Belajar Kalimat Aktif Transitif Jadi Lebih Menyenangkan di Sumbawa Barat, NTB

Bagi Nursanah, S.Pd., seorang guru asal Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, NTB, kemampuan literasi merupakan kunci utama keberhasilan belajar siswa. Ia percaya bahwa inovasi pembelajaran adalah kendaraan menuju kemampuan literasi siswa yang mumpuni. Ana, begitu ia akrab disapa, memulai perjalanannya di dunia pendidikan pada 22 tahun lalu. Cita-citanya sederhana, memajukan pendidikan di Kabupaten Sumbawa Barat, tidak hanya dengan mengajar, tetapi juga dengan berbagi ilmu dan kreativitas.

Ana merupakan peserta program INOVASI yang fokus dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas dengan mendukung guru mengembangkan kompetensi mengajar mereka (Guru BAIK/Belajar-Aspiratif-Inklusif-Kontekstual). Ia mengakui bahwa memajukan pendidikan di Kabupaten Sumbawa Barat bukan hal yang mudah. Beragam tantangan dihadapinya, mulai dari keterbatasan kemampuan siswa sampai pada media pembelajaran yang membuat siswa bosan. Selain itu, kapasitas siswa yang berbeda-beda juga memacu semangat Ana mencari cara mengurangi kesenjangan kemampuan siswa, setidaknya dalam hal membaca. Pendekatan personal digunakannya untuk melatih anak-anak di luar jam sekolah yang masih tertinggal. Kini, guru di SDN 10 Taliwang ini sudah mampu mendorong kemampuan literasi siswa dengan kreatif.

Alat Peraga Bernama “Tepi Ajaib”

Dalam Bahasa Indonesia, kalimat aktif menjadi salah satu materi yang wajib dikuasai siswa. Namun kenyataannya, salah satu tantangan siswa dalam literasi adalah kesulitan membaca dan membuat kalimat aktif transitif, yaitu kalimat aktif yang berpola Subjek-Predikat-Objek. Berangkat dari permasalahan tersebut, Ana lantas berinisiatif mendorong semangat siswa dengan menciptakan alat peraga yang diberi nama “Tepi Ajaib”. Ana mencoba memanfaatkan bahan bekas yaitu bambu yang dianyam untuk bahan dasar pembuatannya kemudian dilengkapi tanda panah dan potongan kata dengan kertas.

“Untuk mendapatkan kalimat aktif, siswa harus memutar tepi ajaib ini satu per satu dimulai dari ukuran yang paling kecil atau sebaliknya. Dibiarkan sampai berhenti sehingga tanda panah menunjukkan masing-masing kata dari ketiga tepi untuk kemudian diurutkan menjadi satu kalimat,” jelas Ana.

Guru kelahiran 1 Januari 1968 ini mengakui bahwa semangat berkreasinya semakin menyala karena adanya Lomba Inovasi Pembelajaran di Kabupaten Sumbawa Barat. Ana akhirnya terpilih untuk menjadi pemenang. Media belajar ini diikutkannya pula pada perlombaan serupa yang difasilitasi program INOVASI untuk diadu dengan karya para guru di tingkat provinsi.

“Walaupun baru saja mengikuti pelatihan INOVASI melalui program Guru BAIK, saya jadi terdorong untuk membuat semakin banyak lagi mengembangkan ide pembelajaran yang baru. Tidak hanya itu, melalui kegiatan tersebut para guru dapat saling berbagi dan mengembangkan kreativitas,” ungkapnya.

Ana berharap agar semua guru tidak hanya dapat mengembangkan media pembelajaran untuk menjadi lebih menarik dan menunjang kegiatan belajar di kelas tetapi juga dapat merangsang kreativitas siswa.

Belajar Kalimat Aktif Transitif Jadi Lebih Menyenangkan di Sumbawa Barat, NTB