Temu INOVASI #5: Pemanfaatan bahasa Ibu – Solusi Kabupaten atas Rendahnya Kemampuan Literasi Siswa SD/MI Kelas Awal

Jakarta, 20 Maret 2019 – Badan Penelitan dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud bersama program kemitraan Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) kembali menggelar forum Temu INOVASI yang diselenggarakan dalam semangat memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional (21 Februari). Mengusung tema “Pemanfaatan Bahasa Ibu: Solusi Lokal Peningkatan Kemampuan Literasi Siswa SD Kelas Awal”, forum diskusi pendidikan ini menyajikan perspektif nasional dan daerah – dari guru di Provinsi NTB (Kabupaten Bima) dan NTT (Kabupaten Sumba Barat Daya dan Sumba Timur), Wakil Bupati Bima, praktisi dan penggiat pendidikan seperti Sulinama dan Suluh Insan Lestari (SIL), UNICEF, serta Ketua Satgas Gerakan Literasi Sekolah.

Indonesia memiliki lebih dari 600 bahasa daerah (652 menurut data Badan Pengembangan & Pembinaan Bahasa, Kemendikbud, 2017) yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa pemersatu bangsa memiliki peran yang sangat strategis di samping mempertahankan bahasa-bahasa di daerah. Di dunia pendidikan, konstitusi mengizinkan bahasa Ibu digunakan di dalam dunia pendidikan – dalam artian sebagai pendukung dalam kegiatan belajar mengajar di kelas awal – namun kemampuan guru untuk memanfaatkannya dalam metode mengajar di kelas masih perlu ditingkatkan. Jika penguasaan siswa terhadap bahasa pengantar pembelajaran rendah, hal ini akan berdampak pada hasil belajar.

Tantangan di Daerah

Melalui program INOVASI, pemerintah Indonesia dan Australia menjalin kemitraan untuk lebih memahami dan mengatasi tantangan belajar di kelas-kelas awal pendidikan dasar, khususnya yang berkaitan dengan kemampuan literasi dan numerasi siswa. Pada tahun 2017 hingga 2018, INOVASI melalui program rintisannya di NTB, NTT, Kalimantan Utara dan Jawa Timur mengidentifikasi empat hambatan utama dalam meningkatkan hasil belajar literasi siswa, yaitu: (1) Pengetahuan dan keterampilan profesional guru untuk mengajar membaca di kelas awal perlu ditingkatkan; (2) Kesenjangan kemampuan membaca antar siswa di kelas awal. Kurikulum berasumsi bahwa semua anak sudah bisa membaca ketika mereka masuk kelas 1 SD/MI; (3) Akses ke buku bacaan berjenjang yang menarik dan sesuai usia masih terbatas; dan kompetensi guru tentang cara menggunakan buku bacaan berjenjang masih perlu ditingkatkan; dan (4) Sebagian besar anak yang masuk sekolah (terutama di daerah terpencil) menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibu, dan belum menguasai bahasa Indonesia.

Dalam hal metode pembelajaran multibahasa, keragaman bahasa diidentifikasi sebagai tantangan utama dalam kegiatan belajar yang efektif, di mana sebagian besar anak-anak yang berada di daerah terpencil dan pedesaan (terutama Indonesia Timur) memulai pendidikan di sekolah dengan penguasaan bahasa Indonesia yang terbatas. Di lain sisi, semua buku teks dan bahan bacaan siswa  tersedia dalam bahasa Indonesia. Ini menempatkan anak-anak pada posisi yang tidak menguntungkan – anak-anak memiliki hambatan yang lebih besar dalam belajar.

Bahasa ibu adalah bahasa yang dipelajari secara informal sejak lahir oleh seseorang, dan merupakan bahasa yang paling sering digunakan di rumah. Biasanya seorang anak belajar dasar-dasar bahasa pertama mereka dari keluarga mereka, terutama dari Ibu. Di lokasi-lokasi pelaksanaan program rintisan (pilot) INOVASI yang fokus pada pembelajaran multibahasa berbasis bahasa Ibu, hasil studi baseline yang dilakukan INOVASI tahun 2018 terhadap sejumlah anak di Kabupaten Bima (589), Sumba Barat Daya (750) dan Sumba Timur (161) menemukan bahwa: 92% anak-anak di Bima, 69% anak-anak di Sumba Barat Daya, dan 83% anak-anak di Sumba Timur menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa Ibu di rumah (dengan bahasa Mbojo sebagai bahasa yang paling dominan digunakan di Bima, bahasa Kodi di Sumba Barat Daya, dan bahasa Kambera di Sumba Timur).

