Temu INOVASI #7: Kolaborasi dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi Siswa Kelas Awal

Jakarta, 3 Oktober 2019 – Badan Penelitan dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud bersama program kemitraan Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) kembali menggelar forum Temu INOVASI yang diselenggarakan dalam semangat menyambut Hari Guru Sedunia yang diperingati di tanggal 5 Oktober. Mengusung tema “Kolaborasi dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi Siswa Kelas Awal”, forum diskusi pendidikan ini menyajikan perspektif nasional dan daerah dalam upaya meningkatkan kemampuan literasi siswa sekolah dasar.

Hadir sebagai narasumber adalah guru dan unsur pelaksana urusan pemerintahan bidang pendidikan dari provinsi termuda Indonesia, yaitu Provinsi Kalimantan Utara; Direktur Pembinaan SD, Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud; Direktorat Pelayanan Sosial Dasar, Kementerian Desa PDTT; Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Selain itu, Pusat Penelitan Kebiijakan (Puslitjak) Balitbang Kemendikbud menyampaikan paparan tentang “Kajian Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca)” dan “Penelitian praktik baik peningkatan kemampuan literasi dasar”.

Melalui program INOVASI, pemerintah Indonesia dan Australia menjalin kemitraan untuk lebih memahami dan mengatasi tantangan belajar di kelas-kelas awal pendidikan dasar, khususnya yang berkaitan dengan kemampuan literasi dan numerasi siswa. Salah satu upaya untuk atasi tantangan pendidikan yang terus dilakukan oleh INOVASI adalah menggali cara-cara terbaik meningkatkan keterampilan literasi siswa kelas awal, demi menemukan solusi lokal yang penerapannya dapat memperkuat kualitas pengajaran dan pembelajaran di kelas.

Tantangan Literasi di Kalimantan Utara

Kalimantan Utara (Kaltara) merupakan provinsi termuda di Indonesia. Luas wilayahnya lebih dari 72 ribu kilometer persegi, atau hampir dua kali luas Provinsi Jawa Timur. Provinsi ini berbatasan langsung dengan Sabah, Malaysia. Sedangkan dari jumlah penduduk, Kaltara hanya dihuni sekitar satu juta jiwa yang tersebar secara tidak merata di perkotaan, pendesaan, pedalaman, perbatasan dan pesisir.

Salah satu tantangan pendidikan di Kaltara adalah mengatasi rendahnya kemampuan membaca siswa SD. Hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) masih terdapat 60,67% siswa kelas 4 SD yang kurang membaca di Kaltara. Hasil pendalaman AKSI melalui Rapid Participatory Situation Analysis (RPSA)[1], menemukan salah satu penyebabnya adalah ketidaktersediaan buku yang menarik dan revelan dengan usia anak. Hasil SIPPI[2] yang dilakukan INOVASI, menemukan 85% siswa kelas awal suka membaca buku. Namun 68% buku yang dibaca adalah buku pelajaran, 17% menyatakan membaca buku cerita dan lainnya. Studi Buku Kelas Awal [3]yang juga dilakukan INOVASI menemukan dari 4.055 judul buku cerita anak yang ada di perpustakaan sekolah, hanya 393 judul yang sesuai untuk siswa kelas awal.

Anak adalah produk dari masyarakat, dan kualitas masyarakat sangat memengaruhi pola tumbuh kembang anak. Itu sebabnya keterlibatan masyarakat dalam urusan pendidikan menjadi penting. Kolaborasi dalam mendukung pendidikan, diharapkan mendorong lebih banyak dukungan dari masyarakat dan juga swasta. Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) menyebut bahwa urusan Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama.

Membangun Gerakan Literasi

 Kaltara memiliki cara tersendiri dalam membangun gerakan literasi. Lewat kolaborasi pemerintah daerah, pegiat literasi, universitas, sekolah, lembaga internasional, BUMN dan perusahaan swasta, gerakan literasi di Kaltara mampu menjangkau banyak tempat di pedalaman dan perbatasan.

Dengan wilayah yang luas, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara tentu tidak bisa sendirian membangun budaya literasi. Semua kekuatan dan potensi yang ada di Kaltara pun disatupadukan melalui kelompok kerja (Pokja) literasi. INOVASI pun mendukung penuh pokja literasi yang digagas Bunda Baca Kaltara. Sejak Desember 2017, INOVASI telah berkerjasama dengan Pemprov Kaltara dalam melaksanakan berbagai program peningkatan mutu pendidikan dasar, khususnya literasi di kelas awal. Program tersebut dilaksanakan di dua kabupaten mitra, yaitu di Kabupaten Bulungan dan Malinau.

Dalam melaksanakan program-program untuk meningkatkan kemampuan literasi kelas awal tersebut, INOVASI juga menjalin kemitraan dengan Universitas Negeri Makasar (UNM), Universitas Borneo Tarakan (UBT), serta Yayasan Litara dan komunitas OPOB (One Person One Book). Kemitraan ini mendorong penumbuhan budaya membaca yang menyenangkan melalui pengembangan bahan bacaan, penguatan peran perpustakaan desa dan peningkatan mutu sekolah.

Selain itu, menghadapi tantangan akses buku bacaan anak yang berkualitas, INOVASI pun bekerja sama dengan The Asia Foundation (TAF) melalui program Let’s Read. Program yang dilaksanakan mengujicobakan penggunaan Pustaka Digital di kelas. Ini merupakan aplikasi buku cerita digital untuk anak yang dirancang melalui program Let’s Read, yang dapat menjadi bahan baca alternatif untuk mendorong minat baca anak. Di kelas, guru bisa menembakkan layar ponsel ke proyektor memungkinkan para guru untuk menghidupkan cerita dalam kelompok besar sehingga memberikan pengalaman membaca yang beda dan menyenangkan bagi para siswa di daerah 3T.

Di berbagai kesempatan Kepala Balitbang Kemendikbud, Totok Suprayitno, menggarisbawahi bahwa wujud nyata dari pelaksanaan program INOVASI nantinya akan tampak dalam proses belajar mengajar di kelas, bukan dalam bentuk mendikte, namun lebih dengan menggali potensi lokal sehingga dapat menemukan pola pengajaran yang cocok bagi anak. Dalam pelaksanannya, INOVASI menggunakan pendekatan yang bertujuan untuk menemukan cara-cara yang pas sesuai konteks lokal dalam meningkatkan keterampilan literasi dan numerasi siswa – solusi yang sesuai dengan potensi lokal untuk mengatasi tantangan pembelajaran di daerah.

* * *

[1]   Rapid Participatory Situation Analysis (RPSA) dilakukan di empat Kabupaten di Kaltara (Bulungan, Malinau, Nunukan dan Tana Tidung) oleh INOVASI pada tahun 2017.

[2] Survey Inovasi Pembelajaran dan Pendidikan Indonesia (SIPPI) dilakukan oleh INOVASI mulai 19 November – 13 Desember 2017

pada 20 sekolah pilot INOVASI di Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Malinau.

[3] Studi dilakukan pada Juli 2018 dengan melibatkan 20 SD pilot INOVASI di Bulungan dan Malinau, serta melibatkan 3 Taman Baca Masyarakat (TBM) dan 3 Perpustakaan Daerah (Provinsi dan Kabupaten).

Temu INOVASI #7: Kolaborasi dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi Siswa Kelas Awal