Bangkitkan Semangat Guru dan Siswa Melalui Model Pembelajaran Kelas Rangkap

Model pembelajaran Kelas rangkap adalah saat seorang guru mengajar lebih dari satu kelas pada saat yang sama di kelas yang sama. Pendekatan ini sangat penting, terutama di daerah-daerah terpencil dengan populasi kecil dan di sekolah-sekolah yang kekurangan guru atau ruang kelas. Pengajaran kelas rangkap juga merupakan salah satu cara untuk meningkatkan penyebaran guru dan rasio siswa-guru dan berguna bagi guru yang ingin membedakan pembelajaran untuk anak-anak dengan berbagai kompetensi. Di Probolinggo, Jawa Timur, INOVASI mengimplementasikan program rintisan ini di ruang kelas. Berikut ini kisah pengalaman program yang telah berlangsung hingga Juli 2019 dari kacamata Kepala Sekolah SDN Sukapura 3 Probolinggo, Hadi Trilaksono.


SDN Sukapura 3 Probolinggo merupakan salah satu sekolah di lereng Gunung Bromo yang memiliki permasalahan kekurangan guru. Dengan jumlah 51 siswa, sekolah hanya memiliki satu guru PNS dan empat guru honorer. Sang kepala sekolah, Hadi Trilaksono, tidak bisa berbuat banyak karena kekurangan guru menjadi masalah di wilayah-wilayah terpencil di Kabupaten Probolinggo.

“Sebelum sekolah ini menjadi sekolah mitra program INOVASI, saya amati, guru mengajar hanya (sekadar) menggugurkan kewajiban mereka mengajar saja. Motivasi mengajar mereka biasa saja sehingga motivasi siswa untuk belajar menjadi rendah,” ungkapnya.

Hal tersebut menyebabkan capaian belajar siswa menjadi sangat rendah. Bahkan ada beberapa siswa yang duduk di kelas 4 dan 5, tetapi masih belum lancar membaca.

Keinginan untuk mengubah keadaan menurut Hadi sangat sulit diwujudkan. Mengajak guru untuk mengubah cara mereka mengajar juga sulit. Di satu sisi, para guru merasa usahanya sudah maksimal, tetapi tidak mendapatkan dukungan dari wali murid. Para guru juga mengalami kesulitan dalam mendorong siswa untuk lebih bersemangat dalam belajar. Siswa cepat lelah, tidak punya gairah belajar, dan mudah menyerah.

Untungnya, kehadiran program rintisan kelas rangkap (multigrade teaching) yang dikembangkan di Kecamatan Sukapura, Probolinggo, sangat memberikan pencerahan pada sekolahnya.

“Saya seperti menemukan solusinya setelah bertahun-tahun berpikir keras mengatasi permasalahan ini,” ungkap Hadi bersemangat.

Memulai Perubahan

Bersama dengan para guru dan adanya dukungan penuh dari wali murid, Hadi membuat perubahan di sekolahnya pasca mendapatkan pelatihan dari INOVASI.

Langkah perubahan awal adalah mengubah posisi tempat duduk dan menerapkan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM). Pajangan hasil karya para siswa mulai memenuhi dinding kelas. Penggabungan kelas juga dilakukan untuk mengatasi kekurangan guru, misalnya kelas 1 digabungkan dengan kelas 2.

Wali murid kembali diberi motivasi agar memberikan dukungan penuh pada anak-anak mereka. Mereka diberi pelatihan parenting untuk mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dalam mendukung proses belajar anak terutama saat kembali ke rumah dan mencari solusi secara bersama-sama. Menurut Hadi, dampak dari parenting ini sangat luar biasa.

“Karena wali murid hanyalah petani maka secara kompak mereka memberikan dukungan maksimal untuk perubahan yang dilakukan oleh sekolah. Mereka kemudian memiliki ide untuk menanam pisang dan buahnya akan dijual. Hasil penjualan pisang digunakan untuk mendukung proses belajar anak, misalnya membeli peralatan tulis, buku bacaan, dan kebutuhan lainnya,” tutur Hadi dengan bangga.

Pisang yang mereka gunakan untuk mendukung proses belajar anak diberi nama “Pisang INOVASI”, yaitu jenis pisang candi dengan nilai jual tinggi di Sukapura. Pisang candi biasa digunakan sebagai sesaji saat upacara adat. Hasil penjualan pisang ini dimanfaatkan oleh paguyuban kelas, salah satunya untuk membeli buku bacaan yang diletakkan di sudut baca kelas. Untuk orang tua yang tidak memiliki lahan, pihak sekolah bahkan meminjamkan lahan untuk ditanami ‘Pisang INOVASI.’

Perubahan ini membawa dampak terhadap semangat belajar siswa yang menjadi bangkit kembali. Dukungan orangtua mulai tumbuh dan semangat mengajar guru juga mulai meningkat. Menurut Hadi, kekurangan guru kini tidak lagi menjadi kendala dan sekolah sudah fokus ke peningkatan kualitas pembelajaran.

Hadi yang saat ini akan memasuki masa pensiun merasa bangga bisa menjadi bagian dalam kemajuan sekolah di SDN Sukapura 3.

“Rasanya saya jadi tidak ingin pensiun buru-buru dan ingin tetap berkarya,” tuturnya dengan rasa bahagia.

Bangkitkan Semangat Guru dan Siswa Melalui Model Pembelajaran Kelas Rangkap