Terkait dengan hasil belajar siswa berdasarkan bahasa yang sering digunakan di rumah, hasil studi INOVASI di tiga kabupaten tersebut menemukan bahwa persentase siswa yang lulus tes kemampuan literasi dasar cenderung lebih tinggi pada anak-anak yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa Ibu (grafik 1). Tes kemampuan literasi dasar terdiri dari tes pengenalan huruf, pengenalan suku kata, dan pengenalan kata.

Hasil yang sama juga ditemukan pada nilai tes komprehensif bahasa Indonesia dan Matematika (lihat grafik 2). Tes komprehensif diberikan kepada siswa yang berhasil lulus tes literasi dan matematika dasar. Menggunakan metode regresi logistik, dengan mengontrol berbagai variabel yang relevan dengan nilai siswa, studi INOVASI tersebut juga menemukan bahwa siswa yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa Ibu memiliki peluang lebih tinggi untuk lulus tes kemampuan literasi dasar – sebesar 25%(di Bima), 22% (di Sumba Barat Daya) dan 12% (di Sumba Timur).

Solusi Lokal untuk Tantangan Lokal

Bahasa Ibu menjadi penting di dalam pembelajaran di kelas karena setiap anak memiliki hubungan dekat dengan bahasa ibunya secara kebahasaan, kognitif (berpikir), dan emosional. Keterampilan berpikir dapat diperoleh ketika siswa belajar dalam bahasa Ibu. Hal ini memudahkan siswa dalam memahami pelajaran yang disampaikan dalam bahasa Indonesia – karena mereka sudah menguasai konsepnya dalam bahasa Ibu, artinya konsep tersebut ditransfer ketika belajar dalam bahasa Indonesia (misal, pengetahuan tentang bentuk). Dengan demikian, pembelajaran dalam bahasa Ibu dapat bermanfaat sebagai jembatan bahasa bagi siswa. Ini berlaku universal.

“Untuk mengatasi tantangan penggunaan bahasa Ibu di dalam kelas dan memanfaatkannya untuk bertransisi ke Bahasa Indonesia, program INOVASI yang dilaksanakan di Bima dan di Sumba Timur dan Sumba Barat Daya berupaya membantu meningkatkan kapasitas guru dan kualitas pembelajaran siswa, dan mengeksplorasi strategi transisi bahasa pengantar guna pembelajaran yang efektif. Kami pun telah melihat perubahan positif yang terjadi, seperti meningkatnya pengetahuan dan keterampilan mengajar para guru di sekolah dampingan,” jelas Michelle Lowe, Counsellor for Human Development dari Kedutaan Besar Australia Jakarta.

Di Kabupaten Bima, Sumba Timur, dan Sumba Barat Daya, INOVASI berupaya untuk mengatasi tantangan pembelajaran melalui program rintisan peningkatan kemampuan literasi siswa yang berfokus pada pengajaran multi-bahasa, dengan pendekatan yang sesuai konteks di masing-masing kabupaten. Satu tujuan yang ingin diraih melalui program-program rintisan tersebut adalah mendorong guru dalam menggunakan cara-cara transisi bahasa pengantar pembelajaran secara lebih efektif, agar anak didiknya mampu menguasai materi pelajaran yang disampaikan di kelas.

Sementara itu, di berbagai kesempatan Kepala Balitbang Kemendikbud, Totok Suprayitno, menggarisbawahi bahwa wujud nyata dari pelaksanaan program INOVASI nantinya akan tampak dalam proses belajar mengajar di kelas, bukan dalam bentuk mendikte, namun lebih dengan menggali potensi lokal sehingga dapat menemukan pola pengajaran yang cocok bagi anak. Program ini menggunakan pendekatan yang bertujuan untuk menemukan cara-cara yang pas sesuai konteks lokal dalam meningkatkan keterampilan literasi dan numerasi siswa – solusi yang sesuai dengan potensi lokal untuk mengatasi tantangan pembelajaran di daerah.

* * *

Temu INOVASI #5: Pemanfaatan bahasa Ibu – Solusi Kabupaten atas Rendahnya Kemampuan Literasi Siswa SD/MI Kelas Awal