Belajar Sambil Bernyanyi dengan Bahasa Ibu

Pagi itu, langit masih cerah. Jalan menuju SD Negeri Mawo Maliti di Desa Kanelu, Kec. Wewewa Timur, Kab. Sumba Barat Daya tampak lengang. Warna putih hancuran batu kapur yang mengalasi jalan tersebut memberi kesan panas dan menyilaukan. Namun hal tersebut malah mengundang siswa untuk bermain di ruas jalan di depan sekolah mereka. Senyum semringah terus terpancar dari wajah polos mereka, menyapa pengguna jalan yang sesekali melintas.

Di halaman sekolah, beberapa siswa terlihat senang bermain bersama teman-temannya. Di sudut lainnya, beberapa siswa SMP Negeri Mawo Maliti mondar-mandir dari kelas ke kantin sekolah yang tidak jauh dari kelas mereka. Maklum kedua sekolah itu berada di kompleks yang sama atau yang biasa dikenal dengan istilah satu atap.

Sementara di dalam ruangan yang kecil, tampak seorang guru tengah membimbing beberapa siswanya menulis. Dengan melantai dan ditemani meja kecil seadanya, anak-anak serius sekali menulis di kertas buku yang sudah lusuh dan kusut. Usai membimbing anak-anak tersebut, sang guru kemudian meminta anak-anaknya berdiri bersama menyanyikan lagu dalam bahasa setempat untuk menyudahi pelajaran hari itu.

Beberapa kali terdengar ejaan huruf dalam lagu-lagu yang dinyanyikan tersebut yang diiringi dengan gerakan kecil yang membuat anak-anak sangat antusias. Mereka adalah siswa kelas satu dan guru yang mendampingi mereka adalah Martha Dada Gole. Martha telah lama menerapkan proses belajar dengan nyanyian bahasa daerah ini. Ia telah melakoni praktik ini sejak menjadi tenaga sukarela pada 2000 silam. Begitupun saat dirinya dipercayakan menjadi tenaga kontrak daerah hingga penjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) dan ditempatkan di SD Negeri Mawo Maliti.

Menurut pengakuan Martha, lagu-lagu yang dinyanyikan tersebut adalah ciptaannya sendiri dan memiliki tujuan berbeda-beda. Lagu pertama adalah lagu bangun tidur. Lagu ini bercerita tentang membangunkan orang tua untuk menyiapkan sarapan pagi. Sementara lagu kedua merupakan ungkapan syukur dan doa kepada Tuhan atas berkah dan perlindungan yang diberikan. Lagu ketiga merupakan ajakan untuk tidak boleh berkelahi dan bertengkar, dan lagu yang keempat adalah ajakan kepada sesama siswa untuk datang ke sekolah dan rajin mengikuti pelajaran.

Lagu-lagu tersebut bukan sekedar untuk dinyanyikan. Ada muatan pelajaran yang disisipkan di dalamnya. “Ada pelajaran mengenal huruf dan suku kata. Ada juga lagu perhitungan dari 1-10 seperti di lagu terakhir itu,” kata Martha. Semua lagu tersebut merupakan lagu dalam bahasa daerah.

Pemilihan penerapan proses belajar dengan menggunakan nyanyian dalam bahasa daerah ini sendiri memang bukan tanpa alasan. Selain untuk memudahkan anak memahami pelajaran yang diberikan, kata Martha, kebiasaan anak khususnya di kelas awal yang menggunakan bahasa ibu dalam kesehariannya membuatnya harus menggunakan inovasi tersebut. Baginya, inovasi itu setidaknya bisa sedikit membantu anak-anak yang berada di pedalaman yang belum fasih menggunakan bahasa Indonesia.

Hal ini, terangnya, sudah ia buktikan sendiri walaupun dirinya menyadari bahwa penerapan pembelajaran dengan nyanyian dalam bahasa Ibu masih belum maksimal, sebagaimana yang diharapkan hingga kehadiran INOVASI pada akhir 2017 silam. Diakui Martha, sebelumnya ia belum terlalu memahami bagaimana menyampaikan pelajaran yang sesuai kebutuhan siswa.

Misalnya, untuk mengeja huruf, ia mengenalkannya sekaligus kepada siswa. “Padahal, ternyata memang ada beberapa huruf yang mudah bagi siswa, ada juga yang sulit. Jadi, ada tingkat kesulitannya. Misalnya huruf P dan B yang masih sulit dibedakan siswa,” jelas Martha.

Namun, hal ini perlahan-lahan berubah sejak ia turut serta di dalam program pelatihan dan pendampingan dari INOVASI, yaitu program Literasi Kelas Awal. Ia pun melakukan penyesuaian pada cara mengajarnya. Hasilnya, siswa-siswa kelas 1 perlahan mulai mengenal semua huruf. Demikian juga dengan angka.

Tidak heran jika kemudian dirinya mendorong agar program INOVASI bisa diadopsi sekolah lain khususnya di daerah pedesaan. Pada kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) gugus, Martha sempat membagikan pengetahuan dan pengalamannya selama mempraktikkan apa yang telah ia pelajari selama program INOVASI.

Menariknya, dari forum tersebut, sekolah-sekolah lain seperti SD Inpres Kanelu, SD Katolik Mareda Wuni, dan SD Inpres Lombu pun kemudian turut menerapkan beberapa metode pembelajaran INOVASI yang dibagikan oleh Martha.

Baginya hal itu adalah sebuah bukti nyata bahwa penerapan proses pembelajaran inovatif dan kreatif, seperti dengan bantuan nyanyian dalam bahasa Ibu, adalah sesuatu yang baik dan berdampak bagi perkembangan siswa.

Belajar Sambil Bernyanyi dengan Bahasa Ibu