masing satu kartu suku kata. Mereka melakukan lompatan kecil arah satu sama lain sambil meneriakkan suku kata yang ada pada kartu. Setelah kedua siswa berdampingan, mereka lalu membaca kata yang terbentuk dari kedua suku kata.

Kartu kata juga digunakan untuk permainan mencari kata. Yosef menyebutkan satu kata lalu meminta para siswa di kelompok tertentu untuk berlomba menemukan kata tersebut pada tumpukan kartu kata. Permainan seperti ini, kata Yosef, membantu siswa mengingat seperti apa bentuk huruf dan susunannya untuk kata yang dicari.

Memang perkembangan kemampuan para siswa, diakui Yosef, masih tergolong lambat. Namun satu hal yang menurutnya terlihat jelas adalah peningkatan minat belajar mereka. “Mereka senang dan partisipatif sekali selama pembelajaran. Yang penting minat dan perhatiannya dulu, dan saya yakin kemampuan membaca mereka akan meningkat seiring berjalannya waktu,” pungkasnya.

Beragam Strategi untuk Mendukung Kelancaran Membaca Siswa