Mendorong Budaya Baca Anak Indonesia

Badan Penelitan dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud bersama program kemitraan Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) kembali menggelar forum diskusi Temu INOVASI yang diselenggarakan dalam rangka Hari Anak Nasional. Mengusung tema “Mendorong Minat Baca Anak Indonesia”, forum ini menyajikan perspektif nasional dan daerah – dalam ini praktik baik pembelajaran dan peningkatan budaya baca siswa dengan menghadirkan  guru dan tenaga kependidikan dari Kalimantan Utara, juga perwakilan pemerintah daerah serta Bunda Baca Provinsi Kalimantan Utara.

Kondisi Indonesia yang sangat heterogen merupakan modal sekaligus tantangan bagi pembangunan pendidikan  di setiap daerah. Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)  terus memberikan dukungan kepada dinas pendidikan provinsi dan dinas pendidikan kabupaten/kota. Salah satu upaya Kemendikbud untuk meningkatkan mutu hasil pembelajaran siswa di berbagai daerah adalah berupa kerjasama bilateral (2016–2019) dengan Pemerintah Australia melalui kemitraan Program INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia) yang fokus pada peningkatan literasi, numerasi dan inklusi.

Di Kalimantan Utara yang merupakan satu dari empat provinsi mitra INOVASI, implementasi program yang berlangsung di Kabupaten Bulungan dan Malinau memiliki tiga fokus utama dalam meningkatkan kemampuan literasi di kelas awal. Pertama adalah mengembangkan kompetensi guru; kedua adalah membudayakan membaca; dan ketiga adalah memberikan layanan khusus kepada anak yang lamban belajar.

Membaca merupakan jendela dunia. Lewat membaca buku, banyak ilmu pengetahuan yang bisa diperoleh, wawasan pun semakin luas, selain itu berbagai hal baru pun juga bisa diperoleh melalui membaca buku. Menurut Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, Hamid Muhammad, anak-anak harus dilatih untuk menyukai membaca. Hal ini karena dengan membaca maka pintu ilmu, pengalaman, dan segala hal yang berkembang di seluruh dunia ini akan diketahui oleh anak-anak. Sehingga membaca menjadi suatu kewajiban.

 

Tantangan saat ini

Budaya membaca dan literasi masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Tingkat keterampilan membaca anak-anak Indonesia, terutama untuk kategori kelas awal yakni kelas 1-3 sekolah dasar masih rendah. Berdasarkan hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) [1] Puspendik Kemendikbud tahun 2016, 46.83% pelajar kelas 4 SD tergolong kurang mampu membaca.

Khusus di Kalimantan Utara, hasil AKSI menemukan bahwa nilai rata-rata kemampuan membaca siswa kelas 4 SD berada dua poin di bawah nilai rata-rata nasional. Pendalaman yang dilakukan INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia) terhadap hasil AKSI di Kaltara – melalui kegiatan Rapid Participatory Situation Analysis (RPSA)[2], menemukan bahwa salah satu masalah utama dalam meningkatkan keterampilan membaca anak adalah tidak tersedianya buku bacaan yang menarik. RPSA merekomendasikan perlunya penyediaan buku menarik dan waktu membaca dengan bimbingan guru.

Rekomendasi RPSA kemudian diperkuat dengan hasil survei Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (SIPPI)[3] di Kaltara yang menemukan bahwa 85% siswa kelas awal suka membaca buku. Namun, 68% menyatakan bahwa buku yang dibaca adalah buku pelajaran, dan 17% membaca buku cerita dan lainnya. Survei ini melibatkan 540 siswa di 20 SD di Bulungan dan Malinau.

 

Upaya untuk mendorong budaya membaca

Dalam hal kemampuan membaca, di dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti tercantum kewajiban menjalankan kegiatan membaca buku selain buku mata pelajaran selama 15 menit setiap hari. Perubahan budaya literasi di sekolah memang menjadi salah satu output yang menjadi target Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dari implementasi Kurikulum 2013 tahun ini. Contoh perubahan pada budaya literasi di sekolah adalah guru dapat menargetkan siswanya untuk menuntaskan 4-5 buku bacaan per tahun.

Peta Literasi Nasional pun tengah disiapkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikbud dalam rangka menyukseskan Gerakan Literasi Nasional (GLN). Ini merupakan kajian teknis penyusunan kebijakan pengembangan literasi nasional. Data dan informasi yang akurat terkait capaian tingkat literasi rata-rata nasional tentunya diperlukan GLN, khususnya terkait literasi siswa. Seperti yang dikatakan Kepala Badan Bahasa, Dadang Sunendar, identifikasi bersama berbagai permasalahan literasi nasional perlu untuk dilakukan, termasuk identifikasi daerah yang masih lemah dalam hal literasi. GLN juga akan melakukan inventarisasi program-program yang telah dilakukan dan program konkret yang akan dilakukan.

Sebagai respon untuk menjalankan Gerakan Literasi Sekolah (GLS), Di Kalimantan Utara misalnya, Kabupaten Bulungan menjadi daerah pertama di Indonesia yang memasukan suplai buku bacaan anak ke dalam komponen BOSDA (Biaya Operasional Sekolah Daerah). Setiap sekolah diharuskan menyajikan lebih banyak buku seperti novel, buku cerita, komik, sejarah, sastra dan pengetahuan umum, dan terutama buku bacaan yang sesuai dengan siswa kelas awal. Sekolah wajib membelanjakan anggaran BOSDA untuk menyediakan paling sedikit 5 buku baru dengan 5 judul berbeda setiap tahun, memperluas kesempatan anak untuk membaca buku. Tim pengawal literasi pun dibentuk yang bertanggung jawab memonitoring implementasi program GLS di semua sekolah. Salah satu tugas penting tim adalah menilai dan merekomendasikan buku-buku yang sesuai dengan budaya, norma dan usia anak. INOVASI bersama Satuan Tugas GLS Kemendikbud akan melatih tim tersebut agar mampu mengimplementasikan program literasi dengan baik.

Pada berbagai kesempatan, Kepala Balitbang Kemendikbud menggarisbawahi bahwa wujud nyata dari pelaksanaan program INOVASI nantinya akan tampak dalam proses belajar mengajar di kelas, bukan dalam bentuk mendikte, namun lebih dengan menggali potensi lokal sehingga dapat menemukan pola pengajaran yang cocok bagi anak. Program ini menggunakan pendekatan yang bertujuan untuk menemukan cara-cara yang pas sesuai konteks lokal dalam meningkatkan keterampilan literasi dan numerasi siswa – solusi yang sesuai dengan potensi lokal untuk mengatasi tantangan pembelajaran di daerah.

Baca profil singkat guru-guru yang menjadi narasumber di acara Temu INOVASI di sini.

[1] https://puspendik.kemdikbud.go.id/inap-sd/

[2] Rapid Participatory Situation Analysis (RPSA) dilakukan di empat Kabupaten di Kaltara (Bulungan, Malinau, Nunukan dan Tana Tidung) oleh Program INOVASI pada 2017. http://www.inovasi.or.id/id/publication/infografik-analisis-situasi-partisipatif-cepat-rpsa-untuk-dukungan-pembelajaran-provinsi-kalimantan-utara/

[3] Survey Inovasi Pembelajaran dan Pendidikan Indonesia (SIPPI) dilakukan oleh INOVASI mulai 19 November – 13 Desember 2017 dengan melibatkan 20 SD dan siswa 562 siswa kelas 1,2 dan 3 di Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Malinau.

Mendorong Budaya Baca Anak Indonesia